Secuil Cerita Jaman Penjajahan hingga Pemberantasan G30/S PKI


Saikoen Wirjo Moerdjito. Dok Jelajahhutan 
BENGKULU - Suara peluru dan mortir jaman penjajahan masih teringat oleh sosok purnawirawan (Purn) TNI-AD. Saikoen Wirjo Moerdjito, namanya. Pria kelahiran 82 tahun silam itu sempat merasakan masa pertempuran di medan peperangan, untuk meraih kemerdekaan Republik Indonesia (RI), 17 Agustus 1945.

Siang itu Kota Bengkulu, bercuaca cerah berawan. Lalu lalang kendaraan roda dua dan empat tak henti-hentinya di kota ini, ramai. Termasuk, di Kelurahan Lingkar Barat Kecamatan Gading Cempaka Kota bengkulu Provinsi Bengkulu. Jalan Jenggalu Raya Kelurahan Lingkar Barat Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu, persisnya.

Di kelurahan ini terdapat sebuah gang, cukup besar. Lebarnya empat meter, kira-kira. Gang itu bermana Jenggalu 7. Jalannya terbuat beton. Namun sudah mulai rusak di makan usia. Di gang ini-lah Purn TNI-AD, pria yang di kenal dengan nama Mbah Saikoen menghabiskan masa tua-nya.

Pria kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, 12 Desember 1936 itu salah satu saksi hidup semasa penjajahan Belanda dan Jepang, tahun 1942 hngga 1945. Suami dari Zubaida (58) tersebut tinggal di sebuah bangunan permanen. Tidak terlalu besar. Letaknya persis di bawah turunan, gang. Sebelah perkebunan palawija, persisnya.

Rumah berwarna biru yang mulai pudar itu ditempati, Mbah Saikoen dan istri bersama anak bungsu-nya. Di depan rumah-nya terdapat sebuah kursi jok, lusuh. Di depan kursi terdapat meja. Di depan rumah-nya pun tergantung sebuah kentongan siskamling, cukup besar. Tidak hanya itu, di depan rumah terdapat sebuah tiang bendera terbuat dari besi, permanen.

Hari itu, Selasa 8 Agustus 2018. Mbah Saikoen, sedang menyantap makan siang. Tak lama kemudian, bapak dari sembilan orang anak ini keluar dari dalam rumah. Dirinya berjalan sudah di bantu dengan tongkat yang terbuat dari rotan. Pelan, jalan-nya. Mengenakan baju kaos dalam, putih warnanya. Memakai sarung, bercorak coklat berpaduan dengan berbagai warna.

Kulitnya mulai keriput. Pria kelahiran 82 tahun silam itu terlihat gagah. Matanya sudah mulai rabun. Pendengarannya masih normal. Meskipun demikian, Mbah ingat betul apa yang terjadi pada masa penjajahan. Kala itu, Mbah sedang duduk di bangku kelas II sekolah dasar (SD). Rambutnya mulai memutih, uban. Begitu juga dengan jenggotnya.

''Jaman penjajahan saya sudah duduk di kelas II setingkat sekolah dasar (SD). Setiap hari selalu mendengar desingan suara mortir dan senjata mesin,'' ingat pria kelahiran Purbalingga, Selasa 8 Agustus 2018.

Serangan Mortir di Atas Kepala 
Pada tahun 1942, pria kelahiran 1936 itu berusia 6 tahun. Pada usia itu, mbah sudah merasakan desingan suara mortir dan peluru dari penjajah. Tepatnya, pada masa agresi militer ke-II, Belanda. Saat itu dirinya bersama orangtuanya tinggal di sebuah desa. Kala itu, nama daerahnya Desa Bancar Wetan Kecamatan Purbalingga Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Pria yang juga perintis Palang Merah Indonesia (PMI) Bengkulu tahun 1979 ini beruntung dapat bersekolah di salah SD di Purbalingga. Pasalnya, Mbah memiliki saudara polisi desa. Sehingga dirinya dapat mengenyam bangku sekolah. Namun, saat sekolah di kelas II SD itu dia sempat berhenti sekolah. 

