jelajahhutan.com

Let's the journey begin!

Baca Juga

Edi Suswanto, sang mekanik penyelamat penyu. Foto jelajahhutan
BENGKULU - Gemuruh suara ombak terdengar dari kejauhan ketika tiba di tempat ini. Ratusan pohon cemara berjejer menjulang tinggi terlihat jelas dari kejauhan yang disinari rembulan malam itu.

Dulu, tempat ini masih jalan setapak penuh bebatuan koral yang berserakan. Saat ini gang sempit itu sudah di aspal. Di sudut jalan itu berdiri bangunan permanen. Sederhana.

Rumah itu didiami pasangan suami istri (pasutri), Edi Suswanto dan Siti Juariah beserta anaknya, M Aditya Meisefandi.

Malam itu pria berkulit gelap itu sedang duduk santai di depan rumahnya. Berjarak sekira 75 meter dari tepi pantai. Nyanyian suara hewan bersayap bersahut-sahutan dari segala penjuru terdengar dari dalam rumah pria kelahiran 1982 ini.

Istri Edi, Siti Juariah, sibuk mencincang ikan untuk pakan tukik atau anak penyu yang ditangkarkan di rumah singgah. Tepat di samping kediaman rumah pria berkulit gelap tersebut.

''Setiap hari tukik (bayi penyu) selalu di kasih pakan ikan yang sudah di cincang,'' kata Siti, pekan lalu.

Jam di tangan menunjukkan pukul 00.01 WIB. Bapak satu orang anak ini mulai mempersiapkan diri untuk ke tepi pantai. Dini hari itu merupakan jadwal pria 36 tahun tersebut untuk menyusuri tepi pantai sejauh 8 kilometer (KM), kira-kira.

Pria yang bekerja sebagai mekanik bengkel sepeda motor ini, sejak empat tahun terakhir (2015-2019) berpatroli mengecek pendaratan penyu di sepanjang garis pantai di kecamatan Ipuh kabupaten Mukomuko provinsi Bengkulu.

Patroli dini hari itu dilakukan hingga pukul 04.01 WIB. Mulai dari tepi pantai Batu Kumbang, desa Pulau Baru, tepi pantai Air Buluh desa Air Buluh, pantai Pasar Ipuh dan muara air dua desa Retak Ilir kecamatan Ipuh.

Di sepanjang pantai itu lokasi pendaratan empat jenis penyu atau 'katung' bahasa Bengkulu. Seperti, penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil itu mendarat ke tepi pantai untuk membuat sarang untuk bertelur. Di mana di garis pantai sepanjang sekira 8 KM tersebut terdapat 35 titik sarang.

''Jika di pantai Pasar Ipuh hingga pantai Air Dua, penyu bersarang dalam satu malam bisa 4 sarang. Kalau di pantai Pulau Baru hanya bersarang 1 sarang. Perbandingannya jika di pantai Air Dua ada 10 sarang maka di pantai Pulau Baru hanya 2 sarang,'' kata ketua KPA-KPM desa Pulau Baru kecamatan Ipuh kabupaten Mukomuko provinsi Bengkulu, Edi Suswanto, pekan lalu.

Sebelum berpatroli, ayah dari M Aditya Meisefandi ini mengenakan seragam raincoat serta sepatu boots. Dengan senter yang menempel di bagian kepala. Sepeda motor yang terparkir di samping rumah telah siap di tunggangi.

Jadwal patroli jelang dini hari hingga mendekati azan salat subuh itu dilakukan sendiri. Jelang dini hari itu diketahui menjadi agenda rutin berbagai jenis mendarat ke tepi pantai untuk bertelur.

Patroli sarang penyu tersebut tidak hanya dilakoni Edi. Namun, patroli jugo dilakukan tiga orang rekan Edi. Japriadi, Adi Wahyudi dan Doni. Mereka bertiga berpatroli di bibir pantai secara bersama. Jadwalnya, dari pukul 21.01 WIB hingga pukul 00.01 WIB.

Mereka menyusuri garis pantai dengan menunggani ''si kuda besi'', pribadi masing-masing. Ketiga pemuda itu tergabung dalam Kelompok Pecinta Alam Konservasi Penyu Mukomuko (KPA-KPM).

