Tradisi Malam Makan Ketan Suku Lembak di Tanah Bumi Rafflesia

Tradisi malam makan ketan. Foto dok jelajahhutan
BENGKULU - Masyarakat suku lembak, satu dari suku di Indonesia. Di mana setiap suku memiliki ada dan istiadat tersendiri. Jelang resepsi pernikahan, misalnya. Di Kota Bengkulu, masih memberlakukan adat istiadat ini.

Provinsi dengan julukan ''Bumi Rafflesia'' ini, sebelum melangsungkan resepsi pernikahan menggelar hajatan. Namanya, malam makan ketan. Ya, ini merupakan rangkaian adat dalam suku Lembak.

Makan ketan, dihelat di rumah orangtua calon pengantin laki-laki dan perempuan. Namun, malam makan ketan didahului di rumah laki-laki. Di rumah calon pengantin laki-laki, ketua ada menetapkan kepanitian pelaksanaan acara peresmian pernikahan.

Kemudian, ketua adat, kaum ibu beserta kerabatan pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan untuk meresmikan pertunangan secara adat.

Malam itu Kota Bengkulu, cerah berawan. Udaranya, sejuk. Angin berhempus sepoi-sepoi. Termasuk di kediaman Setiawandi dan Siti Jalilah. Rumahnya, permanen. Cukup besar. Mereka tinggal di jalan Nangka RT 10 Kelurahan Panorama Kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu.

Di depan rumahnya sudah dihiasi beragam hiasan resepsi pernikahan, cantik. Hiasan itu di dekorasi sedemikian rupa. Sehingga memancarkan suasana bahagia. Di bagian dinding, ikut dipenuhi pernak-pernik.

Pada di bagian depan halaman rumah berjejer bangunan tenda. Tersusun rapi dan memanjang. Ada kursi plastik. Begitu juga di bagian jalan gang. Persis di depan rumah Setiawandi dan Siti Jalilah. Terlihat, mewah.
 
Mereka berniat melangsungkan pernikahan anak keduanya. Ahmad Rais idham Malik dan calon pengantin perempuannya, Katika Sari Dewi, calon pengantinnya.

Pukul 20.01 WIB, kira-kira. Ba'da salat Isya, tepatnya. Masyarakat di daerah itu mulai berdatangan. Tokoh masyarakat, tokoh adat, sanak saudara, kaum kerabat tiba di rumah yang berukuran 8 x 15 meter itu. Mereka datang memenuhi undangan.

Tamu undangan, duduk di bagian dalam rumah. Ada di teras rumah. Mengenakan pakaian agamis. Ada juga undangan duduk di kursi.

Tidak lama kemudian, Ketua adat membacakan persiapan dan urutan acara. Seperti, pembuatan pangujung atau bala, penetapan organisasi upacara beserta personil saat resepsi pernikahan.

Setelah membacakan susunan acara dan berbagai persiapan. Tuan rumah menyajikan menu makanan dan minuman. Nasi Ketan, namanya. Ada juga makanan pendukung. Nasi ketan itu telah di masak tuan rumah dengan melibatkan sanak saudara dan masyarakat di wilayah itu.

Malam berasan, makanan yang disajikan. Ketan berkuah atau dikenal nasi ketan dengan kuah dari santan dan gula merah atau aren. Namun, ada juga yang menyajikan nasi ketan berinti atau intinya gula merah campur kelapa.

Biasanya, ketan berkuah diterapkan di Kelurahan Jembatan Kecil, Panorama, Dusun Besar, Tanjung Agung, Semarang dan Kelurahan Surabaya.

Dinamakan malam makan ketan, sampai tokoh masyarakat suku Lembak Kota Bengkulu Usman Yasin, jamuannya berupa nasi ketan berkuah atau ketan berinti. Acara ini berlangsung di rumah kedua belah pihak dari calon pengantin, suku Lembak.

Pada malam makan ketan utusan dari keluarga laki-laki datang ke pihak perempuan, untuk meyampaikan uang hantaran. Hantaran ini, jelas Usman, dilengkapi dengan perangkat sirih dan bunga. Sirih bujang di bawa pihak laki-laki dan sirih gadis menunggu di rumah pihak perempuan.

Rangkaian sirih di tata sedemikian rupa. Untuk sirih bujang, tujuh tingkat dan sirih gadis, lima tingkat. Kedua bunga ini kemudian disandingkan untuk kemudian di tukar.

''Malam makan ketan masih tetap dilaksanakan. Pada rangkaian sirih mengalami perubahan. Saat ini rangkalan sirih hanya di buat ala kadarnya atau tidak bertingkat-tingkat,'' sampai Usman, belum lama ini.

Pada masa terdahulu, ulas Usman, dalam berasan atau malam makan ketan ditentukan juga bila kerja (kerje/bepelan, bahasa lembak) akan dilangsungkan di balai. Sehingga masyarakat setempat secara bersama-sama membuat balai.

''Di balai itu ada tempat pengantin beristirahat. Tempat duduk, tempat pakaian dan tempat istirahat, contohnya,'' cerita Usman.

Beberapa hari berikutnya, masyarakat setempat, sanak-saudara mulai mendirikan pangujung atau tenda. Pendirian itu di bagun secara bersama atau gotong-royong.

''Pangujung atau balai pada masa lalu memiliki ciri tersendiri. Jika ahli rumah memotong sapi atau kerbau pangujungnya berbubung. Kalau hanya memotong kambing atau ayam dan sebagainya maka pangujung tidak berbubungan,'' pungkas Usman.

Tradisi Malam Makan Ketan Suku Lembak di Tanah Bumi Rafflesia Tradisi Malam Makan Ketan Suku Lembak di Tanah Bumi Rafflesia Reviewed by demonfajri okezone on May 06, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.