jelajahhutan.com

Let's the journey begin!

Baca Juga

Foto BMKG
BENGKULU - Bumi Rafflesia merupakan juluk provinsi yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, Bengkulu. Provinsi yang memiliki 10 kabupaten/kota ini masuk dalam zona merah rawan bencana gempa bumi berdampak gelombang tsunami.

Di mana tujuh dari 10 kabupaten/kota di provinsi ini berada di pesisir barat sumatera ini rawan terjangan gempa yang berpotensi gelombang tsunami.

Tujuh daerah itu, kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan, kabupaten Seluma, Kota Bengkulu, kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara dan kabupaten Mukomuko.

Mitigasi dalam menghadapi bencana pun telah dilakukan pemerintah provinsi (pemprov), pemerintah kota (pemkot) dan pemerintah kabupaten (pemkab), TNI, badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dan BMKG.

Pembukaan jalur evakuasi bencana, membentuk desa tangguh bencana (Destana) serta relawan tanggap bencana, contohnya. Mitigasi tersebut merupakan salah satu #Budaya Sadar Bencana untuk masyarakat Bengkulu.
Pembukaan jalan evakuasi. Foto Dok jelajahhutan.com
Cerita Korban Dampak Bencana Gempa di Bengkulu
Daerah RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu kota Bengkulu provinsi Bengkulu menjadi kawasan titik kumpul ketika terjadi bencana gempa berdampak tsunami. Tidak hanya, masyarakat se-kelurahan Padang Serai.

Namun, masyarakat dari desa Arau Bintang dan Riak Siabun kabupaten Seluma provinsi Bengkulu serta masyarakat kelurahan Teluk Sepang juga mengungsi ke RT 16. Di mana daerah ini memiliki ketinggian 13 meter dari permukaan laut (Mdpl).

Hari itu, Cuaca di Kota Bengkulu, cerah berawan. Termasuk di kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. RT 16 RW 04, tepatnya. Masyarakat di daerah ini sibuk beraktivitas. Pergi ke kebun, misalnya.

Daerah yang berada diujung kelurahan Padang Serai ini terdapat satu lokasi titik kumpul. Lapangan sepak bola RT 16 Rw 04, lokasinya. Tak jauh dari lokasi lapangan titik kumpul, berdiri sebuah bangunan rumah permanen.

Rumah itu dihuni Ketua RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu kota Bengkulu, Suyanto (50), beserta istri dan anaknya. Berjarak sekira 20 meter dari rumah itu terdapat jalur evakuasi bencana. Baru selesai dibangun prajurit TNI-AD.

Jalan evakuasi dengan lebar badan jalan 8 meter itu di bangun sejak 10 Juli 2019 hingga 8 Agustus 2019. Panjangnya mencapai 1,4 KM, nyaris 1,5 KM dalam bentuk batu koral yang sudah dipadatkan.

Pagi itu, Suyanto sedang duduk diteras rumahnya, santai. Di atas kursi yang terbuat dari kayu, memanjang. Didepannya terdapat satu buah meja berukuran 1x2,5 meter. Dia mengenakan baju kaos berkerah dengan perpaduan berbagai warna gelap.

Pria kelahiran 50 tahun silam itu masih ingat betul kejadian bencana yang menerjang Bengkulu, gempa berpotensi tsunami. Pada tahun 2003, 2007 dan 2010.

Pria yang sudah dipercaya menjabat lima periode ketua RT ini mengulas, saat terjadi bencana gempa di RT 16 menjadi kawasan titik kumpul masyarakat dari berbagai kelurahan di kecamatan Kampung Melayu.

Pada Rabu 12 September 2007, gempa dengan kekuatan Mw=8,4 menerjang Bengkulu. Waktu itu warga RT 1 hingga 21 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu, mengungsi ke RT yang dia pimpin ini.

Tidak hanya itu, masyarakat dari desa Arau Bintang dan Riak Siabun Kabupaten Seluma serta masyarakat kelurahan Teluk Sepang kecamatan Kampung Melayu juga mengungsi ke RT 16.

Saat terjadi bencana 2007, salah satu ibu rumah tangga (IRT) kelurahan Padang Serai, sempat kehilangan anak dalam kandungannya. Di mana saat itu IRT tersebut sedang dalam keadaan hamil tua.

Anak dalam kandungan ibu hamil itu meninggal dunia ketika ingin di evakuasi ke titik kumpul. Di mana pada tahun itu jalan evakuasi sangat buruk untuk dilewati sehingga mengorbankan anak dalam kandungan ibu hamil.