Patroli disepanjang tepi pantai tersebut untuk mencari jejak hewan yang memiliki sepasang tungkai depan itu saat membuat sarang dan bertelur. Hewan yang tangkas berenang di dalam air ini sekali bertelur 120 butir hingga 130 butir.

Kedalaman sarang untuk bertelur itu di gali kura-kura laut dengan kedalaman sekira 30 centimeter (CM). Telur yang ditemukan itu lalu di bawa ke rumah singgah penyu, KPA-KPM. Ukurannya, 3 meter x 8 meter, kira-kira.

Rumah singgah itu bantuan dari balai pengelola sumber daya pesisir dan laut (BPSPL), Serang, Banten, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan Perikanan, pada akhir 2017.

''Telur yang ditemukan kami bawa untuk dieram di rumah singgah. Saat patroli kendaraan yang kami gunakan merupakan kendaraan pribadi. Begitu juga dengan bahan bakar minyak dan makan saat berpatroli,'' sampai Edi.

Jejak kakai penyu di Pantai Pasar Ipuh kecamatan Ipuh. Foto Jelajahhutan
Selamatkan Telur Penyu, Patroli di Tepi Pantai 
Dini hari, pekan lalu. Roda ''kuda besi' milik pria 36 tahun itu menerobos gelapnya malam. Pancaran sang rembulan menemani putaran roda berjari-jari menyusuri garis pantai di desa Pulau Baru kecamatan Ipuh kabupaten Mukomuko.

Suara gemuruh ombak dari samudera hindia silih berganti menghantam pasir di pantai itu. Kedua roda ''kuda besi''itu terus berjalan di pasir kering bercampur air laut serta bebatuan hingga muara pantai Air Buluh, desa Air Buluh kecamatan Ipuh.

Secara perlahan pria yang bekerja sebagai mekanik itu mengegas sepeda motornya, sembari melihat jejak tak beraturan dari hewan kelompok vertebrata di sepanjang tepi pantai yang dilintasi.

Sesekali roda ''kuda besi'' terhenti akibat tertanam tebalnya pasir pantai. Saat itu pula mata lampu senter mengarah ke tepian. Melihat secara jeli bekas-bekas jejak bersisik itu.

''Biasanya, di tepi pantai ini (pantai Batu Kumbang, desa Pulau Baru) ada penyu yang membuat sarang,'' kata pria berkulit gelap itu sembari menunjukkan lokasi pendaratan penyu bersarang.

Patroli di kawasan itu dilakukan pria yang belajar secara otodidak dalam penangkaran penyu itu dijalaninya sejauh sekira 5 KM (pantai Batu Kumbang, desa Pulau Baru-muara pantai Air Buluh, desa Air Buluh).

Usai berpatroli di daerah itu, suami dari Siti Juariah kembali berpatroli ke pesisir pantai desa Pasar Ipuh hingga muara dua desa Retak Ilir kecamatan Ipuh. Di kawasan itu pun menjadi lokasi pendaratan penyu.

Di tepi pantai itu dia berjalan menyusuri mencari jejak kaki hewan bersisik, dengan penerangan senter di kepala. Ketika penyu bersarang dan bertelur tak jauh dari tepi air laut. Sekira 20 meter.

Dini hari menjelang pagi pekan lalu, Edi menemukan jejak kaki hewan bersisik itu di ujung pantai Pasar Ipuh. Tak jauh dari muara aliran sungai Batang Muwar. Sisa jejak kaki berserakan itu tidak ditemukan sarang penyu. 

''Kalau di lihat dari jejak kakinya penyu lekang. Telurnya tidak ada. Patroli itu untuk menyelamatkan telur penyu dari terduga pelaku pencuri telur penyu,'' ujar pria kelahiran 1982 ini.

Edi Suswanto, sang mekanik penyelamat penyu. Foto jelajahhutan
Mekanik Sang Penyelamat Penyu
Edi bukan seorang nelayan. Dia hanya mekanik di salah satu bengkel sepeda motor di desa tempat tinggalnya. Pekerjaan sosok pria kelahiran 1982 itu sudah ditekuninya sejak masih berstatus lajang.

Dia terjun ke 'dunia air', ketika adanya pelepasan tukik atau anak penyu di tepi pantai Air Hitam, desa Air Hitam kecamatan Pondok Suguh kabupaten Mukomuko, beberapa tahun lalu.

