jelajahhutan.com

Let's the journey begin!

Baca Juga

Foto BMKG Kepahiang.
BENGKULU - Bengkulu satu dari 34 provinsi di Indonesia. Wilayah ini masuk dalam Megathrust. Suatu daerah dengan tatanan tektonik atau lempeng luas yang memiliki mekanisme pergerakan rata-rata, sesar naik. Sehingga provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'' ini sering di landa banyak gempa besar dengan kedalam dangkal.

Dari catatan sejarah gempa, daerah ini di dominasi gempa dengan mekanisme sesar naik. Merujuk peta sumber dan bahaya gempa Indonesia tahun 2017, khusus Bengkulu setidaknya terdapat dua segmen subduksi. Megathrust Mentawai-Pagai dan megathrust Enggano, namanya.

Dua segmen tersebut menjadi generator utama untuk gempa-gempa megathrust di wilayah Bengkulu. Di mana setiap segmen memiliki potensi kekuatan gempa maksimum yang berbeda. Pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, kekuatan maksimum gempa wilayah ini mencapai M=8.9. Sementara pada segmen Enggano kekuatan maksimum-nya sedikit lebih kecil, M=8.4.

''Bengkulu sering di landa gempa karena terdapat dua segmen subduksi megathrust,'' kata PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah, Senin (5/8/2019).

BMKG Kepahiang
Catatan Gempa Besar di Bengkulu
Bengkulu sempat di landa gempa berkekuatan dahsyat. Pada Minggu 4 Juni 2000, dengan kekuatan Mw=7,9. Kemudian, pada Rabu 12 September 2007, dengan kekuatan Mw=8,4. Dua gempa besar tersebut berlokasi relatif berdekatan.

Namun, pada dasar gempa itu dibangkitkan segmen megathrust yang berbeda. Di mana gempa pada Minggu 4 Juni 2000, disebabkan megathrust Enggano. Sementara gempa pada Rabu 12 September 2007 dibangkitkan megathrust Mentawai-Pagai.

Segmen Enggano, sampai Sabar, sejak tahun 2000 hingga 2019 belum ada gempa besar M>7,0 yang terjadi pada segmen tersebut. Meskpun demikian, aktivitas segmen Enggano tetap tinggi. Buktinya, adanya rekaman gempa-gempa kecil yang tercatat di BMKG Kepahiang. Sehingga segmen ini terus melepaskan energi sepanjang waktu dalam bentuk gempa-gempa kecil.

Sementara pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, sambung Sabar, selain gempa pada Rabu 12 September 2007, gempa besar terakhir terjadi pada Senin 25 Oktober 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Gempa ini diikuti gelombang tsunami dan menelan banyak korban jiwa.

''Secara langsung gempa 2010, memang tidak berdampak pada daerah Bengkulu. Namun getaran gempa dirasakan cukup kuat di beberapa daerah seperti Mukomuko, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu,'' sampai Sabar.

Berdasarkan catatan sejarah gempa di masa lalu, jelas Sabar, zona megathrust Mentawai-Pagai ini pernah mencatat sejarah kelam dengan terjadi gempa dahsyat pada tahun 1883, dengan kekuatan M=9,0.

Dampaknya, tidak hanya sekitar wilayah Sumatera Barat, melainkan wilayah lain ikut terdampak. Seperti, Bengkulu. Dampak gempa tersebut menimbulkan gelombang tsunami di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''.

Sabar menyampaikan, akhir-akhir ini segmen Mentawai-Pagai kembali menunjukkan eksistensinya. Pada Sabtu 2 Februari 2019, terjadi gempa dengan kekuatan M=6,1 pada bagian paling utara segmen ini.

Intensitas gempa maksimum mencapai IV-V MMI dirasakan di Mentawai. Intensitas IV-V MMI ini berpotensi mengakibatkan kerusakan pada perabot rumah tangga. Frekuansi gempa susulannya pun cukup tinggi, dalam tiga hari gempa susulan mencapai 116 kali.

