jelajahhutan.com

Let's the journey begin!

Baca Juga

Desa Sukarami kecamatan Taba Penanjung yang merupakan salah satu desa yang didiami masyarakat keturunan suku satu atau suku Paljemas. Dok jelajahhutan
BENGKULU - Bengkulu, satu dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'' ini memiliki 10 kabupaten dan kota. Di mana di setiap daerah memiliki desa atau kelurahan serta kecamatan. Tidak terkecuali di Kabupaten Bengkulu Tengah.

Di kabupaten bermotto 'Maroba Kite Maju' ini memiliki salah satu desa. Dahulunya, dusun berada di pedalaman atau terpencil di Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah. Namun, dusun itu sudah 'hilang', selama 64 tahun. Dusun dengan seluas sekira satu hektare (Ha) itu memiliki empat penjuru tempat mandi.

Seperti di bagian selatan, terdapat dua lokasi pemandian masyarakat yang di aliri aliran sungai Penawai dan di bagian Utara terdapat dua lokasi pemandian yang berasal dari aliran sungai Rembio. Namun, saat ini dusun itu sudah 'di telan Bumi', lantaran di tinggal pergi penduduk asli suku Paljemas.

Minggu 16 Desember 2018, cuaca di Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu, cerah berawan. Begitu juga dengan kabupaten yang berjarak sekira 25 kilometer (km) dari Kota Bengkulu ini, Bengkulu Tengah. Termasuk di desa Sukarami Kecamatan Taba Penanjung dan desa Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi.

Di desa Sukarami, ada salah satu keturunan dari suku Paljemas, suku dari dusun Napal Ujan Emas (Napajemas). Hairum (67), namanya. Pria berkumis itu keturunan dari nenek moyang, Suku Satu. Rumahnya, tak jauh dari perbatasan desa, 15 meter kira-kira. Di perbatasan desa Sukarami dan Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi, tepatnya.

Sore itu, pria kelahiran 1951 tahun silam itu baru pulang dari kebun. Mengenakan baju lengan panjang, dengan perpaduan berbagai warna dengan mengenakan celana dasar atau 'goyang'. Di usia yang sudah uzur, pria 67 tahun ini masih teringat cerita asal muasal dusun Napal Ujan Emas. Tempat tanah kelahirannya.

Dusun itu merupakan dusun terpencil berada di pedalaman. Namanya, Napal Ujan Emas. Napajemas, masyarakat setempat menyebutnya. Dusun itu sudah hilang di 'telan bumi'. Saat ini telah menjadi hutan belantara dan areal perkebunan masyarakat. Daerah tersebut ditinggalkan penduduk sejak 64 tahun atau sekira tahun 1954.

Mereka mengungsi ketiga dusun. Saat ini sudah menjadi desa. Seperti, desa Sukarami Kecamatan Taba Penanjung, desa Durian Demang dan Penanding Kecamatan Karang Tinggi. Tiga desa tersebut merupakan bagian dari 143 desa/kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan di Kabupaten Bengkulu Tengah.

''Dusun itu sekarang sudah tidak ada. Sudah menjadi areal perkebunan dan hutan belantara,'' kata Hairum, ketika ditemui di kediamannya, Minggu 16 Desember 2018.

Asal Muasal Nama Dusun Napajemas
Dusun Napajemas merupakan dusun terpencil berada di pedalaman provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''. Dusun itu diketahui sudah ada sejak jaman nenek moyang masyarakat Napajemas, suku satu. Masyarakat setempat menyebut suku Paljemas.

Tidak di ketahui secara persis tahun berapa nenek moyang suku paljemas berada di dusun itu. Di ketahui sebelum tahun 1900-an dusun tersebut sudah berpenghuni.

Sebelum lenyap 'di telan bumi', dusun yang berjarak sekira tujuh kilometer (KM) dari pusat desa Sukarami Kecamatan Karang Tinggi ini memiliki aliran sungai. Sungai itu terdapat di bagian bawah dusun. Namanya, sungai Penawai. Di bagian tepi aliran sungai terdapat napal. Napal itu berbentuk mirip dengan dinding.

