Kisah Anggota Polisi Jadi Pemulung untuk Bantu Masyarakat Miskin

Sedekah Sampah. Foto Dok jelajahhutan
BENGKULU - Mulyadi, salah satu anggota kepolisian yang berhati mulya. Musti hidupnya serba kekurangan dirinya tetap membantu antar sesama di wilayah desa binaannya. Pria yang bertugas di Pos Polisi (Pos Pol) Kecamatan XIV Koto Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu ini rela menjadi ''pemulung'' untuk membantu masyarakat kurang mampu.

Pria berpangkat Aipda ini sudah melakoni menjadi pemulung sejak sembilan bulan lalu. Meskipun menjadi pemulung tugas pokoknya sebagai anggota Polri tetap berjalan seperti biasanya. Di mana dirinya tetap bertugas melayani masyarakat di wilayah empat desa binaannya. Seperti, desa Tanjung Mulya Sp9, Lubuk Sanai, Pauh Terenja dan desa Rawa Bangun.

Mulyadi, merupakan salah satu Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) yang sejak delapan tahun silam menempati Po Pol XIV Koto. Sejak itu pun dirinya selalu memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat setempat. Bahkan, sejak dirinya bertugas banyak menemukan masyarakat kurang mampu yang masih membutuhkan perhatian.

Pagi hari itu, cuaca di Kabupaten Mukomuko, cerah berawan. Termasuk Desa Lubuk Sanai Kecamatan XIV Koto. Mulyadi bersama istrinya, Yuli Rosdiana serta anak pertamanya, Adinda Ramadani Mulya Putri (14) duduk santai di depan Pospol. Tidak ada kemewahan di pos pol sekaligus tempat tinggal pasangan suami istri (Pasutri) ini, sederhana.

Bangunannya pun hanya semi permanen. Mayoritas terbuat dari papan. Ukurannya tidak terlalu besar, 5x6 kira-kira. Di depan pos pol hanya terdapat dua meja dan kursi, terbuat dari kayu. Bagian atas rumah pun belum di plafon. Di bagian depan pos pol terdapat tumpukan barang bekas, di samping pos pol tepatnya.

Mulai dari koran, buku bekas, plastik bekas minuman air meneral dan besi. Barang bekas tersebut merupakan hasil Mulyadi memulung di desa setempat setiap hari. Di mana suami dari Yuli Rosdiana tersebut mengumpulkan barang bekas dari warung-warung, sekolah-sekolah serta rumah masyarakat setempat.

Selain menjalankan tugas mengontrol kondisi lingkungan masyarakat, bapak dari dua orang anak ini juga mensosialisasikan kepada masyarakat untuk dapat ''Bersedekah sampah. Bersedekah Sampah Bernilai Ibadah''. Di mana Mulyadi meminta sedekah agar masyarakat dapat mengumpulkan barang bekas di depan rumah masing-masing. Begitu juga dengan sekolah di daerah tersebut.

Sosialisasi tersebut Mulyadi lakukan tidak lain agar lingkungan masyarakat terbebas dari sarang penyakit, serta barang bekas dapat dimanfaatkan untuk membantu orang kurang mampu. Caranya, barang bekas akan dijual kepada pengepul yang nantinya akan dibeli sesuai dengan harga pasaran.

''Hasil dari penjualan barang bekas dari sedekah sampah masyarakat akan saya kembalikan lagi ke masyarakat. Hasil penjualan akan saya berikan kepdada masyarakat kurang mampu,'' kata Mulyadi, Senin 24 September 2018.


Sedekah Sampah, Mulyadi Memulung Barang Bekas
Hari itu, bapak dari Adinda Ramadani Mulya Putri dan Pandu Bramarta Mulya ini mengambil sedekah sampah dari sekolah dasar negeri (SDN) 01 XIV Koto. Sedekah sampah itu merupakan hasil dari kumpulan murid SD serta dewan guru yang membawa secara ikhlas ke sekolah untuk diberikan kepada Mulyadi. Sedekah sampah itu mulai dari bekas botol air mineral, koran dan buku.