''Gempa itu dirasakan di beberapa tempat di Provinsi Bengkulu. Seperti Mukomuko, Kota Bengkulu bahkan hingga ke Kabupaten Kepahiang,'' sampai Sabar.

Foto BMKG Kepahiang
Gempa Dahsyat 'Intai' Bengkulu 
Provinsi dengan julukan ''Bumi Rafflesia'' ini menyimpan potensi gempa bumi berkuaatan ''dahsyat''?. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan daerah Bengkulu memilki potensi gempa bumi berkekuatan M> 7,5. Di mana siklus kegempaan daerah di Bengkulu memasuki periode precursory gap. Hal ini ditandai dengan penurunan aktivitas kegempaan.

Sebelum terjadi gempa bumi utama, terang Sabar, biasanya didahului suatu pola atau siklus kegempaan. Siklus ini meliputi periode normal, periode anomali yang ditandai dengan peningkatan aktivitas. Lalu, periode precursory gap yang ditandai dengan penurunan aktivitas seismik, dan periode terjadinya gempa bumi utama.

Sabar menjelaskan, karakteristik kegempaan daerah Bengkulu, saat ini sejak gempa bumi 12 September 2007 beserta gempa bumi susulan berlangsung cukup lama hingga mencapai akhir tahun 2008. Hal ini dapat di lihat dari aktivitas kegempaan M>4,5 masih tergolong tinggi dengan total event mencapai 133 event pada tahun 2007, dan 100 event pada tahun 2008.

Periode swarm sendiri dimulai sejak 1 Januari 2009 hingga 31 Desember 2011. Dalam waktu dua tahun ini jumlah event M > 4,5 tercatat sebanyak 184 event dengan Mp=6,4. Periode penurunan aktivitas seismik terindikasi sejak 1 Januari 2012 hingga sekarang. Dalam rentang waktu dua tahun itu jumlah event M>4,5, tercatat hanya 11 event. Periode ini dapat diinterpretasikan sebagai periode pengumpulan energi atau akumulasi stress.

''Wilayah Bengkulu saat ini diperkirakan memiliki potensi gempa bumi dengan kekuatan M> 7,5,'' sampai Sabar.

Sabar menyebut, beberapa hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa setelah terjadi gempa bumi 12 September 2007, saat ini di kawasan Bengkulu dalam tahap akumulasi energi.

Seperti, penelitian yang dilakukan Rohadi, jelas Sabar, d mana perhitungan b-value baik secara temporal maupun spasial di seluruh kawasan pantai barat Sumatera periode tahun 1973-2008. Hasilnya, menunjukkan bahwa di wilayah Bengkulu khususnya di wilayah rupture zone gempa bumi, 12 September 2007 memiliki nilai b-value, rendah.

Tidak hanya itu, berdasarkan analisis katalog data gempa bumi periode 1971 hingga 2013 di daerah Bengkulu telah terindikasi adanya pola atau siklus yang teratur sebelum terjadinya gempa bumi utama yang signifikan.

Siklus ini mengikuti pola meliputi periode normal, periode anomali peningkatan seismisitas, periode penurunan aktivitas seismik atau precursory gap dan periode terjadinya gempa bumi utama. Wilayah dengan b-value rendah ini berpeluang terjadinya gempa bumi besar di waktu yang akan datang.

''Karakteristik kegempaan di daerah Bengkulu bisa dijadikan salah satu metode untuk prekursor gempa bumi jangka panjang dalam upaya mitigasi bencana. Siklus kegempaan di daerah Bengkulu saat ini dalam periode precursory gap atau periode penurunan aktivitas seismik,'' jelas Sabar.

''Untuk kapan terjadinya gempa belum dapat di prediksi,'' sambung Sabar.