Napal itu pun mengeluarkan percikan air, air terjun. Masyarakat terdahulu menyebutnya dengan nama 'Napal Menangis'. Air percikan mirip air terjun itu ketika jatuh ke bagian bawah mirip emas. Sehingga nama dusun itu di beri nama Napal Ujan Emas.

''di bagian bawah dusun ada aliran sungai, di tepi sungai terdapat napal terbentuk mirip dinding. Napal itu mengeluarkan percikan air. Saat air percikan jatuh ke bawah mirip emas. Makanya dusun itu di sebut Napal Ujan Emas,'' cerita Hairum (67).

Terowongan Ajaib di Dusun Napajemas
Selain memiliki napal berbentuk mirip dinding dengan mengeluarkan percikan air yang saat jatuh ke bawah mirip emas. Di dusun Napajemas juga memiliki terowongan ajaib. Terowongan itu terbentuk secara sendirinya. Letaknya, di bawah dusun Napajemas.

Konon, terowongan tersebut tembus ke desa tetangga. Desa Tanjung Raman Kecamatan Taba Penanjung, namanya. Panjangnya, tidak kurang dari lima kilometer (KM). Terowongan itu pun di aliri aliran sungai penawai dari dusun Napajemas hingga menembus ke aliran sungai Kemumu di desa Tanjung Raman.

Terowongan sejauh 5 KM itu tembus, lantaran para pendahulu masyarakat dusun Napajemas melakukan uji coba dengan cara tradisonal. Di mana dari masyarakat dusun Napajemas menghanyutkan lesung yang terbuat dari bambu dari aliran sungai Penawai. Al hasil, lesung tersebut muncul di aliran sungai Kemumu, desa Tanjung Raman.

Hal serupa juga di lakukan pendahulu masyarakat dari desa Tanjung Raman. Mereka menghanyutkan gulungan daun pisang, dari aliran sungai Kemumu. Gulung daun pisang itu pun sampai ke aliran sungai Penawai, di dusun Napajemas. Sehingga masyarakat setempat baru mengetahui jika terowongan ajaib itu tembus ke desa tetangga.

''Belum ada yang berani masuk ke dalam terowongan itu. Masyarakat pendahulu hanya mencoba dengan cara menghanyutkan lesung dan gulungan daun pisang. Apa yang dihanyutkan itu muncul, di dusun Napajemas dan muncul juga di desa Tanjung Raman,'' sampai Ketua Adat desa Sukarami, ini.

Induk Emas di Dalam Terowongan Ajaib
Terowongan di bawah dusun Napajemas bukan hanya menumbus ke daerah lainnya. Namun, di dalam terowongan sepanjang 5 KM itu diketahui menyimpan induk emas. Ukurannya sebesar induk kambing dewasa, kira-kira. Konon, induk emas tersebut berada di bagian tengah terowongan. Induk emas itu pun diketahui di jaga ikan plus berukuran besar. 

Sekira tahun 1940-an, keberadaan induk emas di dalam terowongan tersebut di ketahui penjajah Belanda. Mereka pun mencoba masuk ke dusun Napajemas. Setiba di dusun itu mereka meneropong letak induk emas di dalam terowongan, yang selama ini sudah di ketahui masyarakat pendahulu dusun Napajemas.

Sejak tahun itu pula secara berangsur masyarakat Napajemas mulai meninggalkan tempat tanah kelahiran mereka. Hal tersebut lantaran penjajah Belanda berkeinginan membelah terowongan, untuk mengambil induk emas di dalam terowongan ajaib yang selama ini masih tersimpan.

Penduduk asli yang mulai meninggalkan dusun Napajemas, mengungsi ketiga wilayah yang saat ini menjadi desa. Seperti, desa Sukarami Kecamatan Taba Penanjung, Pananding Kecamatan Karang Tinggi dan desa Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi.

Setelah meneropong keberadaan induk emas di dalam terowongan, penjajah Belanda kembali datang untuk kedua kalinya. Hal tersebut untuk menyesaikan rencana pembelahan terowongan. Niat pembelahan terowongan itu gagal. Konon, induk emas sebesar induk kambing dewasa yang di jaga ikan plus berukuran jumbo itu sudah pindah ke Gunung Bungkuk.

''Induk emas itu secara ajaib pindah ke gunung Bungkuk. Induk Emas itu diketahui di jaga ikan plus berukuran besar,'' kisah Hairum, sembari mengingat cerita. 