Sejak itu sosok pria yang mahir meobrak-abrik mesin sepeda motor ini mulai tergugah dan jatuh cinta dengan hewan kelas reptilia penyu. Berangkat dari situ pria 36 tahun itu mulai memperdalam pengetahuan tentang hewan yang bernapas dengan paru-paru ini.

Untuk mendapatkan pengetahuan tentang penyu, pada tahun 2015, dia belajar ke penangkaran penyu di desa Air Hitam kecamatan Pondok Suguh. Dia ingin mengetahui secara pasti jejak penyu seperti apa.

Dari rasa ingin yang tahu itu dia terus belajar secara otodiak. Bahkan, pria ini terbesit dalam hati jika di kabupaten Mukomuko memiliki kekayaan yang harus dilestarikan, penyu.

Spesies ikonik Indonesia satu ini mampu membersihkan karang yang ada di tengah laut. Di mana karang tersebut menjadi tempat singgah berbagai jenis ikan. Sehingga, kelestarian penyu sangat penting bagi ekosistem ikan.

''Awalnya rasa ingin tahu tentang penyu. Penyu dapat membersihkan lumut di karang. Karang yang ada di laut itu akan menjadi tempat ikan bermain,'' kata pria berambut pendek ini.

Pelestarian penyu tersebut tidak lain agar nelayan di Mukomuko, dapat melaut secara terus menerus dengan hasil tanggapan melimpah. Caranya mengajak nelayan melestarikan penyu.

Dia sama sekali bukan jebolan dari perguruan tinggi. Terlebih bukan jebolan dari fakultas dan jurusan yang membidangi soal kelautan. Namun, dari pengetahuan dia dengan cara belajar secara otodidak bisa mengetahui banyak hal tentang penyu.

Mulai dari jadwal dan waktu pendaratan penyu, kedalaman telur yang diseumbunyi telur, empat jenis jejak kaki penyu. Hingga tata cara mengeram telur hingga pakan yang cocok untuk tukik atau anak tukik.

''Saya belajar secara otodidak. Saya kerja di darat, bukan di laut. Saya kerja di bengkel,'' ucap Edi.

Jejak kaki penyu di Pantai Pasar Ipuh kecamatan Ipuh. Foto jelajahhutan
Berhadapan dengan Pemburu Penyu
Penyelamatan telur penyu dari tangan tidak bertanggungjawab sudah menjadi makanan sehari-hari sosok Edi. Sejak dia menjadi sosok penyelamat tanpa bayaran penyu ini kerap berhadapan dengan terduga pelaku pencuri telur penyu.

Terduga Pencuri itu sama halnya seperti Edi. Berpatroli di pesisir pantai di kecamatan Ipuh. Namun, hasil yang dari pencarian telur penyu dari pencuri itu di jual dengan masyarakat di kecamatan Ipuh. Per butir di jual seharga Rp5 ribu. 

Para pencuri itu menjual telur penyu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang memesan. Penjualan telur pun dilakukan secara mobile. Sesuai pesanan. Bahkan, diantar alamat ke pemesan telur?.

Sejak dirinya terjun ke dunia laut. Edi kerap kali memberikan pengertian kepada terduga pencuri untuk tidak mengambil telur penyu. Terlebih di jual secara bebas ke masyarakat luas.

Sayangnya, pengertian yang diberikan itu sama sekali tidak mengubah niat dari para pemburu telur. Pemburu penyu di daerah itu tidak kurang dari 15 orang. Mereka, para pemburu telur sering berpapasan dengan Edi.

Saat berpapasan, pemburu dan Edi sempat ingin berkelahi. Bahkan, Edi ingin di bacok.  Miris. Mereka tidak ingin menyerahkan telur penyu itu untuk ditangkarkan di rumah singgah.

''Kalau ketemu dengan pemburu sering. Terkadang ingin berkelahi. Sampai-sampai buka baju,'' aku Edi.

Secara ekonomi, Edi masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia menjalani hidupnya hanya dengan bekerja di bengkel motor. Sementara, misi dan niat baiknya untuk kelestarian penyu terus dijalaninya.