Sabar menjelaskan, ada beberapa prekursor gempa bumi. Seperti deformasi kerak bumi, perubahan level muka air laut, regangan, tegangan kerak bumi, gempa bumi pendahuluan, anomali aktivitas kegempaan, gempa bumi swarm, b value, perubahan kecepatan gelombang seismik, perubahan air tanah dan gas radon merupakan fenomena yang terjadi sebagai pendahuluan sebelum terjadinya gempa bumi besar.

Fenomena prekursor gempa bumi, bisa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Hal ini lantaran adanya perbedaan struktur geologi tiap daerah. Beberapa penelitian menunjukkan, fluktuasi perubahan aktivitas seismisitas berhubungan erat sebagai indikator prekursor gempa bumi.

Sementara anomali seismisitas, merupakan prekursor yang berhubungan dengan akumulasi stress atau akumulasi energi yang dapat digunakan sebagai mitigasi bencana. Beberapa penelitian yang berhubungan dengan anomali seismisitas.

Kemudian, prekursor kesenyapan seismisitas (seismic quiescence), menggambarkan penurunan aktivitas seismisitas, fenomena ini banyak dikaji para ahli untuk memprediksi gempa bumi. Pola seismic quiescence sebagai aktivitas seismik yang mendahului terjadinya gempa bumi besar.

Berdasarkan observasi, sebelum terjadi gempa bumi besar telah terjadi aktivitas seismisitas di sekitar episenter gempa bumi besar tersebut. Setelah terjadi seismic quiescence, biasanya akan diikuti dengan peningkatan gempa bumi sebagai gempabumi pendahuluan (foreshock).

''Aktivitas foreshock merepresentasikan pergerakan mikro lempeng bumi (micro-cracking) sebelum terjadi rupture,'' ujar Sabar.

Lalu, peningkatan aktivitas seismisitas yang merupakan bagian dari siklus gempa bumi. Aktivitas ini disebut sebagai anomali seismisitas (swarm). Aktivitas swarm biasanya berasosiasi dengan aktivitas vulkanik, namun bisa juga berasosiasi dengan aktivitas non-vulkanik.

''Periode gempa bumi swarm, biasanya terjadi beberapa waktu di sekitar wilayah episenter gempabumi besar sebelum terjadi gempabumi besar tersebut,'' terang Sabar.

BMKG Kepahiang
Karakteristik Kegempaan dari tahun 1975 Hingga 2007   
Berdasarkan hasil pengolahan data katalog gempa bumi daerah Bengkulu tahun 1971 hingga 2013, terdapat pola sebelum terjadi gempa bumi utama M>7,0. Pola atau siklus yang terjadi di mulai dari aktivitas normal.

Kemudian diikuti dengan anomali seismisitas dengan indikasi peningkatan seismisitas (swarm). Selanjutnya, periode penurunan aktivitas seismisitas. Lalu, periode terjadinya gempa bumi utama.

Gempa bumi utama tahun 1975, 1994, 2000 dan 2007, sampai Sabar, selalu didahului siklus penurunan aktivitas kegempaan. Lamanya periode tiap-tiap siklus cukup bervariasi. Seperti, karakteristik kegempaan sebelum gempabumi 1 Oktober 1975,
M=7,0.

Di mana gempa bumi, 1 Oktober 1975, terletak pada koordinat 4,88 Lintang Selatan (LS) 102,19 Bujur Timur (BT), dengan kedalaman 33 km. Sebelum terjadi gempa bumi utama ini siklus kegempaan dimulai dari periode normal selama periode 1 Januari 1971 hingga 31 Desember 1971 (365 hari). Gempa bumi dengan kekuatan M> 4,5 hanya terjadi 9 event.

Siklus selanjutnya, diikuti dengan periode peningkatan aktivitas seismisitas (swarm) selama 1 Januari 1972 hingga 31 Januari 1972 (365 hari) terjadi gempa bumi dengan kekuatan M>4,5 sebanyak 34 event. Setelah periode swarm, adanya seismic quiescence yang ditandai dengan penurunan aktivitas kegempaan.