Usai mengambil sekedakh sampah di SDN 01 XIV Koto. Mulyadi kembali memulung, sedekah sampah dari siswa/i SMK Negeri 3 Mukomuko. Di sekolah itu berhasil terkumpul barang bekas air mineral dan gelas plastik bekas minuman. Di mana sebelumnya dirinya telah menyampaikan ke pihak sekolah agar dapat bersedekah sampah, untuk membantu masyarakat kurang mampu.

Barang bekas di sekolah itu merupakan hasil sedekah siswa/i dan dewan guru yang dikumpulkan setiap hari. Di mana sedekah sampah itu dikumpulkan di samping kantin sekolah. Tidak berhenti sampai di situ. Mulyadi kembali mengambil sedekah sampah dari salah satu rumah warga Desa Tanjung Mulya SP9 Kecamatan XIV Koto.

Sedekah sampah itu dikumpulkan masyarakat secara sukarela. Di mana dirinya hanya menyediakan karung agar masyarakat dapat bersedekah sampah berupa barang bekas. Mulyadi melakoni sebagai pemulung tersebut setiap hari tanpa adanya rasa malu sedikit pun. Sebab, apa yang dia lakukan untuk meringankan beban masyarakat kurang mampu meskipun dirinya hidup berkecukupan.

''Saya mensosialisasikan sedekah sampah setiap hari dari rumah ke rumah, dari sekolah ke sekolah dan dari watung ke warung. Itu saya lakukan bersamaan dengan menjalankan tugas sebagai Bhabinkamtibmas di desa binaan saya,'' sampai suami dari Yuli Rosdiana.


Ajak Sedekah Sampah, Mulyadi Sambangi Warung, Rumah dan Sekolah  
Sedekah sampah yang dilakukan sosok Mulyadi, bermula dari anak pertamanya, Adinda Ramadani Mulya Putri (14). Di mana anak pertamanya tersebut mengalami disabilitas, yang membutuhkan perhatian khusus. Selain itu, adanya rasa kepedulian antar sesama di wilayah binaanya. Terutama masyarakat kurang mampu.

Berangkat dari kondisi tersebut, suami dari Yuli Rosdiana ini, mencari ide dan solusi untuk meringankan dan membantu beban masyarakat kurang mampu tersebut. Ide itu pun muncul melalui membaca salah satu judul buku yang ada di perpustakaan keliling miliknya.

Tidak ingin menunggu waktu lebih lama, Mulyadi langsung menerapkan apa yang ada di dalam buku tersebut. Bulan Januari 2018, tepatnya. Mulanya, bapak dua orang anak ini membawa karung ke warung di desa setempat untuk dititipkan. Sebelum menitipkan karung tersebut, Mulyadi menyampaikan, agar pemlik warung dapat sedekah sampah.

Dengan cara memasukkan barang bekas kedalam karung. Mulai dari bekas minuman air mineral, kardus atau yang tidak berguna lagi. Pada kesempatan itu juga dirinya menyampaikan jika barang bekas hasil penjualan tersebut akan membantu masyarakat kurang mampu.

Selain mendatangi warung-warung, Mulyadi mendatangi sekolah-sekolah. Mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA di daerah tersebut. Penyampaian kepada pihak sekolah pun sama. yakni, mengajak murid, siswa serta dewan guru bersedekah sampah. begitu juga dengan masyarakat diempat desa di wilayah binaannya.

''Pertama-tama sama mendatangi warung-warung, karena warung banyak barang bekas yang tidak dimanfaatkan. Mulai dari sisa dari botol air mineral atau plastik, atau barang yang memiliki nilai jual lainnya. Setelah itu baru ke lingkungan sekolah dan rumah-rumah,'' kata pria kelahiran 1978 ini.


Pos Pol Dijadikan ''Gudang'' Barang Bekas
Setelah barang bekas terkumpul di warung, sekolah dan rumah warga, Mulyadi pun mengambil barang bekas tersebut dengan cara mengajak pengepul guna mengambil barang bekas sedekah dari masyarakat. Barang bekas itu pun langsung dibawa ke ''gudang''. Tepatnya di Pos Pol yang menjadi tempat tinggal Mulyadi bersama istrinya.