Edi selalu membagi waktu setiap hari. Dari sekira pukul 00.01 WIB hingga pukul 04.01 WIB, dia berpatroli ke tepi pantai untuk melihat sarang penyu. Sementara, dari pukul 04.01 WIB hingga pukul 09.01 WIB, waktu istirahat.

Dari pukul 09.01 WIB hingga petang dirinya bekerja di bengkel. Itu untuk menafkahi istri dan anaknya. Pekerjaan sebagai mekanik bengkel itu dia lakukan lantaran dari penangkaran penyu yang dia geluti sama sekali tidak memiliki honor.

''Biaya bahan bakar minyak untuk berpatroli biaya sendiri. Ini sudah berlangsung sejak tahun 2015,'' jelas Edi.

Istri Edi, Siti Pemberian pakan tukik. Foto jelajahhutan
Istri Sempat Tidak Merestui
Perjuangan dalam penyelamatan hewan bersisik yang dilakoni Edi sejak empat tahun terakhir, sama sekali tidak membuat patah semangat bagi Edi. Meskipun, biaya dalam penangkaran penyu merogoh kocek dari kantong pribadinnya.

Terlebih dapur pasutri Edi dan Siti tidak mengepul. Dia rela menghabiskan biaya Rp50 ribu setiap hari untuk pakan tukik atau anak penyu. Pakan tukik itu berupa ikan segar  di beli dari toke ikan di kecamatan Ipuh.

Pakan itu untuk diberikan kepada tukik setiap hari. Dalam sehari pakan berupa ikan yang dicincang mencapai 2 kilogram (Kg). Di mana dalam sehari pakan diberikan sebanyak dua kali. Sehingga, Edi beserta istri musti memberi oakan 4 kg ikan.

''Satu hari, tukik diberi pakan dua kali. Satu kali makan dua kilogram ikan yang telah dicincang-cincang. Setiap hari biaya untuk pakan Rp50 ribu,'' jelas Edi.

Pada 2015 hingga akhir 2016, pakan tukik yang ditangkarkan menggunakan biaya dari kantong pribadi keluarga Edi. Kala itu istri Edi, Siti tidak merestui pekerjaan yang dilakoni sang suami.

Sebab setiap hari musti memberi makan tukik dengan pakan ikan dan udang dengan biaya  yang cukup mahal. Bahkan, kala itu pakan berupa udang yang di beli Edi, sempat di masak istrinya untuk di konsumsi.

''Sempat pakan udang yang di beli, saya masak untuk makan sehari-hari,'' aku Siti Juariah, istri Edi.

Perjuangan pelestarian penyu sedikit mendapatkan perhatian dari pemerintah provinsi Bengkulu, dinas kelautan dan perikanan (DKP). Pada 2017, Telur penyu yang diperoleh dari patroli setiap malam di ganti dengan uang sebesar Rp12 ribu per butir/ekor.

Penggantian biaya sebesar itu mulai dari telur, perawatan, pakan hingga telur menjadi tukik berumur 3 bulan. Biaya penganti telur penyu bertambah Rp3.000, pada 2018. Uang pengganti telur, perawatan, pengeraman, pakan menjadi Rp15 ribu per butir/ekor.

''Biaya penggantian tukik itu dibatasi sebanyak 2.200 ekor tukik. Jika tukik lebih dari 2.200 ekor maka pakan dan perawatan tukik biaya pengganti tidak ada,'' kata Edi.

Setelah telur penyu menetas, anak penyu atau tukik itu dipelihara dari umur satu minggu hingga 3 bulan. Dalam masa perawatan tersebut tukik selalu mendapatkan perawatan istimewa.

Seperti, penggantian air laut setiap hari, pakan dua kali sekali. Hingga pembersihan kolam tempat tukik bermain. Secara keseluruhan biaya Rp15 ribu tersebut tidak cukup untuk memelihara dan pemberian pakan tukik setipa hari.

''Tukik kami lepas liarkan setelah berumur dua minggu. Ada juga tukik yang berumur satu minggu. Pelepasan tukik kami lakukan di tepi pantai Pulau Baru,'' jelas Edi.

Pemberian pakan tukik di penangkaran penyu di rumah singgah penyu. Foto jelajahhutan
Dibilang ''Gila'' dan ''Goblok''
Resiko penangkaran tukik bukan hanya tidak direstui sang istri. Namun, pekerjaan mulia Edi untuk kelangsungan penyu juga mendapat cemooh dari masyarakat setempat. Itu bermula dari saat dia menangkar penyu di tahun 2015.