Periode ini berlangsung selama 1 Januari 1973 hingga 30 September 1975 dengan jumlah event M > 4,5 pada periode ini hanya 20 event. Selama periode swarm, dua gempa bumi terbesar yang terjadi M=6,0 dan M=5,4. Sehingga magnitudo rata-rata, M = 5,7.

Kemudian, karakteristik kegempaan sebelum gempa bumi 15 Februari 1994, M=7,0. Gempa bumi 15 Februari 1994, berkekuatan 7,0, terletak pada koordinat 4,97 LS 104,30 BT dengan kedalaman 23 km.

Kondisi ini sama seperti siklus gempa bumi 1 Oktober 1975. Sebelum terjadi gempa bumi 15 Februari 1994, mengikuti pola yang sama. Di mulai dari periode normal. Yaitu, selama 1 Januari 1976 hingga 31 Desember 1981, dengan jumlah event M > 4,5 terjadi 110 event.

Kemudian diikuti periode swarm atau peningkatan aktivitas seismisitas. Pada periode 1 Januari 1982 hingga 31 Januari 1985, jumlah event mencapai 105 event. Selama periode ini dua magnitudo terbesar berkekuatan 6,6 dan 6,5 dengan Mp = 6,55.

Periode seismic quiescence terjadi selama 1 Januari 1986 hingga 14 Februari 1994, dengan jumlah event sebanyak 112.

Sementara, karakteristik kegempaan sebelum gempa bumi 4 Juni 2000, M = 7,9. Gempa bumi tanggal 4 Juni 2000 merupakan salah satu gempa bumi yang menyebabkan banyak korban kerusakan di daerah Bengkulu.

Gempa bumi ini terletak pada koordinat 4,72 Lintang Selatan 102,04 Bujur Timur pada kedalaman 33 km. Lima tahun sebelum terjadi gempa bumi utama, terindikasi adanya siklus yang teratur sebagai prekursor gempa bumi.

Periode normal selama dua tahun, 1 Januari 1995 hingga 31 Desember 1996. Gempa bumi dengan kekuatan M>4,5 hanya 15 event. Setelah periode normal ini, kemudian diikuti dengan periode anomali seismisitas atau peningkatan aktivitas seismik (swarm) selama satu tahun mulai 1 Januari 1997 hingga 31 Desember 1997, dengan jumlah event M>4,5 sebanyak 39 event dengan Mp=6,5.

Setelah periode swarm, kemudian diikuti periode penurunan aktivitas seismik (precursory gap) selama 1 Januari 1988 hingga 3 Juni 2000 dengan jumlah event M>4,5 hanya 13 event.

Kemudian, karakteristik kegempaan sebelum gempa bumi 12 September 2007, M=8,5. Gempabumi tanggal 12 September 2007 dengan kekuatan 8,5 Mw merupakan gempa bumi besar. Gempa ini mengakibatkan kerusakan di daerah Bengkulu. Gempa bumi ini terletak pada koordinat 4,52 LS 101,37 BT pada kedalaman 34 km.

Di lihat dari siklus seismik, pola kegempaan sebelum terjadi gempa bumi utama berbeda dengan tiga gempa bumi signifikan sebelumnya. Di mana sebelum gempa bumi utama hanya ada dua siklus. Yaitu, siklus anomali peningkatan aktivitas seismik (swarm) dan siklus penurunan aktivitas seismik (precursory gap).

Periode anomali swarm berlangsung selama 1 Januari 2001 hingga 31 Desember 2004. Dengan total event M> 4,5 yang terjadi sebanyak 184 event, dan Mp=7,1. Periode penurunan aktivitas seismisitas berlangsung selama 1 Januari 2005 hingga 11 September 2007. Dengan total event M>4,5 yang terjadi hanya 36 event. Setelah periode seismic quiescence, tepat pada 12 September 2007 terjadi gempa bumi utama (Mm) dengan kekuatan 8,5 Mw.