Setiba di ''gudang'' Mulyadi pun langsung menimbang hasil dari sedekah masyarakat tersebut. Di mana pada kesempatan it pengepul pun langsung membayar hasil kumpulan sedekah sesuai dengan harga jual di pengepul lainnya. Dari penjuala barang bekas itulah Mulyadi membantu orang miskin di lingkungan desa binaannya.

''Saya tidak ingin menunggu lebih lama. Barang bekas langsung di jual dan uangnya akan di kumpul terlebih dahulu, setelah mencukupi untuk membantu orang miskin maka bantaun tersebut langsung diserahkan kepada yang berhak menerima,'' jelas Mulyadi.

Bantuan yang disalurkan pun tidak dalam bentuk uang. Namun, Mulyadi menyerahkan bantuan kepada masyarakat kurang mampu dalam bentuk barang. Seperti, seragam sekolah, buku, tas, obat-obatan, kursi roda serta kebutuhan mendesak lainnya. Sebelum menyerahkan bantuan kepada masyarakat kurang mampu Mulyadi berkoordinasi dengan perangkat desa setempat.

Di mana Mulyadi berkoordinasi dengan kepala desa. Apakah di desa tersebut terdapat masyarakat kurang mampu yang benar-benar membutuhkan bantuan. Serta apakah kebutuhan mendesak yang dibutuhkan tersebut. Selanjutnya Mulyadi membelikan barang-barang kebutuhan itu untuk langsung disalurkan kepada warga miskin tersebut.

''Bantuan yang saya berikan dalam bentuk barang. Sejak sedekah sampah ini setidaknya sudah lima warga sudah terbantu. Mulai dari kursi roda, seragam sekolah, serta biaya pengobatan untuk masyarakat,'' ujar Mulyadi.


Salurkan Bantuan Kursi Roda Disambut Isak Tangis
Hari itu, Mulyadi berhasil mengumpulkan sedekah sampah dari SDN 01 XIV Koto dan SMK 3 Mukomuko. Setelah ditimbang, barang bekas tersebut menghasilkan nominal uang sebesar Rp486 ribu, dengan berat barang bekas seberat 179 kilogram (Kg). Mulai dari bekas air mineral, keras, koran dan besi. Hasil penjualan tersebut dikumpulkan terlebih dahulu.

Sementara, istri Mulyadi, Yuli Rosdiana mencatat penghasilan dari sedekah sampah serta barang bekas yang berhasil dikumpulkan. Hasil penjualan tersebut, akan disimpan terlebih dahulu, sembari berkoordinasi dengan perangkat desa terkait dengan masyarakat mana yang akan diberikan bantuan dan layak untuk dibantu.

Bantuan yang diberikan kepada masyarakat kurang mampu pun, Mulyadi memiliki katagori tersendiri. Seperti masyarakat yang penghasilannya dibawah Rp1 juta. Setelah adanya usulan atau koordinasi dengan perangkat desa, Mulyadi langsung mengverfikasi atas usulan yang akan diberikan bantuan tersebut.

Selain memberikan bantuan, Mulyadi juga mengajak pemuka agama untuk datang ke lokasi penyaluran atau masyarakat yang akan dibantu. Di mana tokoh agama akan mendoakan agar bantuan tersebut dapat bermanfaat dan bisa meringankan beban masyarakat yang selama ini mengalami kekurangan.

Salah satu warga yang mendapatkan bantuan dari sedekah sampah tersebut, Panem (57). Panem merupakan masyarakat kurang mampu yang sejak enam bulan lalu, lumpuh. Warga Desa Tanjung Mulya SP9 Kecamatan XIV Koto. Panem membutuhkan bantuan kursi roda, yang mana sejak lumpuh Panem hanya bisa tergolek lemas di atas kasur.

Dari pantauan jelajahhutan, penyaluran kursi roda itu pun berlangsung haru. Di mana Panem, sempat meneteskan air mata atas bantuan yang diterimanya dari Mulyadi. Bahkan, Panem tak henti-hentinya meneteskan air mata, ketika dirinya duduk di atas kursi roda bantuan dari Mulyadi, hasil dari sedekah sampah.