Edi sempat di bilang ''gila''. Diejek dan dibilang ''goblok''. Sebab, Edi merawat tukik sama sekali tidak ada honor. Terlebih mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli pakan tukik setipa hari.

Sementara, kebutuhan sehari-hari Edi dan keluarga masih jauh dari cukup. Di mana Edi, hanya bekerja sebagai mekanik dengan penghasilan pas-pasan. Disisi lain dia prihatin terhadap kelestarian penyu yang terancam punah.

''Sempat diejek, di bilang gila, goblok. Tapi, saya tetap merawat penyu,'' kata Edi.

Ejekan itu bertambah, ketika Edi rela menjual sepeda motornya untuk menembus telur penyu dari pencuri yang berkeliaran setiap malam di tepi pantai di kecamatan Ipuh. Sepeda motor merek CB-100 itu Edi jual seharga Rp4,5 juta.

Secara keseluruhan uang tersebut untuk menembus telur penyu. Selanjutnya, dia eram di penangkaran di rumahnya. ''Kuda Besi'' miliknya itu dijual tahun 2015. Ketika belum ada uang pengganti dari dinas kelautan dan perikanan (DKP) provinsi Bengkulu.

''Telur peyu saya tembus seharga Rp5 ribu per butir dari kalagan pencuri,'' ujar Edi.

Tak sampai di situ. Niat baik Edi juga bertentangan dengan perangkat desa. Di tahun 2017, Dia di sidang di desa Pulau Baru kecamatan Ipuh. Hal tersebut lantaran, adanya rencana pembangunan balai konservasi penyu di tepi pantai Batu Kumbang di tahun 2017.

Pembangunan tersebut tidak disetujui oleh segelintir masyarakat di desa itu. Diduga adanya lahan milik salah satu masyarakat yang berdekatan dengan tepi pantai Batu Kumbang.

Ditakutkan, jika bangunan konservasi tersebut berdiri maka status kawasan pantai batu Kumbang berubah menjadi taman wisata alam (TWA). Sementara di kawasan tersebut merupakan kawasan ekonomi.

Rencana pembangunan balai konservasi tersebut merupakan bantuan kementerian kelautan dan perikanan (KKP) RI, pada tahun 2018. Lantaran di tolak bangunan tersebut tidak jadi di bangun di tepi pantai Batu Kumbang.

''Ada yang tidak setuju dengan bantuan itu. yang ditakutkan ketika bangunan itu berdiri maka status berubah menjadi TWA. Penolakan itu setelah adanya sidang di desa,'' kata wakil ketua KPA-KPM desa Pulau Baru kecamatan Ipuh Kabupaten Mukomuko, Hengki Febri Juardo, pekan lalu.

Sidang desa yang dijalani Edi sempat membuat ''galau''. Edi tidak ingin makan selama satu pekan. Kala itu, istri Edi, Siti sempat mengajak reflesing ke rumah kakaknya di Provinsi Jambi. Namun, Edi menolak.

''Dia (Edi) sempat tidak mau makan selama satu minggu. Saya juga sempat mengajak reflesing dulu ke Jambi tapi dia (Edi) tidak mau,''  cerita Siti Juariah, istri Edi.

Pelepasliaran tukik di tepi pantai Batu Kumbang desa Pulau Baru kecamatan Ipuh, Mukomuko . Foto jelajahhutan
10.107 Ekor Tukik Lahir ke Dunia
Perjuangan dalam pelestarian penyu dari kelompok pecinta alam-konservasi penyu mukomuko (KPA-KPM) desa Pulau Baru kecamatan Ipuh kabupaten Mukomuko provinsi Bengkulu, dilakukan secara bersama.

Sedikitnya terdapat 8 anggota aktif dalam KPA-KPM. Mereka secara bersama merawat tukik tanpa mendapatkan honor dari pemerintah daerah. Keikhlasan anggota KPA-KPM itu tidak terlepas untuk kelestarian penyu agar tidak punah.