''Saya ingat ada ibu-ibu hamil tua, anak dalam kandungannya meninggal saat di evakuasi ke titik kumpul. Waktu itu jalan evakuasi masih buruk dan tidak layak untuk di lintasi. Kejadiannya waktu gempa 2007 lalu,'' cerita pria berkulit gelap ini.

Suyanto juga ingat ketika di RT 16, dijadikan lokasi tempat pengungsian ketika bencana gempa 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Pada tahun itu juga terdapat korban jiwa. Salah satu IRT dari Arau Bintang kabupaten Seluma, yang sedang hamil tua.

IRT itu kehilangan anak dalam kandungannya. Ketika di evakuasi di jalur evakuasi dengan jalan yang masih dalam keadaan buruk. Saat itu IRT tersebut terjatuh. Sehingga anak dalam kandungannya meninggal dunia.

Jalur evakuasi merupakan salah satu sarana yang sangat penting bagi masyarakat ketika terjadi bencana alam, gempa bumi berpotensi tsunami.

Pria berambut pendek ini mengatakan, pembukaan jalur evakuasi di RT 16 merupakan salah satu upaya untuk memperlancar sarana masyarakat dari berbagai kelurahan. Terutama ketika terjadi bencana, jalur evakuasi sudah ada dan dalam keadaan siap.

Di RT 16, kata Suyanto, dihuni 62 kepala keluarga (KK). Sementara se kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu didiami oleh sekira 4.000 jiwa, yang tersebar di RT 1 hingga RT 21 RW 04.

''Jalur evakuasi bencana melalui TMMD ke 105 ini, sangat mendukung ketika terjadi bencana. Tentu, jalur ini dapat menyelamatkan jiwa masyarakat yang ingin mengungsi ke titik kumpul di RT 16,'' terang Suyanto.

Di RT ini juga telah disiapkan peralatan dan perlengkapan ketika terjadi bencana alam, gempa. Mulai dari tenda posko, tenda pengungsian, alat masak, slipingbad. Peralatan tersebut disiapkan di rumah ketua RT 16, dalam keadaan standby.

Selain memiliki lahan titik kumpul berupa lapangan sepak bola. Suyanto mengatakan, di daerahnya juga dapat dijadikan lokasi pengungsian warga yang mampu menampung 4.000 warga. Bahkan, lebih.

Di mana luas lahan untuk pengungsian itu tidak kurang dari 10 hektare (Ha). Lahan itu dengan memanfaatkan areal perkarangan warga setempat.

''Kami juga sudah ada peralatan dan perlengkapan pengungsian. Tenda posko, tenda pengungsian, alat masak, selimut, slipingbad. Peralatan itu siap digunakan ketika terjadi bencana alam. Itu bantuan dari kementerian sosial,'' kata dia, sembari menunjukkan peralatan dan perlengkapan di samping rumahnya.
RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. Foto Dok Jelajahhutan.com
Pembukaan Jalur Evakuasi Bencana
Dalam menghadapi bencana, musti adanya mitigasi sejak dini. Seperti halnya, pembukaan jalur evakuasi bencana.

Di mana pembukaan jalur evakuasi bencana ini salah satu upaya #Mengenali Ancaman serta #Menyiapkan Strategi ketika bencana yang melanda sewaktu-waktu agar masyarakat ''Siap untuk Selamat''.

Jalur evakuasi bencana itu di bangun di RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu kota Bengkulu, dengan panjang tidak kurang dari 1,4 kilometer (KM).

Jalur itu merupakan penghubung kelurahan Padang Serai ke kelurahan Sumber Jaya kecamatan Kampung Melayu serta kelurahan Bumi Ayu dan kelurahan Betungan kecamatan Selebar Kota Bengkulu.

Jalur evakuasi serta jalur pemasok logistik ketika terjadi bencana gempa berpotensi tsunami itu dikerjakan prajurit TNI-AD.

Di mana pembuatan jalur evakuasi tersebut salah satu bentuk kesiap-siagaan masyarakat di Kota Bengkulu, khususnya masyarakat RT 1 hingga 21 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu.

Pembukaan jalur evakuasi bencana itu merupakan jaln untuk menuju titik kumpul yang terdapat di RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu.

''RT kami (RT 16) menjadi salah satu lokasi titik kumpul ketika terjadi gempa berpotensi tsunami. Khususnya warga di kecamatan Kampung Melayu,'' kata Ketua RT 16 Rw 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu kota Bengkulu provinsi Bengkulu, Suyanto (50), ketika ditemui di rumahnya.