Usulan tersebut disampaikan kepada Kades Tanjung Mulya, Wardoyo. Mulyadi pun membelikan kursi roda untuk Panem, seharga Rp1,2 juta. Di mana uang tersebut berasal dari penjuaan barang bekas, sedekah sampah dari masyarakat setempat. Kursi roda itu Mulyadi beli di Padang Sumatera Barat, dengan menitip salah satu warga setempat yang ingin ke Padang.

''Batuan berupa barang semua tidak ada bantuan uang,'' sampai pria yang telah mengabdi sebagai anggota Polri sejak 18 tahun ini.


Jadi Pemulung, Mulyadi Sempat Dibilang 'Macam-macam'
Awal mula menjadi pemulung, Mulyadi sempat menjadi ejek-ejakan dari mayarakat setempat. Bahkan, Mulyadi sempat dibilang macam-macam, atas pekerjaannya menjadi pemulung barang bekas. Namun, hal tersebut sama sekali tidak membuat dirinya menjadi berubah pikiran dan tetap bersemangat menjadi pemulung guna membantu orang miskin.

Ejekan-ejekan tersebut terjadi ketika Mulyadi akan memulai dan mengajak mayarakat sedekah sampah. Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat setempat pun menjadi sadar atas sikap dan pekerjaan mulya, Mulyadi. Di mana hasil sedekah sampah tersebut disalurkan ke masyarakat kurang mampu.

Sejak itu, masyarakat setempat mendukung penuh atas inisiatif dan ide cemerlang Mulyadi yang rela menjadi ''Pemulung'' untuk membantu masyarakat. Bahkan, masyarakat pun dengan kesadaran sendiri mengumpulkan barang bekas di depan rumah mereka untuk disedekahkan kepada Mulyadi.

Kapolres Mukomuko, AKBP Yayat Ruhiyat Mulyadi mengatakan, Mulyadi merupakan salah satu bagian dari anggota Polres Mukomuko. Mulyadi, sampai Yayat, memiliki inisiatif sendiri untuk menjadi pemulung, selain mejalankan tugas pokok Polri. Di mana, Mulyadi, terang Yayat, peka terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitar dan mencari solusi untuk memberikan bantuan kepada masyarakat tersebut.

''Mulyadi, sempat di bilang macam-macam. Mulyadi merupakan sosok yang peduli terhadap masyarakat setempat,'' kata Yayat, saat ditemui di kantornya.


Bantu Masyarakat Miskin, Mulyadi Masih Numpang di Pos Pol 
Mulyadi rela menjadi pemulung dan membantu masyarakat miskin sementara dirinya sama sekali hidup serbda berkecukupan. Bahkan, Mulyadi hingga saat ini masih menumpang di Pos Pol XIV Koto, sejak delapan tahun terakhir. Meskipun demikian, Mulyadi sama sekali tidak mengeluh atas kondisi ekonomi keluarganya. Terlebih dirinya dapat membantu masyarakat kurang mampu.

Sebelum bertugas di Kabupaten Mukomuko, Mulyadi sempat bertugas di Pol Airud di Bengkulu. Di Kota Bengkulu, dirinya memiliki rumah. Namun, rumah miliknya tersebut telah dijual. Hal tersebut lantaran untuk membiayai pengobatan anak pertamanya, Adinda Ramadani Mulya Putri (14).

Sebab, anak pertamanya tersebut musti dilakukan pemeriksaan secara rutin. Sehinggga membutuhka biaya cukup besar. Mulyadi pun harus menjual harta bendanya tersebut agar bisa mengobati anaknya itu dan hidup sederhana. Berselang beberapa tahun kemudian dirinya, bertugas di Kabupaten Mukomuko. Di Mukomuko, Mulyadi dipercaya menjadi Bhabinkamtibmas.

Dengan kondisi ekonomi yang terhimpit. Mulyadi pun tidak ingin menyerah begitu saja. Dari tahun ke tahun dirinya menjalani hidup sederna serba berkecukupan. Bahkan, gaji yang Mulyadi terima setiap bulan sama sekali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Mulyadi pun musti kas bon.