Ketua Adat desa Sukarami Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah, Hairum. Dok jelajahhutan 
Masyarakat Napajemas Tinggalkan Dusun Napajemas
Penjajah Belanda masuk untuk kedua kalinya ke dusun Napajemas. Sehingga masyarakat setempat menjadi ketakutan dan panik untuk bergegas meninggalkan dusun. Penduduk asli Napajemas pun kembali mengungsi ketiga desa. Desa Penanding, Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi dan desa Sukarami Kecamatan Taba Penanjung.

Meskipun demikian, kisah Hairum, saat itu tentara hitam melakukan perlawanan dan pertempuran terhadap penjajah Belanda yang ada di dusun Napajemas. Perlawanan tersebut membuat penjajah Belanda berhasil di pukul mundur tentara hitam. Sementara rencana pengambilan induk emas di dalam terowongan ajaib pun berhasil digagalkan.

Sejak itu, kata Hairum, induk emas yang diinginkan penjajah Belanda tidak berhasil diambil. Di masa keberhasilan pengusiran penjajah Belanda, tentara hitam pun secara berangsur meninggalkan dusun tersebut. Hal tersebut juga diikuti oleh masyarakat setempat.

''Induk emas tidak berhasil diambil oleh penjajah Belanda,'' ujar Hairum.

Sekira tahun 1954 dusun Napajemas mulai ditinggalkan secara keseluruhan oleh penduduk asli masyarakat dusun Napajemas. Hairum sendiri meninggalkan dusun tempat tanah kelahirannya saat duduk di bangku kelas II sekolah dasar (SD). Sejak tahun itu pun dusun Napajemas hilang 'di telan bumi'.

''Mulai ditinggalkan pada tahun 1954. Saat ini saya sudah berusia delapan tahun, duduk di bangku kelas II SD,'' ulas Hairum.

Ditambahkan tokoh masyarakat desa Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi, Lamsir (67), dusun Napal Ujan Emas hilang karena adanya penjajah yang menyerbu dusun. Sehingga penduduk yang mendiami dusun menjadi ketakutan dan memilih mengungsi ke daerah yang lebih aman.

''Saya mengungsi ke desa Durian Demang, ketika usia 10 tahun. Kala itu ada penjajah Belanda masuk ke dusun,'' ingat keturunan suku Paljemas, ketika ditemui, Minggu 16 Desember 2018.

Harimau Masuk ke Dusun, Masyarakat Napajemas Mengungsi
Pengosongan dusun Napajemas bukan hanya pengaruh masuknya penjajah Belanda ke daerah itu. Namun, masyarakat dusun meninggalkan tanah kelahiran mereka juga disebabkan adanya serang Hariamau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Di mana harimau masuk ke kawasan dusun hingga pemukiman penduduk. Masyarakat dusun yang kala itu sudah mendiami dusun tidak kurang dari 50 kepala keluarga (KK) menjadi takut. Sehingga mereka memilih untuk 'angkat kaki' dari dusun, tanah kelahiran mereka.

Harimau yang turun gunung tersebut, cerita Hairum, merupakan imbas dari serangan harimau di desa Karang Anding. Konon, harimau sempat menerkam masyarakat di desa itu. Tak hanya itu, harimau pun diketahui sempat mengobak-abrik pemukiman penduduk di wilayah itu.

Setelah menerkam masyarakat desa, ingat Hairum, harimau kembali menjelajah daerah dusun Napajemas, Kota Niur dan Tanjung Raman. Di mana desa tersebut masih dalam satu kawasan yang jaraknya tidak terlampau jauh.

''Kami pindah karena ada faktor dari harimau masuk ke dusun. Bukan hanya dusun kami yang didatangi harimau. Desa Kota Niur dan Tanjung Raman juga disabangi harimau. Untungnya, tidak ada masyarakat yang diterkam harimau,'' cerita Hairum, sembari mengingat-ingat kembali kisah pendahulu masyarakat Napajemas.

Dilanjutkan tokoh masyarakat desa Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi, Lamsir (67), kedatangan harimau ke dusun Napajemas yang masuk hingga areal pemukiman penduduk dan areal perkebunan membuat masyarakat menjadi tidak berani keluar.