Regresi formula perkiraan magnitudo gempa bumi di Wilayah Bengkulu, (Predictive Regressions) berdasarkan parameter masing-masing karakteristik kegempaan sebelum terjadi gempabumi utama, maka bisa dihitung formula yang menyatakan hubungan antara magnitudo rata-rata saat terjadi periode swarm (Mp) terhadap lamanya periode swarm (Tp).

''Artinya, dugaan besarnya magnitudo gempa bumi utama bisa di hitung jika siklus kegempaan pada periode swarm telah dilewati sebelum terjadinya gempa bumi utama,'' jelas Sabar.

Digitizer pada Intensity Meter. Foto dok jelajahhutan.com
Potensi Gempa di Lautan dan Daratan
PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah menjelaskan, sumber pertama, adalah potensi gempa bumi yang terletak di wilayah lautan. Hal tersebut merupakan batas pertemuan dua lempeng. Yakni, lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Lempeng Indo-Australia, relatif bergerak ke arah utara. Sementara lempeng Eurasia bergerak ke arah selatan.

Sehingga karakteristik gempa bumi yang terjadi pada bagian laut ini memiliki kekuatan mulai dari gempa-gempa kecil hingga gempa besar. Selain itu, gempa bumi yang terjadi juga bisa berpotensi menimbulkan tsunami jika syarat-syarat terpenuhi.

Selain potensi gempa bumi dari lautan, daerah Bengkulu juga memiliki potensi gempa bumi di wilayah daratan. Hal ini terjadi karena adanya sistem patahan lokal sumatera yang melalui wilayah Bengkulu. Ada tiga patahan lokal yang ada di wilayah Bengkulu.

Yakni, patahan Musi (Segmen Musi) yang terletak di Kabupaten Kepahiang, patahan Manna (Segmen Manna) yang terletak di Kabupaten Bengkulu Selatan, dan patahan Ketahun (Segmen Ketahun). Karakteristik gempa bumi darat tersebut biasa terjadi dengan kekuatan lebih kecil dari pada gempa bumi di laut.

Tidak hanya rawan gempa bumi, terang Sabar, Bengkulu juga memiliki catatan kelam, gempa yang berdampak gelombang tsunami. Di mana sepanjang catatan sejarah gempa dan tsunami, daerah yang memiliki 10 kabupaten/kota ini pernah mengalami 4 kali gelombang tsunami. Yakni, pada tahun 1797, 1833, 1861 dan 2007.

Rinciannya, pada tahun 1797, dengan gempa berkekuatan 8,3 Skala Richter (SR), berlokasi di Sumatera. Dampaknya, di Padang, Sumatera Barat, gelombang pasang mendorong air laut dengan kuat melalui sungai-sungai.

Kemudian, air menggenangi Kota Padang, setelah itu air menjadi surut mengakibatkan sungai menjadi kering. Kejadian ini berlangsung sebanyak tiga kali. Di Pantai Air Manis, Padang, permukiman di daerah pantai tergenang air.

Bahkan, beberapa rumah hanyut, sekira 300 orang meninggal dunia. Tidak hanya itu, sebuah kapal terbawa hingga 3 mill atau sekira 5,5 kilometer (KM) ke darat, di P Batu, sempat terjadi tsunami cukup besar.

Selanjutnya, pada tahun 1833, gempa dahsyat berkekuatan 9,0 SR, yang berpusat di Bengkulu, Sumatera. Di mana saat terjadinya gempa di wilayah Bengkulu, aliran gelombang naik menyembur ke pantai menghancurkan pecah gelombang dan rumah-rumah disekitarnya gelombang merusak dilaporkan berasal dari Padang, Sumatera Barat.

Lalu, pada tahun 1861, gempa berkekuatan 8,5 SR, yang berpusat di Barat Daya Sumatera, Bengkulu. Gempa dahsyat itu terjadi sekira pukul 04.00 WIB. Dampaknya, air laut naik setinggi sekira 1 meter (M). Sehingga jalan penghubung di Pulau Baai Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu menuju pusat Kota Bengkulu, dibanjiri air setinggi 2,5 meter hingga 4,5 meter.

