jelajahhutan.com

Let's the journey begin!

Baca Juga

Foto BMKG 
BENGKULU - Provinsi berjuluk Bumi Rafflesia disebut sebagai pusat pengendali iklim dunia. Daerah dengan 10 kabupaten dan kota ini merupakan sumber penghasil pertama kali awan Cumulonimbus (cb).

Dari hasil sementara penelitian, awan hujan di Indonesia sebagian besar terbentuk di Bengkulu. Di mana awan tersebut bergerak menyebar ke seluruh Benua Maritim Indonesia (BMI) dan ke berbagai belahan dunia.

Hasil itu setelah penelitian dinamika atmosfer melalui kegiatan pengamatan intensif menggunakan balon cuaca/rawinsonde, radar cuaca multi parameter FURUNO, Selex-MPR dan kapal riset Mirai Jepang di wilayah Bengkulu, pada Senin 9 November hingga Jumat 25 Desember 2015. 

Peneltian itu dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu dan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC).

Dalam proses observasi empat tahun silam itu berlangsung selama 47 hari. Hasil sementara ditemukan bahwa dalam keadaan normal di laut tingkat panas lebih tinggi dari semestinya. Ada gangguan gelombang atmosfer yang intens.

Hal tersebut berpengaruh pada curah hujan ekstrem di Bengkulu. Sehingga iklim di Bengkulu dinilai paling kompleks di Benua Maritim Indonesia (BMI) dan menjadi tempat cuaca untuk daerah lain.

Daerah yang dihuni tidak kurang dari 1,9 juta ini menjadi tempat pertemuan empat arus laut serta daerah tempat proses terjadinya penguapan pembentukan awan hujan lalu menjadi musim hujan atau kemarau dan mempengaruhi iklim dunia.

Pembentukan awan hujan tersebut tidak terlepas dari daerah dengan 10 kabupaten/kota ini yang memiliki bukit barisan atau kawasan hutan serta menghadap secara langsung Samudera Hindia yang tidak terhalang dengan pulau-pulau. Awan hujan tersebut terbentuk di laut pada malam hari dan di pegunungan pada siang menjelang sore.

''Pembentukan awan hujan di Bengkulu karena ada hutan dan langsung menghadap Samudera Hindia. Di Bengkulu tidak ada pulau-pulau sehingga proses pembentukan awan menjadi cepat.'' kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno, Warjono, Sabtu 27 Juli 2019.

''Daerah Bengkulu berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia. Setiap daerah di Indonesia juga membuat awan hujan hanya saja berbeda dengan Bengkulu,'' sambung Warjono.


Awan Hujan di Bengkulu Menyebar ke Seluruh Dunia
Pembentukan awan hujan di Bengkulu memiliki keanehan pada Madden Julian Oscillation (MJO). Di mana MJO merupakan salah satu osilasi atmosfer dominan di kawasan ekuator. Fenomena ini berupa gelombang atmosfer yang berosilasi secara perlahan antara 30 hingga 60 hari.

Pergerakan massa udara pada MJO mengikuti sirkulasi skala besar di ekuator ke arah timur Samudera Hindia hingga Pasifik Tengah. Selain itu, di daerah ini adanya pengaruh Cold Surge (Seruakan Dingin) atau aliran udara dingin dari daratan. Cold Surge di definisikan sebagai gelombang dingin Asia.

Daerah Bengkulu juga memiliki angin Muson yang selalu berganti arah setiap setengah tahun mengikuti letak matahari. Angin muson tersebut terbagi dua.

Yakni, Muson barat yang bergerak pada bulan Oktober hingga April dari arah Asia menuju Australia. Lalu, Muson Timur yang bergerak pada bulan April hingga Oktober dari arah Australia menuju Asia.

Tidak hanya itu, di daerah ini juga adanya keanehan Wind Rose atau mawar angin atau cakra angin yang merupakan sebuah metode penggambaran informasi mengenai kecepatan dan arah angin pada suatu lokasi tertentu.

Adanya keanehan tersebut membuat sembilan negara seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, Inggris, Australia, Filipina, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan, melakukan penelitian di daerah Bengkulu. Dari tahun 2015 hingga 2019.

''Di Bengkulu, ada keanehan dari MJO hingga wind Rose. Sehingga sembilan negara melakukan penelitian di Bengkulu. Baik di daerah pegunungan maupun di daerah lautan,'' jelas Warjono.

''Bengkulu adalah daerah yang pertama kali dilewati MJO ketika masuk ke Indonesia. Angin di Bengkulu selalu dari arah barat baik musim timur maupun musim barat,'' sambungWarjono.


Bengkulu Sebagai Alarm Bencana Alam 
Pertumbuhan cyclon tropis terbentuk pertama kali di Bengkulu. Itu berasal dari wilayah Samudera Hindia menuju ke daerah pegunungan di Bengkulu. setelah terbentuk, cyclon tropis akan menuju ke daerah lainnya.

Ketika cyclon tropis yang menyebabkan hujan deras dengan diiringi bencana alam, banjir daerah-daerah lainnya akan ikut merasakan bencana serupa. Seperti, pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua.

Fenomena tersebut membuat provinsi berjuluk Bumi Rafflesia sebagai salah satu daerah peringatan dini atau alarm bencana alam di Indonesia hingga negara-negara lainnya.

warjono mencontohkan, ketika curah hujan di Bengkulu diiringi dengan bencana alam banjir maka daerah di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Papua akan mengalami hal serupa.

Misalnya, ketika banjir melanda Bengkulu pada akhir April 2019. Usai banjir di Bengkulu, daerah di Sulawesi dan Papua ikut banjir.

Tidak hanya di Indonesia, sampai Warjono, dari keterangan orang Jepang ketika Bengkulu sedang di landa hujan di Jepang akan terasa atau mengalami cuaca yang sangat dingin luar biasa.

Terkait fenomena tersebut, terang Warjono, sembilan negara telah melakukan penelitian di Bengkulu sejak 2015 hingga 2019. Warjono menyebut, pada September 2019, peneliti asal Australia akan meneliti ke Bengkulu. Penelitian itu akan dilakukan di daerah laut Bengkulu.

Hasil sementara penelitian sembilan negara, kata Warjono, belum diketahui banyak masyarakat di Indonesia. Terlepas dari hal tersebut, pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi sangat penting mengambil kebijakan stategis.

''Bengkulu menjadi salah satu alarm bencana banjir di Indonesia. Ketika musim penghujan di Bengkulu, maka di Jepang akan merasakan cuaca sangat dingin yang luar biasa,'' jelas Warjono.

No comments:

Post a Comment