Kedatang harimau itu di kawasan dusun, sampai Lamsir, disebut masyarakat sebagai ''Musim Panas'' yang mengartikan harimau turun gunung. Secara berangsur masyarakat yang menempati dusun pindah ketiga desa. Yakni, Desa Penanding, Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi dan desa Sukarami Kecamatan Taba Penanjung. 

''Dusun kami didatangi Harimau, sehingga masyarakat ingin menyelamatkan diri dan mengungsi. Di dusun kala itu tidak ada yang diterkam atau di makan harimau,'' kisah Lamsir didampingi istrinya, Naryati (67).

Pohon Benuang Sakti Dijaga Siamang Putih Tangan
Cerita yang diterima secara turun-menurun oleh masyarakat suku Paljemas, di dusun Napajemas tumbuh sebatang pohon yang berukuran sangat besar. Pohon Benuang Sakti, namanya. Pohon itu ditunggu oleh Siamang Putih Tangan. Siamang Putih Tangan memiliki kesaktian.

Konon, jika Siamang Putih Tangan mengeluarkan suara ke arah barat, maka salah satu warga yang berada di arah barat tersebut akan meninggal dunia. Begitu juga, ketika Siamang mengeluarkan suara ke arah Timur, Selatan dan Utara maka ada masyarakat di arah tersebut akan meninggal dunia.

Lantaran terusik dengan ulah siamang yang selalu mengeluarkan suara, kisah Hairum, masyarakat atau nenek moyang dusun Napajemas berusaha memotong pohon kayu Benuang Sakti yang di tunggu Siamang Putih Tangan. Hal itu guna mengusir Siamang Putih Tangan dari pohon tersebut.

Setelah bermusyawarah secara bersama, ulas Hairum, masyarakat dusun Napajemas secara bergotong royong memotong atau menebang pohon Benuang Sakti yang berukuran sangat besar tersebut. Sayangnya, kala itu masyarakat yang memotong pohon itu belum dapat menyelesaikan penebangan pohon selama satu hari.

Masyarakat kembali melanjutkan penebangan pohon keesokan harinya. Sayangnya, saat ingin kembali menebang pohon tersebut, pohon sudah terpotong setengah kembali utuh. Sehingga membuat masyarakat kala itu menjadi bingung atas kesaktian pohon yang di huni Siamang Putih Tangan.

''Pohon baru berhasil di potong setengah. Ukuran pohonnya sangat besar, susah untuk dibayangkan sebesar apa. Usai di potong keesokan harinya pohon yang sudah di tebang kembali utuh,'' ulas Hairum.

Saat itu, kisah Hairum, di dusun Napajemas memiliki orang sakti. Di mana, orang sakti tersebut menyampaikan jika ingin menebang pohon Benuang Sakti harus menyiapkan 40 orang Bujang dan 40 orang Gadis, sebagai syarat untuk menebang pohon tersebut.

Puluhan bujang dan gadis itu di susun memanjang di dekat pohon Benuang Sakti. Selanjutnya, 80 bujang dan gadis itu di tutupi pelupuh baru dan pelupuh lama. Setelah syarat terpenuhi sesuai anjuran orang pintar atau orang sakti, pohon kayu Benuang Sakti berhasil di tebang.

''Syarat yang diminta itu 40 Bujang dan Gadis yang masih hidup. Setelah di penuhi pohon kayu berukuran besar itu berhasil di tebang secara bergotong-royong. yang ikut menebang pohon Benuang Sakti puluhan orang,'' cerita Hairum.

Pohon yang berhasil di tebang itu, sampai Hairum, roboh ke arah timur atau mengarah ke Kabupaten Kepahiang, Bengkulu dan sebagian mengarah ke arah Utara atau ke arah Kabupaten Rejang Lebong. Daerah yang terkena dampak jatuhnya pohon Benuang Sakti itu, kisah Hairum, tanah di wilayah itu menjadi subur.

Sebab, kata Hairum, bagian pohon Benuang yang jatuh ke dua kabupaten itu merupakan daun dan ranting pohon Benuang Sakti. Sementara, untuk bagian batang pohon jatuh di wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah, sehingga tahan di daerah Bengkulu Tengah, menjadi gersang.