Buktinya, selama empat tahun terakhir. Terhitung sejak 2015 hingga 22 Mei 2019, telur tukik sudah lahir ke dunia sebanyak 10.107 ekor tukik. Dari angka itu tidak kurang dari ribuan tukik sudah dilepasliarkan ke pantai Batu Kumbang desa Pulau Baru.

Rinciannya, di tahun 2015, tukik lahir ke dunia sebanyak 1.583 ekor, 2016 sebanyak 1.939 ekor, pada  tahun 2017 sebanyak 1.821 ekor, lalu di tahun 2018 sebanyak 3.011 ekor dan hingga 22 Mei tukik lahir ke dunia sebanyak 1.753 ekor.

Sebelum dilepasliarkan, tukik di tangkar terlebih dahulu hingga umur satu minggu hingga 3 bulan. Tukik yang dilepasliarkan itu mulai dari tukik sisik, lekang, hijau dan tukik belimbing.

Dengan menjaga kekompakan dan saling percaya, KPA-KPM masih bertahan hingga saat ini. Terlebih sudah ribuan tukik telah dilepasliarkan ke tepi pantai Batu KUmbang.

Delapan anggota KPA-KPM itu dengan ikhlas merawat tukik. Mulai dari penggantian air, pemberian pakan, serta berpatroli ke tepi pantai setiap malam.

Sebagai penunjang, pada Desember 2017, KPA-KPM mendapatkan bantuan berupa rumah singgah penyu dari balai pengelola sumber daya pesisir dan laut (BPSPL), Serang, Banten, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan Perikanan.

''Anggota KPA-KPM 8 orang yang aktif. Kami saling percaya untuk merawat tukik,'' jelas Edi.

Pelestarian penyu yang dilakukan KPA-KPM tidak main-main. Edi, selaku ketua telah mewakafkan lahannya seluas 8 meter x 12 meter. Di atas lahan itu sudah berdiri rumah singgah penyu. Ukurannya sekira 3 meter x 8 meter. 

Di dalam rumah singgah itu terdapat kolam tukik, tempat penetasan telur penyu. Namun, rumah singgah penyu itu masih membutuhkan perhatian. Hal tersebut masih banyak fasilitas penunjang belum tersedia.

''Rumah singgah penyu masih banyak kekurangan fasilitas. Dari dinas kelautan dan perikanan kabupaten Mukomuko juga belum ada perhatian sama sekali,'' kata Edi.

 Tukik lekang di penangkaran rumah Singgah Penyu di desa Pulau Baru kecamto atan ipuh Mukomuko. Foto jelajahhutan
Ratusan Tukik Dilepasliarkan
Setiap tahun KPA-KPM selalu memperingati hari penyu internasional yang jatuh pada 23 Mei. Perangkat desa dan masyarakat melepasliarkan tukik jenis penyu Lekang (Lepidochelys olivacea).

Pelepasliaran tuukik itu di tepi pantai Batu Kumbang, desa Pulau Baru kecamatan Ipuh kabupaten Mukomuko. Di mana tukik yang dilepasliarkan berumur 3 minggu hingga satu bulan.

Tukik itu sebelumnya di rawat di rumah singgah penyu. Ratusan tukik itu merupakan bagian dari ribuan tukik yang ditangkarkan dalam beberapa bulan terakhir di daerah itu.

''Ada ribuan tukik yang masih kami tangkarkan. Ratusan ekor tukik yang dilepasliarkan ini jenis lekang,'' kata Edi, pekan lalu.

Tukik dipenangkaran penyu di kawasan pantai Batu Kumbang dapat dijadikan icon kabupaten Mukomuko. Untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara ke Ipuh. Namun, kondisi tersebut musti adanya dukungan dari pemerintah daerah Mukomuko.

Perhatian itu mulai dari adanya perhatian untuk anggota hingga papan larangan untuk pemburuan telur penyu di sepanjang pantai di kecamatan Ipuh. 

''Sampai saat ini belum ada sama sekali perhatian dari pemerintah. Sementara di Ipuh memiliki potensi wisata yang dapat menarik kalangan wisatawan untuk berkunjung. baik itu penangkaran penyu hingga pantai Batu Kumbang,'' sampai Edi.

Pelepasliaran tukik di tepi pantai Batu Kumbang desa Pulau Baru kecamatan Ipuh, Mukomuko . Foto jelajahhutan


No comments:

Post a Comment