Bentuk Destana dan Relawan Tangggap Bencana
Selain membuka jalur evakuasi, di provinsi yang dihuni 1,9 juta jiwa penduduk ini juga membentuk desa tangguh bencana (Destana) dan relawan tanggap bencana.

Di mana hal tersebut merupakan salah satu bentuk #Budaya Sadar Bencana yang diterapkan badan penanggulan bencana daerah (BPBD) provinsi Bengkulu untuk masyarakat yang rawan terdampak bencana alam.

Destana dan relawan tanggap bencana tersebut dibentuk didua daerah. Yakni, di desa Air Buluh kecamatan Ipuh kabupaten Mukomuko dan desa Kota Bani kecamatan Putri Hijau kabupaten Bengkulu.

Lalu, relawan tanggap bencana dibentuk setiap desa dengan melibatkan 1500 orang dari setiap desa.

Di mana pembentukkan tersebut tidak lain untuk mitigasi bencana guna mengurangi resiko akibat bencana serta mengurangi korban jiwa ketika terjadi bencana alam.

''Ilmu menghadapi bencana ini sangat penting, untuk itu semua pihak mulai dari pemerintahan, pengusaha hingga masyarakat harus berperan aktif,'' kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bengkuku Rusdi Bakar, Selasa 27 Agustus 2019.

Dilanjutkan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bengkulu Utara, Supadi mengatakan, pembentukan Destana dan relawan tanggap bencana setidaknya dapat berperan aktif ketika terjadi bencana alam.

''Bengkulu Utara salah satu daerah yang masuk rawan bencana,'' jelas Supadi.

Ditambahkan Kepala Bidang Pra Bencana BPBD provinsi Bengkulu, Samsudin, dalam pembentukan Destana dan relawan tanggap bencana tentu masyarakat diberikan pelatihan hingga simulasi bencana alam.

''Tujuannya agar masyarakat di desa siap tanggap tangguh dan tangkas dalam menghadapi bencana,'' sampai Samsudin.
Foto BMKG
Dua Segmen Subduksi ''Kepung'' Bengkulu
Bengkulu suatu daerah dengan tatanan tektonik atau lempeng luas yang memiliki mekanisme pergerakan rata-rata sesar naik. Sehingga provinsi yang dihuni tidak kurang dari 1,9 juta ini sering di landa banyak gempa besar dengan kedalam dangkal.

Merujuk peta sumber dan bahaya gempa Indonesia tahun 2017, khusus Bengkulu setidaknya terdapat dua segmen subduksi. Megathrust Mentawai-Pagai dan megathrust Enggano, namanya.

Dua segmen tersebut menjadi generator utama untuk gempa-gempa megathrust di wilayah Bengkulu. Di mana setiap segmen memiliki potensi kekuatan gempa maksimum yang berbeda.

Pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, kekuatan maksimum gempa wilayah ini mencapai M=8.9. Sementara pada segmen Enggano kekuatan maksimum-nya sedikit lebih kecil, M=8.4.

''Bengkulu sering di landa gempa karena terdapat dua segmen subduksi megathrust,'' kata PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah.
Foto BMKG
Catatan Gempa Besar di Bengkulu
Bengkulu sempat di landa gempa berkekuatan dahsyat. Pada Minggu 4 Juni 2000, dengan kekuatan Mw=7,9. Kemudian, pada Rabu 12 September 2007, dengan kekuatan Mw=8,4. Dua gempa besar tersebut berlokasi relatif berdekatan.

Namun, pada dasar gempa itu dibangkitkan segmen megathrust yang berbeda. Di mana gempa pada Minggu 4 Juni 2000, disebabkan megathrust Enggano. Sementara gempa pada Rabu 12 September 2007 dibangkitkan megathrust Mentawai-Pagai.

Segmen Enggano, sampai PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah, sejak tahun 2000 hingga 2019 belum ada gempa besar M>7,0 yang terjadi pada segmen tersebut.

Meskpun demikian, aktivitas segmen Enggano tetap tinggi. Buktinya, adanya rekaman gempa-gempa kecil yang tercatat di BMKG Kepahiang. Sehingga segmen ini terus melepaskan energi sepanjang waktu dalam bentuk gempa-gempa kecil.