Kemudian, gempa dahsyat terjadi pada tahun 2007. Di mana pada tahun itu gempa mengguncang wilayah Bengkulu, berkekuatan 8,4 SR. Dampak bencana alam itu juga dialami sejumlah daerah. Seperti, Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko. Daerah yang terdampak tsunami itu mulai dari Teluk Betung, Lampung, ketinggian air mencapai 2 meter, Air Haji, Sumatera Barat setinggi 1,8 meter.

Lalu di Kelurahan Koto Jaya Kecamatan Kota Mukomuko Kabupaten Mukomuko setinggi 1,8 meter, desa Pasar Bantal kecamatan Teramang Jaya Kabupaten Mukomuko setinggi 2 meter, Serangai Kabupaten Bengkulu Utara ketinggian air mencapai 3,6 meter, Air Napal setinggi 2,9 meter, Kota Bengkulu setinggi 2,7 meter, Muara Maras Kabupaten Bengkulu Utara, ketinggian air mencapai 3,4 meter.

Saat terjadinya gempa dilaporkan gelombang tsunami dengan ketinggian 2,2 meter menerjang Padang, Sumatera Barat. Gelobang tsunami itu terjadi beberapa jam setelah terjadi gempa besar.

Di mana pengaruh tsunami dapat di lihat dari garis pantai. Dampak dari tsunami itu menyebaban kerusakan aliran listrik selama beberapa hari, sehingga tidak ada penerangan di waktu malam sejak gempa terjadi.

Sabar mengatakan, gelombang tsunami dahsyat yang sampai ke Bengkulu, pada tahun 1797 dan 1833. Di mana, pusat gempa tersebut berada di sekitar kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Namun, gelombang tsunami sampai ke wilayah Bengkulu.

Khusus di tahun 2007, terang Sabar, pusat gempa ada di Bengkulu, namun gelombang tsunami tidak terlalu dahsyat. Di mana korban jiwa kebanyakan akibat karena gempa bumi, bukan karena gelombang tsunami.

Mengapa tsunami tidak terlalu besar pada tahun 2007?, Sabar menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah pola patahan pada tahun 2007 didominasi patahan geser atau tidak murni patahan turun/naik. Hal ini patut disyukuri, sebab jika patahan murni patahan naik/turun, maka bisa menyebabkan gelombang tsunami yang cukup tinggi.

''Tidak ada korban jiwa dalam bencana alam tsunami ini. Umumnya korban jiwa diakibatkan oleh guncangan gempa yang meruntuhkan bangunan,'' kata Sabar.

Pemasangan Intensity Meter di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu  Foto dok jelajahhutan.com
BMKG Pasang Intensity Meter di 15 Titik di Bengkulu 
Tingkat kerawanan gempa yang berpotensi memicu gelombang tsunami di Bengkulu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat, BMKG Kepahiang Bengkulu dibantu teknisi dari PT Bita Enarcon Engineering memasang 15 unit Intensity Meter di 15 titik di Kota Bengkulu.

Alat yang digunakan untuk mengetahui intensitas gempa bumi dan untuk mengukur tingkat kerusakan, akibat gempa bumi dalam satuan Modified Mercalli Intensity (MMI) tersebut merupakan bantuan hibah dari pemerintah Jepang melalui JICA.

Kepala Bidang Seismologi Teknik BMKG Pusat, Dadang Permana mengatakan, alat untuk mendeteksi tingkat guncangan gempa skala MMI. Dari I MMI hingga XII MMI. Di mana saat gempa terjadi Intensity Meter langsung terkoneksi secara langsung dan akan terlihat di alat digitizer pada Intensity Meter yang sebelumnya telah terpadang di daerah-daerah.

