jelajahhutan.com

Let's the journey begin!


Baca Juga

Budidaya lebah madu di desa Pal VIII Kecamatan Bermani Ulu Raya, Rejang Lebong. Dok jelajahhutan
BENGKULU - Budidaya lebah madu, biasanya di lakoni kaum pria. Namun, lain halnya dengan di wilayah ini. Budidaya lebah madu di lakoni kaum perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama. Di desa Pal VII, tepatnya.

Kaum perempuan itu rela berburu ''Ratu Lebah'' di hutan kawasan TNKS serta areal perkebunan masyarakat setempat. Untuk dipindahkan ke kotak lebah di areal perkebunan milik anggota KPPL dan masyarakat setempat untuk dibudidayakan.

Daerah ini merupakan salah satu desa di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), di Kecamatan Bermani Ulu Raya. Wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Lebong, ini memiliki potensi budidaya lebah madu.

Budidaya lebah itu diintegrasikan dengan agroforestri berbasis kopi, durian, kakao, serta tanaman lainnya. Desa yang ditetapkan sebagai ASEAN Heritage Park atau Warisan Alam ASEAN ini berjarak sekira 15 kilometer (KM) dari pusat pemerintah kabupaten (Pemkab) Rejang Lebong.

Di desa yang menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra atau World Heritage Sites atau Warisan Dunia, ini telah melakukan budidaya lebah madu, sekira tujuh bulan. Terhitung sejak bulan Mei hingga Desember 2018. Meskipun masih berusia jagung, budidaya lebah madu yang di kelola kaum perempun tersebut mulai menghasilkan.

Di mana, budidaya lebah madu sudah menghasilkan madu murni. Tidak kurang dari setengah liter, hasil dari satu lempeng dalam kotak lebah madu yang selama ini telah diisi ''Ratu Lebah'' beserta gerombolannya.

''Mencari 'ratu lebah' di hutan. Itu gampang-gampang susah. Kalau sudah ketemu sama ratu lebah di tangkap lalu dipindahkan ke kotak lebah madu yang sudah disiapkan di areal perkebunan,'' kata Ketua Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama, desa Pal VII Kecamatan Bermani Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong, Rita Wati (48) didampingi Sekretaris KPPL-MB, Liswanti, Jumat 29 Desember 2018.

Budidaya lebah Madu. dok Jelajahhutan
Alternatif Mitigasi Perubahan Iklim
Budidaya lebah madu diintegrasikan dengan agroforestri berbasis kopi dan tanaman lainnya dapat meningkatkan hasil perkebunan. Khusunya, kopi. Di mana, dengan adanya budidaya lebah madu di sekitar perkebunan kopi dapat meningkatkan hasil biji kopi sekira 17 persen hingga 39 persen per hektare (Ha).

Sebab, lebah dapat memberikan penyerbukan secara sempuran di tanaman kopi, khususnya di areal perkebunan kopi milik warga yang dijadikan lokasi budidaya lebah madu. Selain itu, lebah memiliki daya jelajah tidak kurang dari 30 kilometer (KM) untuk mencari pakan.

Dengan luasan daya jelajah tersebut, lebah telah memberikan penyerbukan terhadap tanaman di sekitar areal perkebunan milik warga setempat. Seperti, kopi, durian, kakao, nangka serta tanaman lainnya.

''Areal jelajah lebah itu akan dilakukan penyerbukan oleh lebah. Lebah bisa meningkatkan produktivitas tanaman kopi durian, nangka, kakao dan tanaman lainnya, makanya budidaya lebah ini kami lakukan,'' jelas Rita, diamini Liswanti.

Selain dapat meningkatkan hasil perkebunan milik masyarakat. Lebah juga berfungsi sebagai mitigasi perubahan iklim. Sebab, lebah dapat menyerap karbon dari tanaman di sekitar. Seperti, halnya tanaman kopi yang dipengaruhi cuaca. Dengan adanya lebah, dapat mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim.

''Lebah dapat menjaga dan menyerap karbon. Sebab, tanaman kopi yang ada di areal perkebunan dipengaruhi cuaca, dengan adanya lebah maka bisa mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim,'' sampai Rita.

Budidaya Lebah Madu di Kabupaten Rejang Lebong. Dok Jelajahhutan
Strategi Ketahanan Pangan
Budidaya lebah madu yang digiatkan kaum perempuan di desa Pal VIII, merupakan salah satu langkah strategi dalam ketahanan pangan. Di mana, sarang atau kotak lebah madu yang diletakkan di areal perkebunan milik warga dapat meningkatkan produktivitas hasil perkebunan.

Mulai dari perkebunan kopi, durian, kakao serta tanaman lainnya. Terlebih, sarang lebah yang telah didiami ''ratu lebah'' beserta gerombolannya untuk menghasilkan madu murni.

''Satu kotak atau sarang bisa menghasilkan delapan botol madu, ukuran 1/2 liter. Kalau sudah produktif tiga bulan sekali panen,'' kata ketua Kelompok Lebah Madu, Desa Pal VIII, Sumbonot, Jumat 29 Desember 2018.

Budidaya lebah madu di desa Pal VIII mulai digeluti masyarakat. Di mana di desa ini sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah provinsi Bengkulu, sebanyak 25 kotak beserta perlengkapan lain dalam kebutuhan budidaya lebah madu. Hal ini disampaikan, Kepala desa (Kades) Pal VII, Prisnawati, Jumat 29 Desember 2018.

Prisnawati menyampaikan, bantuan yang diperoleh sebanyak 25 kotak. Dari jumlah itu 3 diantaranya di kelola kaum perempuan, KPPL Maju bersama. Sementara, lainnya di kelola kaum pria warga desa setempat.

Dalam budidaya lebah tersebut, sampai Prisnawati, kaum ibu-ibu mencari ''Ratu Lebah'' di hutan. Di mana setiap kotak membutuhkan satu ratu lebah. Setelah ratu lebah berhasil dipindahkan ke kotak atau sarang di areal perkebunan, terang Prisnawati, lebah masih membutuhkan penyesuaian terlebih dahulu dengan lingkungan sekitar atau di areal kotak tersebut.

Dari 25 kotak lebah madu yang diletakkan tersebar di areal perkebunan warga, 15 kotak lebah madu sudah terisi lebah. Di mana, 12 di kelola kaum pria dan 3 kotak di kelola kaum perempuan.

Masyarakat setempat melihat adanya potensi ekonomis atas budidaya lebah madu. Di mana, budidaya lebah madu dapat meningkatkan perekonomian warga dari madu yang sudah dihasilkan. Terlebih dalam peningkatan produktivitas hasil perkebunan.

''Butuh penyesuaian dalam beberapa bulan. Bahkan ada yang tidak betah sehingga ratu dan gelobolannya minggat. Kalau di jual harga madu setengah liter seharga Rp100 ribu,'' sampai Prisnawati.

No comments:

Post a Comment