Sementara pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, sambung Sabar, selain gempa pada Rabu 12 September 2007, gempa besar terakhir terjadi pada Senin 25 Oktober 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Gempa ini diikuti gelombang tsunami dan menelan banyak korban jiwa.

''Secara langsung gempa 2010, memang tidak berdampak pada daerah Bengkulu. Namun getaran gempa dirasakan cukup kuat di beberapa daerah seperti Mukomuko, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu,'' sampai Sabar.

Berdasarkan catatan sejarah gempa di masa lalu, zona megathrust Mentawai-Pagai pernah mencatat sejarah kelam dengan terjadi gempa dahsyat pada tahun 1883, dengan kekuatan M=9,0.

Dampaknya, tidak hanya sekitar wilayah Sumatera Barat, melainkan wilayah lain ikut terdampak. Seperti, Bengkulu. Dampak gempa tersebut menimbulkan gelombang tsunami di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''.

Sabar menyampaikan, akhir-akhir ini segmen Mentawai-Pagai kembali menunjukkan eksistensinya. Pada Sabtu 2 Februari 2019, terjadi gempa dengan kekuatan M=6,1 pada bagian paling utara segmen ini.

Intensitas gempa maksimum mencapai IV-V MMI dirasakan di Mentawai. Intensitas IV-V MMI ini berpotensi mengakibatkan kerusakan pada perabot rumah tangga. Frekuansi gempa susulannya pun cukup tinggi, dalam tiga hari gempa susulan mencapai 116 kali.

''Gempa itu dirasakan di beberapa tempat di Provinsi Bengkulu. Seperti Mukomuko, Kota Bengkulu bahkan hingga ke Kabupaten Kepahiang,'' sampai Sabar.
Foto BMKG
Ratusan Daerah Masuk Zona Merah Rawan Tsunami
Sebanyak 205 desa/kelurahan dari 41 kecamatan di provinsi Bengkulu, masuk zona merah rawan bencana gempa bumi yang memicu gelombang tsunami. Ratusan daerah itu terdapat di sepanjang pesisir pantai barat sumatera.

Mulai dari perbatasan dengan provinsi Lampung hingga perbatasan dengan provinsi Sumatera Barat. Di kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan, Seluma, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, kabupaten Mukomuko dan Kota Bengkulu.   

Kepala Bidang (Kabid) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu, Syamsudin mengatakan, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana terdapat 205 desa/kelurahan tersebar di 41 kecamatan di Bengkulu, masuk dalam zona merah gempa yang berdampak gelombang tsunami.

''Itu berdasarkan analisis peta wilayah. Kalau data kita berdasarkan data laporan  dari kabupaten dan kota,'' kata Syamsudin, ketika dihubungi.

Untuk di Kabupaten Mukomuko terdapat 25 desa dari 7 kecamatan yang rawan terkena dampak tsunami. Di Bengkulu Utara, terdapat di 7 kecamatan dengan rawan terdampak tsunami 36 desa. Lalu, di Seluma, tersebar di 7 kecamatan tersebar di 23 desa.

Kemudian, di kabupaten Bengkulu Selatan, terdapat di 6 kecamatan tersebar di 23 desa, di Bengkulu Tengah terdapat 1 kecamatan dengan meliputi 4 desa.

Selanjutnya, di Kaur terdapat 7 kecamatan tersebar di 72 desa. Selanjutnya, di Kota Bengkulu, terdapat di 6 kecamatan tersebar di 22 kelurahan. 

Ditambahkan Kasubid Tanggap Darurat BPBD Provinsi Bengkulu, Cevy Afandi, zona merah gempa berdampak gelombang tsunami terdapat di daerah pesisir pantai dari kabupaten Kaur hingga kabupaten Mukomuko.

Di mana setiap desa dan kecamatan yang rawan bencana, sudah ada pemasangan rambu-rambu evakuasi untuk titik kumpul. Selain itu, kategori desa dan kelurahan rawan bencana tsunami merupakan desa/kelurahan yang berbatasan langsung dengan pantai, sehingga desa tersebut dianggap rawan terkena dampak tsunami.

''Ada 7 kabupaten/kota di Bengkulu yang berada di pesisir pantai barat Sumatera,''  tambah Cevy.

BMKG Bangun Lima Shelter InaTEWS dan CCTV
Potensi gempa diiringi gelombang tsunmai di daerah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia ini tentu menjadi perhatian segala pihak pemerintah.
Dari BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, membangun lima shelter penjaringan perapatan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).