''Saya tidak dapat membayangkan berapa besar ukuran pohon itu. Cerita terdahulu jika bagian pohon jatuh ke arah Kepahiang dan Rejang Lebong,'' ujar Hairum, sembari mengingat cerita terdahulu.

Asal Muasal Suku Paljemas
Dusun Napajemas merupakan salah satu kawasan penduduk yang diketahui sudah ada sejak jaman nenek moyong Suku Paljemas atau Suku Satu, di Kabupaten Bengkulu Tengah. Dahulunya, suku Paljemas memiliki tiga nenek moyang atau poyang. Yakni, Poyang Semidang, Gumay dan Poyang Suku Satu.

Konon, asal muasal hadirnya suku Paljemas adanya kesepakatan dari tiga poyang yang mendiami dusun Napajemas. Kesepakatan pembagian suku bahasa daerah oleh tiga poyang. Dalam pembangian suku bahasa daerah tersebut, mereka bertiga menggelar sidang dengan melibat masyarakat setempat.

Hairum mengisahkan, dalam acara sidang pembagian suku bahasa daerah. Poyang Semidang dan Gumay, sudah tiba di lokasi sidang dengan dihadiri masyarakat. Sementara, poyang Suku Satu belum kunjung tiba. Poyang Semidang dan Gumay pun cukup bersabar menunggu kehadiran Poyang Suku Satu.

Setelah sekian lama menunggu kedatangan poyang Suku Satu, kisah Hairum, poyang Semidang dan Suku Satu memutuskan untuk membagi suku bahasa daerah. Sementara, poyang Suku Satu belum mendapatkan suku bahasa daerah. Usai membagi suku bahasa daerah, Poyang Sauku Satu, pun tiba di lokasi sidang pembagian suku bahasa daerah.

''Poyang Suku Satu terlambat datang karena ketiduran,'' ulas Hairum.

Mendengar dua poyang telah membagikan dua suku bahasa daerah, lanjut Hairum, kedua poyang pun memutuskan jika suku bahasa daerah untuk poyang Suku Satu diberikan suku bahasa daerah dari berbagai daerah.

Seperti mengambil suku bahasa daerah dari Minang, Sumatera Barat, Jawa, Lembak, Rejang, Serawai, Melayu dari suku bahasa daerah di Bengkulu.

''Kami sudah membagi suku bahasa daerah,'' cerita Hairum, meniru ucapan dua poyang, Semidang dan Gumay, sembari mengingat cerita terdahulu.

Bahasa Paljemas, Gabungan Berbagai Suku Bahasa Daerah 
Bahasa yang diperoleh poyang Suku Satu itu, jelas Hairum, di terima poyang Suku Satu. Di mana dalam pengucapan bahasa daerah suku satu itu mengambil sedikit-sedikit bahasa daerah dari berbagai daerah.

''Saat berbicara suku satu atau paljemas mengucapkan kata-kata percampuran dari berbagai bahasa daerah. Mulai Jawa, Minang, Lembak, Serawai, Melayu. Penyampaian ucapan saat berbicara pun ada bahasa daerah yang masuk,'' jelas Hairum.

Hairum mencontohkan, pengucapan dalam bahasa Paljemas. Mela Kito Pai ke Umo artinya Ayo kita pergi ke sawah, contohnya. Ucapan tersebut gabungan dari berbagai bahasa daerah. Mulai dari Serawai, Melayu dan Rejang. Pengucapan bahasa Paljemas, terang Hairum, tergantung dengan yang ingin disampaikan.

''Bahasa daerah suku satu yang menjadi bahasa daerah Paljemas, merupakan bahasa daerah yang ada di Bengkulu. Masyarakat menyebut suku Paljemas, nama itu berasal dari dusun Napal Ujan Emas. Oleh masyarakat di singkat enjadi Paljemas,'' terang Hairum.

Berangkat dari cerita terdahulu, sampai Hairum, suku bahasa daerah Paljemas masih dilestraikan oleh keturunan suku satu. Di mana penggunaan bahasa daerah tersebut hanya dilakukan sesama suku Paljemas.

''Susah untuk ngomong (berbicara) kaau bukan dengan sesama suku paljemas. Intinya, bahasa paljemas mengambil dari berbagai bahasa suku daerah,'' pungkas Hairum.

No comments:

Post a Comment