Di mana kala itu serangan dari panjajah berupa montir dan senjata mesin menyerang desa-nya. Sehingga Mbah menjadi ketakutan. Dia bersama keluarga dan warga setempat mengungsi ke salah satu daerah pegunungan di Purbalingga. Tidak sampai di situ, dalam pengungsian tersebut banyak perampok yang merampas harta benda milik warga pengungsian.

''Serangan mortir dari penjajah di pegunungan, berada di atas kepala. Serangan itu dilakukan penjajah pada malam hari. Kami yang masih kecil tetap di beri makan,'' cerita pria yang dikenal dengan nama Mbah ini.

Pada tahun 1942, kira-kira. Belanda meninggalkan daerah Purbalingga. Tidak lama kepergian Belanda tersebut, pada tahun yang sama, Jepang masuk ke daerah Purbalingga, Jawa Tengah. Dengan kedatangan Jepang tersebut masyarakat yang mengungsi di daerah pegunungan kembali turun ke desa mereka. Kala itu bernama desa Baancar Wetan Kecamatan Purbalingga.

Kembalinya ke kampung halaman atau desa tersebut setelah dirinya bersama keluarga telah mengungsi tidak kurang dari tiga tahun. Di saat itu pula dirinya kembali sekolah. Namun, kembali ke bangku sekolah tersebut dirinya tetap duduk di bangku kelas II SD. Di mana saat itu semua biaya sekolah, gratis. Baik biaya sekolah, buku maupun biaya kebutuhan lainnya.

Tiga tahun kemudian, Indonesia, Merdeka. Secara berangsur penjajah pergi meninggalkan Purbalingga. Kalangan anak-anak kembali sekolah dan masyarakat kembali pergi ke kebun. Di saat itu dirinya melanjutan jenjang sekolah hingga SMA. Di mana dirinya dapat menyelesaikan sekolah setara SMA, pada tahun 1959 hingga 1960.

''Kami kembali ke desa setelah Belanda, pergi. Setelah Belanda pergi masuk Jepang,'' cerita suami dari Zubaida.
Saikoen Wirjo Moerdjito. Dok Jelajahhutan 
Saikoen, Pengawal Presiden RI Soekarno Usai menyelesaikan jenjang pendidikan SMA, tahun 1959 hingga 1960, tepatnya. Mbah Saikoen diajak saudara merantau ke salah satu daerah di Sumatera Selatan. Kala itu bernama Wasenar. Di mana lokasi itu merupakan tempat pendidikan kepolisian. Tidak lama tinggal di daerah itu dirinya kembali merantau ke daerah Sungai Lilin, Provinsi Jambi.

Daerah ini merupakan perbatasan antara Jambi dan Sumatera Selatan. Di sana Saikoen menjadi buruh atau pelayan. ''Kamar Wak'' atau Officeboy. Beberapa lama kemudian, dirinya masuk dalam Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR) atau hansip, kala itu. Saat itu dirinya memang senjata mesin jenis bren.

Pada masa itu, Saikoen ikut dalam pemberantasan gerombolan pemberontak. Tidak hanya itu, dirinya ikut serta dalam pemberantasan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di daerah Jambi. Beberapa tahun kemudian atau sekira tahun 1963, dirinya kembali ke Kota Palembang, Sumatera Selatan.

''Saya ikut serta dalam pemberantasan kelompok gerombolan. Termasuk dalam pemberantasan PRRI,'' cerita Saikoen.

Saikoen kembali ke Kota Palembang, Sumatera Selatan lantaran untuk menjadi pengawal kedatangan Presiden Pertama RI, Soekarno ke provinsi berjuluk ''Bumi Sriwijaya''. Di mana kala itu Saikoen berpangkat prajurit satu atau balok dua. Saikoen tergabung di kesatuan pengawal kehormatan II Kodam Sriwijaya.

Sehingga dirinya bersama rekan-rekannya menjadi pengawal kedatangan Presiden dalam peresmian jembatan yang dulunya bernama jembatan Bung Karno tesebut. Namun, pada tahun 1967 jembatan Bung Karno berubah nama menjadi jembatan Ampera, hingga saat ini nama jembatan Ampera tetap digunakan serta menjadi ikon dari Sumatera Selatan.