Dadang menjelaskan, di digitizer pada Intensity Meter akan muncul skala intensitas, I-II MMI getaran tidak dirasakan atau dirasakan hanya oleh beberapa orang tetapi terekam oleh alat. Di digitizer akan muncul warna putih.

Sementara jika pada digitizer pada Intensity Meter berwarna hijau atau III-V MMI getaran gempa dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar.

Kemudian, jika warna kuning muncul di alat digitizer pada Intensity Mete atau VI MMI, bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan ringan, seperti retak rambut pada dinding, genteng bergeser ke bawah dan sebagian berjatuhan.

Lalu, VII - VIII MMI atau muncul berwarna jingga di alat digitizer pada Intensity Meter, gempa yang terjadi menyebabkan banyak retakan terjadi pada dinding bangunan sederhana, sebagian roboh, kaca pecah. Sebagian plester dinding lepas. Hampir sebagian besar genteng bergeser ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan mengalami kerusakan ringan sampai sedang.

Selanjutnya, jika di alat digitizer pada Intensity Meter berwarna merah atau IX-XII MMI, getaran gempa tersebut menyebabkan sebagian besar dinding bangunan permanen roboh. Struktur bangunan mengalami kerusakan berat, rel kereta api melengkung.

''Getaran gempa yang terjadi akan terekam di alat digitizer pada Intensity Meter,'' kata Dadang, Senin (5/8/2019).

Alat digitizer pada Intensity Meter di Kota Bengkulu, sampai Dadang, langsung masuk ke server BMKG Pusat dalam hitungan menit. Selain itu, laporan alat digitizer pada Intensity Meter yang terkoneksi tersebut nantinya akan terlihat tingkat guncangan gempa yang terjadi di Bengkulu.

Sehingga, kata Dadang, peta tingkat guncangan shakemap secara otomatis akan masuk selama 20 menit. Di mana peta itu, jelas Dadang, akan melihat kerusakan dampak gempa parah. Dari peta itu BMKG akan menyampaikan ke BNPB, BPBD Provinsi, BPBD kabupaten dan kota tingkat kerusakan terparah di daerah yang terdampak gempa.

''Tujuannya agar di respon cepat BNPB, BPBD provinsi, kabupaten dan kota daerah yang terdampak gempa. Peta kerusakan itu kalau berat akan berwarna merah, jika berwarna kuning rusak ringan, warna jingga rusak sedang,'' jelas Dadang.

''Dengan adanya peta tersebut maka dari BPBD bisa mengambil keputusan cepat untuk mengambil tindakan,'' sambung Dadang.

Intensity Meter, sampai Dadang, tidak hanya mencatat getaran gempa yang terjadi di daerah di Bengkulu. Namun, getaran gempa yang berlokasi atau berpusat di Aceh, Padang Sumatera Barat hingga Lampung pun bisa terdeteksi oleh alat intensity meter yang terpadang di 15 titik di Kota Bengkulu.

''Hanya saja tingkat guncangan gempa yang berlokasi di provinsi lainnya skala MMI yang dirasakan di Bengkulu tidak begitu terasa atau besar. Tapi, intensity meter tetap merekam dan mencatat,'' ujar Dadang.

Pemasangan alat intensity meter tidak hanya di Kota Bengkulu. Pemasangan juga di lakukan di sejumlah provinsi di Indonesia, yang dilihat dari populasi pendudduk, kota besar serta tingkat kerawanan gempa di daerah tersebut.

''Intensity meter bantuan dari pemerintah Jepang. Bantuan Intensity Meter yang diberikan sebanyak 200 unit termasuk di Kota Bengkulu, Bengkulu,'' sampai Dadang.

Pemasangan Intensity Meter di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu  Foto dok jelajahhutan.com
BMKG Pasang 200 Unit Intensity Meter di 17 Daerah di Indonesia  
Daerah-daerah yang mendapatkan bantuan alat tersebut, sampai Dadang, Kota Bengkulu sebanyak 15 unit, Mataram sebanyak 10 unit, Jakarta sebanyak 40 unit, Semarang sebanyak 10 unit, Bandung sebanyak 15 unit, Surabaya sebanyak 15 unit, Yogyakarta sebanyak 10 unit.