Tidak ingin berpangku tangan. Mulyadi mulai mencari ide agar dirinya dapat bangkit serta dapat membantu masyarakat desa binaannya yang membutuhkan perhatian musti dirinya sendiri membutuhkan perhatian. Seiring dengan berjalannya waktu dirinya mulai menemukan solusi dengan cara sedekah sampah. Dari sedekah sampah tersebut tentu dapat meringankan beban masyarakat.

''Saya tinggal di sini (Pos Pol) sudah delapan tahun. Kantor sekaligus menjadi tempat tinggal ini saya tempati. Saya juga sudah meminta izin kepada atas, Kapolsek dan Kapolres. Begitu juga dengan Pos Pol yang akan dijadikan ''Gudang'' sampah sementara untuk barang bekas hasil dari sedekah sampah,'' sampai pria kelahiran Padang, Sumatera Barat ini.


Sedekah Sampah, Masyarakat Kumpulkan Barang Bekas 
Sedekah sampah yang diinisiasi Mulyadi disambut baik oleh perangkat desa dan masyarakat setempat. Seperti halnya, Desa Tanjung Mulya Kecamatan XIV Koto Kabupaten Mukomuko. Sejak sedekah sampah dilakukan Mulyadi, warga setempat menyambut dengan baik. Di mana mereka setiap hari selalu menyediakan barang bekas di depan rumah mereka dengan sendirinya.

Tidak hanya itu, dari perangkat desa pun kedepannya akan menerapkan peletakan karung di depan rumah masing-masing. Di mana karung tersebut berisikan barang bekas untuk dijadikan sedekah sampah. Tidak hanya itu, barang bekas tersebut merupakan salah satuu bentuk dukungan apa yang telah diinisiasi oleh Mulyadi.

Kades Tanjung Mulya Sp9, Wardoyo mengatakan, pihaknya telah mengajak masyarakat setempat untuk menyediakan karung di depan rumah. Karung tersebut berisikan barang bekas. Setelah dikumpulkan, sedekah sampah tersebut akan diambil oleh Mulyadi untuk membantu masyarakat kurang mampu.

''Kami akan melakukan apa yang telah dilakukan pak Mulyadi. Kami juga telah mengimbau masyarakat agar dapat bersedekah sampah,'' sampai Wardoyo, belum lama ini.

Tidak hanya dukungan dari perangkat desa. Dukungan lainnya datang dari SDN 01 XIV Koto. Sedekah sampah pun mulai diberlakukan kepada seluruh murid SD dan dewan guru. Sebab, sedekah sampah tersebut merupakan bukan barang yang mahal untuk diberikan sumbangkan.

Kepsek SDN 01 XIV Koto, Arianto menyampaikan, sedekah sampah yang diterapkan kepada murid bukan barang yang mahal. Sebab, kata Arianto, sedekah tersebut merupakan barang sisa yang tidak berguna lagi. Sedekah sampah tersebut juga menanamkan cinta lingkungan kepada murid SD sejak dini. Sehingga murid SD peduli kepada lingkungan. Baik di sekolah maupun di rumah.

''Sedekah sampah itu bukan barang yang mahal. Ini salah satu gerakan cinta lingkungan. Tentu lingkungan sekolah akan menjadi bersih begitu juga dengan lingkungan masyarakat setempat,'' sampai Arianto.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mukomuko, Saburdi mengatakan, apa yang telah dilakukan Mulyadi merupakan kegiatan positif. terlebih untuk mengajak kalangan siswa peduli terhadap lingkungan. Saburdi pun sangat mensuport atas sedekah sampah yang dilakukan terutama hasil penjualannya untuk disalurkan kepada orang miskin.

''Kami dari pemerintah kabupaten Mukomuko sangat mensuport dengan sedekah sampah. Tentu ini akan kami sampaikan juga kepada sekolah lainnya untuk dapat bersedekah sampah agar dapat disedekahkan. Sedekah sampah salah satu upaya untuk menciptakan lingkungan menjadi bersih,'' ujar Saburdi.

Kisah Anggota Polisi Jadi Pemulung untuk Bantu Masyarakat Miskin Kisah Anggota Polisi Jadi Pemulung untuk Bantu Masyarakat Miskin Reviewed by demonfajri okezone on October 20, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.