''Saya ditugaskan untuk mengawal kedatangan Presiden Soekarno. Saat itu kami yang bertugas sebanyak satu pleton, salah satu diantaranya saya,'' cerita Saikoen.

Pembersihan G30/S PKI di Bengkulu
Sekira tahun 1966, Saikoen masuk dalam pasukan pembersihan G30 S PKI. Di mana, pada tahun itu dirinya ditugaskan ke Provinsi Bengkulu. Daerah desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah, tepatnya. Penugasan itu tidak sendirian. Melainkan Saikoen bersama rekan-rekannya atau sebanyak satu pleton prajurit setara dengan 37 prajurit.

Tidak lama berselang dirinya musti mengontrak rumah di daerah Kampung Bajak. Saat ini bernama Kelurahan Bajak Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Hal tersebut lantaran Saikoen ditugaskan di Kodim 0407/Bengkulu, pada tahun 1967. Di mana kala itu Kodim 0407 berkantor di Benteng Marlborough.

Dalam pembersihan G30 S PKI di Bengkulu itu seluruh tahanan dimasukkan ke dalam sel tahanan di Benteng yang berada di Kelurahan Kebun Keling Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Dalam pembersihan itu terdapat golongan PKI, ada tipe A, B dan C.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1984. Kantor Kodim 0407/Bengkulu di bangun di Jalan P Natadirja KM 6,5 Kota Bengkulu. Di tahun itu juga dirinya memasuki masa persiapan pensiun (MPP) dan resmi pensiun di tahun 1985. Dengan pangkat terakhir Kopral Satu.

''Ke Bengkulu itu saya ikut dalam pembersihan G30 S PKI makanya saya ditugaskan ke Bengkulu,'' kenang Saikoen.

Pria Perintis PMI Bengkulu 
Sebelum memasuki masa persiapan pensiun (MPP) 1984. Lima tahun sebelumnya atau tahun 1979 dirinya menjadi salah satu perintis terbentuknya Palang Merah Indonesia (PMI) Bengkulu. Perintisan PMI di Bengkulu tersebut Saikoen tidak sendirian. Melainkan dirinya bersama tiga rekannya. Alm. Sulaksono Kalkuto, M Nasim BA dan Rusli Zairin, namanya.

Lantaran menjadi perintis PMI di Bengkulu, dirinya mengabadikan nama jalan rumahnya dengan nama gang Jenggalu 7. Di mana angka 7 bermakna sebangai tujuh prinsip PMI. Hingga saat ini jalan gang rumahnya bernama gang jenggalu 7. Meskipun menjadi sosok salah satu perintis terbentuknya PMI di Bengkulu, dirinya bersama istri hidup dalam sederhana.

''Nama gang itu memiliki makna. Tujuh prinsip PMI. Saya salah satu perintis terbentunya PMI di Bengkulu,'' ujar pria Purbalingga ini.

Dalam perjuangannya memberantas kelompok gerombolan, PRRRI dan PKI, dirinya mendapatkan berbagai pi penghargaan. Mulai dari pin prajurit Setia VIII, Parjurit Setia XVI dan pin Prjurit Setia XIV. Tidak hanya itu, pin sapta marga, wira darma dan penegak pun diperoleh Saikoen. Pin panca warsa I hingga IV pun ikut diperoleh dirinya. Termasuk pin SAR Rimba Laut.

''Saya ikut terlibat dalam pemberantasan gelombolan, PRRI dan pembersihan PKI di Bengkulu,'' ingat Saikoen.

Berbagai penghargaan itu dia terima. Namun, dirinya belum mendapatkan perhatian dari pemerintah atas perjuangan dirinya semasa itu. Bahkan, dirinya saat ini hanya mengandalkan hidup dari gaji pensiunan yang di terima prajurit berpangkat Koral Dua. Meskipun demikian, dirinya tidak sama sekali mempermasalahkan hal tersebut.

''Saya tidak ada menuntut kepada pemerintah. Saya gak bisa ngomong soal itu yang penting saya sudah berbuat,'' pungkas Saikoen.

Secuil Cerita Jaman Penjajahan hingga Pemberantasan G30/S PKI Secuil Cerita Jaman Penjajahan hingga Pemberantasan G30/S PKI Reviewed by Demon Fajrie on August 18, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.