Tradisi ''Nenjor'' Suku Lembak Bengkulu

Pelaksanaan aqiqah. Foto dok Jelajah Hutan
BENGKULU - Di Indonesia memiliki berbagai keanekaragaman suku, adat istiadat serta budaya. Suku lembak di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, misalnya. Suku ini memiliki tradisi budaya ''Nenjor'' atau cukur rambut bayi atau lebih di kenal dengan aqiqah.

Tradisi nenjor, sama halnya dengan tradisi suku lainnya di Indonesia. Tradisi ini merupakan salah satu bentuk pengurbanan orangtua dengan memotong hewan ternak, kambing sesuai dengan syariat Islam.

Di suku lembak, tradisi nenjor salah satu bentuk pengurbanan serta sebagai penggadaian atau penebus seorang bayi yang dilahirkan masih digelar diberbagai kelurahan. Seperti, Kelurahan Tanjung Agung, Semarang, Tanjung Jaya, Dusun Besar, Panorama, Jembatan Kecil, Pagar Dewa, Sukarami dan Kandang.

Seperti, di keluarga besar, M Zuber, HN. Menenjor cucu keduanya, atas nama Althaf Zaidan Zamzami. Anak dari pasangan suami istri Abdul Aziz dan Yennery Hernitha, di jalan semangka Kelurahan Panorama, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu.

Salah satu tokoh masyarakat suku lembak, Zulkarnain Dali, mengatakan, dalam prosesi nenjor di suku lembak sesuai syariat Islam, mesti dilaksanakan setelah bayi berusia 7 hari atau 14 hari.

Jika terbentur dengan keadaan maka prosesi ''nenjor'' dapat ditunda sebelum masa anak memasuki masa Aqil Baligh. Artinya, jika anak-laki-laki sebelum dapat ''mimpi'' dan anak perempuan sebelum haid.

''Nenjor kewajiban dari orangtua yang melahirkan. Pelaksanaan nenjor bisa dilakukan setelah anak berusia 7 hari, 14 hari atau sebelum masa aqil baligh anak,'' kata Zulkarnain.

Pelaksanaan nenjor, dari orangtua mesti memotong hewan kambing. Untuk anak laki-laki memotong dua ekor kambing. Sementara anak perempuan satu ekor kambing. Di suku lembak, nenjor diiringi tradisi berzanji atau sarapal anam atau berdzikir, dengan mengundang masyarakat setempat, yang disertai menabuh rabana.

''Nenjor di suku lembak disertai berdzikir, dilanjutkan dengan berdoa untuk keselamatan anggota keluarga serta anak yang di aqiqah,'' jelas Zulkarnain.

Usai berdzikir, bayi yang di aqiqah dibawa dengan cara di gendong, untuk menghampiri kakek dari sang bayi serta tamu undangan yang hadir untuk mencukur rambut sang bayi.

Prosesi nenjor itu sendiri, sebelumnya bayi dirias serta mengenakan pakaian adat Bengkulu, serta adanya pembuatan pelaminan bayi di dalam rumah. Dalam proses cukur rambut, selain menggendong bayi dari pihak keluarga juga membawa cerano atau wadah yang berisikan lembaran daun sirih, serta sesajen lainnya.

''Pencukuran rambut setiap undangan diberi kesempatan untuk mencukur rambut sang bayi, serta dilanjutkan dengan memercikan tepung tawar ke kepala anak,'' sampai Zulkanain.
 
Setelah prosesi itu, tamu undangan yang hadir mencicipi hedangan yang telah disediakan tuan rumah.

''Nenjor merupakan salah satu wujud syukur terhadap kelahiran sang anak kepada Allah SWT. Pelaksanaan nenjor agar sang anak menjadi sosok yang soleh, berbakti kepada orangtua,'' tandas Zulkarnain.

Author :

Terima kasih telah membaca artikel Tradisi ''Nenjor'' Suku Lembak Bengkulu.
Tradisi ''Nenjor'' Suku Lembak Bengkulu Tradisi ''Nenjor'' Suku Lembak Bengkulu Reviewed by Demon Fajrie on May 08, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.