Shelter InaTEWS di bangun diempat daerah di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''. Dari perbatasan Bengkulu - Sumatera Barat hingga perbatasan Bengkulu - Lampung. Seperti, di kabupaten Mukomuko, Bengkulu Utara, Seluma dan kabupaten Kaur. 

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang Bengkulu, Litman mengatakan, Shelter InaTEWS dilengkapi seismograf atau alat untuk mengukur gempa atau getaran yang terjadi pada permukaan bumi.

Pemasangan seismograf tersebut, sampai Litman, di Mukomuko di bangun satu unit bangunan shelter. Tepatnya, kawasan rumah karyawan PT. Agro Muko di kecamatan Air Dikit.

Di Bengkulu Utara di bangun dua unit, di desa Padang Jaya dan desa Marga Sakti Kecamatan Padang Jaya. Lalu, di kantor camat Ulu Talo kabupaten Seluma, satu unit. Di desa Bukit Makmur kecamatan Muara Sahung kabupaten Kaur, di bangun satu unit shelter.

Bangunan shelter, terang Litman, secara keseluruhan menggunakan lahan dari pemerintah dan swasta. Bangunan setiap shelter tersebut berukuran 4x4 meter. Selain Seismograf, nantinya di shelter juga terdapat satu unit antena parabola.

''Pembangunan shelter InaTEWS di Bengkulu akan di bangunan tahun ini (2019). Saat ini sedang dalam proses. Ditargetkan pada November 2019, bangunan serta perlengkapan dan peralatan sudah siap,'' kata Litman.

Tidak hanya shelter, lanjut Litman, BMKG juga akan memasang satu unit kamera Closed-circuit television (CCTV) pemantau gelombang tsunami di kabupaten Mukomuko. Persisnya di areal pos TNI-AL Mukomuko.

Alat seismograf maupun CCTV yang terpasang tersebut nantinya terkoneksi dengan BMKG Pusat. Hal tersebut untuk mengetahui secara langsung ketika gempa yang berdampak tsunami melanda di wilayah Bengkulu.

''Satu CCTV di pasang di daerah Mukomuko. CCTV itu untuk memantau ketika gempa berpotensi tsunami terjadi di Mukomuko,'' terang Litman.
Intensity Meter Dipasang di 15 Titik di Bengkulu . Foto Dok jelajahhutan.com
Intensity Meter Dipasang di 15 Titik di Bengkulu
Kerawanan gempa berpotensi memicu gelombang tsunami di Bengkulu, BMKG Pusat, BMKG Kepahiang Bengkulu dibantu teknisi dari PT Bita Enarcon Engineering memasang 15 unit Intensity Meter di 15 titik di Kota Bengkulu.

Alat yang digunakan untuk mengetahui intensitas gempa bumi dan untuk mengukur tingkat kerusakan, akibat gempa bumi dalam satuan Modified Mercalli Intensity (MMI) tersebut merupakan bantuan hibah dari pemerintah Jepang melalui JICA.

Kepala Bidang Seismologi Teknik BMKG Pusat, Dadang Permana mengatakan, alat untuk mendeteksi tingkat guncangan gempa skala MMI. Dari I MMI hingga XII MMI.

Di mana saat gempa terjadi Intensity Meter langsung terkoneksi secara langsung dan akan terlihat di alat digitizer pada Intensity Meter yang sebelumnya telah terpadang di daerah-daerah.

Di digitizer pada Intensity Meter akan muncul skala intensitas, I-II MMI getaran tidak dirasakan atau dirasakan hanya oleh beberapa orang tetapi terekam oleh alat. Di digitizer akan muncul warna putih.

Sementara jika pada digitizer pada Intensity Meter berwarna hijau atau III-V MMI getaran gempa dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar.

Kemudian, jika warna kuning muncul di alat digitizer pada Intensity Mete atau VI MMI, bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan ringan, seperti retak rambut pada dinding, genteng bergeser ke bawah dan sebagian berjatuhan.

Lalu, VII - VIII MMI atau muncul berwarna jingga di alat digitizer pada Intensity Meter, gempa yang terjadi menyebabkan banyak retakan terjadi pada dinding bangunan sederhana, sebagian roboh, kaca pecah.

Sebagian plester dinding lepas. Hampir sebagian besar genteng bergeser ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan mengalami kerusakan ringan sampai sedang.

Selanjutnya, jika di alat digitizer pada Intensity Meter berwarna merah atau IX-XII MMI, getaran gempa tersebut menyebabkan sebagian besar dinding bangunan permanen roboh. Struktur bangunan mengalami kerusakan berat, rel kereta api melengkung.