Lalu, Denpasar sebanyak 10 unit, Padang Sumatera Barat sebanyak 15 unit, Kupang sebanyak 10 unit, Manado sebanyak 15 unit, Palu sebanyak 10 unit, Bogor sebanyak 5 unit, Depok 5 unit, Bekasi 5 unit, Tangerang Kota sebanyak 5 unit dan Tangerang Selatan sebanyak 5 unit.

Saat ini, sambung Dadang, intersity meter sudah mulai dipasang di sejumlah daerah. Seperti, di Jakarta, Mataram, Bengkulu, Yogyakarta, Palu, Denpasar, Surabaya, Depok dan Bekasi. Pemasangan alat tersebut juga adanya kerja sama dengan pemerintah daerah setiap provinsi dan kabupaten/kota.

Khusus pemasangan intersity meter di Kota Bengkulu, terdapat di 15 titik. Di mana pemasangan itu terdapat di sarana pendidikan, kesehatan dan kantor pemerintah di Kota Bengkulu. Seperti, di SMP Negeri 1 Kota Bengkulu, SMP N 4 Kota Bengkulu, SD N 11 Kota Bengkulu, Puskesmas Beringin Raya Bengkulu, Puskesmas Betungan, Kantor Wali Kota Bengkulu.

Kemudian, kantor camat Ratu Samban, kantor camat Sungai Serut, kantor camat Kampung Melayu, SMA N 6 Bengkulu Tengah, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, kantor kelurahan kandang Limun, BPBD Provinsi Bengkulu, RSUD kota Bengkulu dan kelurahan Sumber Jaya.

''Kedepannya kita akan ajukan ke APBN 2019. Tahun ini diajukan sebanyak 100 unit intersity meter,'' demikian Dadang.

Foto dok jelajahhutan.com
Evakuasi Mandiri sebagai Budaya 
Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan zona seismik aktif, masyarakat Bengkulu musti selalu dan dituntut membudayakan siaga bencana. Sebab, secara alamiah baik segmen Mentawai maupun segmen Enggano terus melepas energi gempa baik dalam bentuk gempa kecil maupun gempa besar.

''Sampai saat ini kita belum mampu memprediksi secara akurat, kapan dan berapa besar kekuatan gempa yang akan terjadi,'' tegas Sabar.

Oleh karena itu, lanjut Sabar, seluruh lapisan masyarakat selayaknya harus menyiapkan diri untuk terus meningkatkan upaya mitigasi. Menguasai jalur evakuasi di sekitar lingkungan. Selian itu, masyarakat harus mengerti cara penyelamatan diri saat terjadi gempa kuat yang berdampak pada gelombang tsunami.

Guncangan gempa kuat dan durasi yang cukup lama berkisar 20 detik sebagai peringatan dini dari alam. Beberapa kasus, jelas Sabar, ada gempa yang tidak dirasakan kuat, namun dengan durasi yang cukup lama sekira >60 detik dapat menjadi tanda gempa besar yang dapat memicu gelombang tsunami. Seperti, tsunami Mentawai 2010.

''Evakuasi mandiri harus menjadi budaya yang tertanam sejak dini,'' imbau Sabar.

Artinya, tambah Sabar, tanpa harus menunggu peringatan resmi dari pemerintah, masyarakat harus segera menjauhi pantai, saat terjadi gempa kuat dan durasi lama. Sebab, gelombang tsunami datang dalam waktu yang sangat singkat sebelum datangnya peringatan resmi dari pemerintah.

''Jika tsunami benar-benar datang masyarakat sudah aman berada di tempat yang tinggi. Jika gelombang tsunami tidak datang, patut kita syukuri karena dijauhi dari bencana yang lebih besar dan jadikan sebagai latihan evakuasi,'' pungkas Sabar.



No comments:

Post a Comment