''Getaran gempa yang terjadi akan terekam di alat digitizer pada Intensity Meter,'' kata Dadang.

Alat digitizer pada Intensity Meter di Kota Bengkulu, sampai Dadang, langsung masuk ke server BMKG Pusat dalam hitungan menit. Selain itu, laporan alat digitizer pada Intensity Meter yang terkoneksi akan terlihat tingkat guncangan gempa yang terjadi di Bengkulu.

Sehingga peta tingkat guncangan shakemap secara otomatis akan masuk selama 20 menit. Peta itu, jelas Dadang, akan melihat kerusakan dampak gempa parah. Dari peta itu BMKG akan menyampaikan ke BNPB, BPBD Provinsi, BPBD kabupaten dan kota tingkat kerusakan terparah di daerah yang terdampak gempa.

''Tujuannya agar di respon cepat BNPB, BPBD provinsi, kabupaten dan kota daerah yang terdampak gempa. Peta kerusakan itu kalau berat akan berwarna merah, jika berwarna kuning rusak ringan, warna jingga rusak sedang,'' jelas Dadang.

''Dengan adanya peta tersebut maka dari BPBD bisa mengambil keputusan cepat untuk men gambil tindakan,'' tambah Dadang.

Intensity Meter, sampai Dadang, tidak hanya mencatat getaran gempa yang terjadi di daerah di Bengkulu. Namun, getaran gempa yang berlokasi atau berpusat di Aceh, Padang Sumatera Barat hingga Lampung pun bisa terdeteksi oleh alat intensity meter yang terpadang di 15 titik di Kota Bengkulu.

''Hanya saja tingkat guncangan gempa yang berlokasi di provinsi lainnya skala MMI yang dirasakan di Bengkulu tidak begitu terasa atau besar. Tapi, intensity meter tetap merekam dan mencatat,'' ujar Dadang.

Terapkan Evakuasi Mandiri sebagai Budaya!
Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan zona seismik aktif, masyarakat Bengkulu musti selalu dan dituntut membudayakan siaga bencana. Secara alamiah baik segmen Mentawai maupun segmen Enggano terus melepas energi gempa baik dalam bentuk gempa kecil maupun gempa besar.

''Sampai saat ini kita belum mampu memprediksi secara akurat, kapan dan berapa besar kekuatan gempa yang akan terjadi,'' tegas PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah.

Seluruh lapisan masyarakat selayaknya harus menyiapkan diri untuk terus meningkatkan upaya mitigasi. Menguasai jalur evakuasi di sekitar lingkungan. Selain itu, masyarakat harus mengerti cara penyelamatan diri saat terjadi gempa kuat yang berdampak pada gelombang tsunami.

Guncangan gempa kuat dan durasi yang cukup lama berkisar 20 detik sebagai peringatan dini dari alam. Beberapa kasus, jelas Sabar, ada gempa yang tidak dirasakan kuat, namun dengan durasi yang cukup lama sekira >60 detik dapat menjadi tanda gempa besar yang dapat memicu gelombang tsunami. Seperti, tsunami Mentawai 2010.

''Evakuasi mandiri harus menjadi budaya yang tertanam sejak dini,'' imbau Sabar.

Artinya, tambah Sabar, tanpa harus menunggu peringatan resmi dari pemerintah, masyarakat harus segera menjauhi pantai. Saat terjadi gempa kuat dan durasi lama. Sebab, gelombang tsunami datang dalam waktu yang sangat singkat sebelum datangnya peringatan resmi dari pemerintah.

''Jika tsunami benar-benar datang masyarakat sudah aman berada di tempat yang tinggi. Jika gelombang tsunami tidak datang, patut kita syukuri karena dijauhi dari bencana yang lebih besar dan jadikan sebagai latihan evakuasi,'' terang Sabar.

Ditambahkan Sekretaris daerah (Sekda) Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Bengkulu, Nopian Andusti mengatakan, dalam kesiap-siagaan bencana pihaknya menyiapkan kebutuhan logistik di gudang ketika terjadi bencana.

Selain itu, lampu emergency serta kebutuhan lainnya juga dipersiapkan di BPBD provinsi Bengkulu. Tidak hanya itu, dari Pemprov terus berupaya dalam mengedukasi kepada masyarakat ketika terjadi gempa.

''Kesiapsiagaan itu mulai dari logistik serta edukasi kepada masyarakat,'' ujar Nopian.

No comments:

Post a Comment