Tabut, Tradisi di Bulan Muharram Masyarakat Bengkulu

Foto dok jelajah hutan
BENGKULU - Setiap provinsi di Indonesia memiliki tradisi tersendiri saat bulan muharram
(berdasarkan kalendar islam). Berdasarkan kalenderial Jawa bulan muharram diistilahkan dengan bulan 'suro'.

Salah satu tradisi dijumpai di lingkungan masyarakat Jawa di bulan muharram, ruwatan. Ritualnya mengadakan pergelaran pewayangan atau proses ritual untuk membuka aura diri.

Lain dengan tradisi di Kota Bengkulu, Secara turun menurun di bulan muharram masyarakat Keluarga Pewaris Tabut menggelar Upacara tradisional tabut. Untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharram 61 Hijriah (681 M). Tabot berasal dari kata Arab Tabut yang secara harafiah berarti "kotak kayu" atau "peti".

Upacara ini dihelat dari 1 sampai 10 Muharram (berdasarkan kalendar islam) setiap tahun, di Kota Bengkulu.

Perayaan upacara tabut pertama kali di gelar, Syech Burhanuddin. Dia di kenal sebagai Imam Senggolo sekira tahun 1685. Syech Burhanuddin (Imam Senggolo) menikah dengan perempuan asal Bengkulu. Kemudian anak mereka, cucu dan keturunan disebut sebagai keluarga tabut.

Inti dari upacara tabut, untuk mengenang upaya pemimpin Syi'ah dan kaumnya mengumpulkan potongan tubuh Husein, mengarak dan memakamnya di Padang Karbala, di Kelurahan Tanah Patah Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu.
 
Ketua Komunitas Kerukunan Tabut (KKT) Bengcoolen Syiafril Syahbudin, mengatakan sebelum menyambut bulan muharram atau tahun baru Islam, dari Keluarga Pewaris Tabut Sakral yang memiliki 17 Kelompok.

Yakni, 9 kelompok tabut Syech Burhanuddin Imam Senggolo dan 8 kelompok tabut Bansal, pada tanggal 12 Oktober atau 28 Dzulhijjah (kalender Islam) menggelar dzikir di makam Karbala. Diyakini sebagai tempat makam, Imam Senggolo alias Syech Burhanuddin di Kelurahan Tanah Patah, Kota Bengkulu.

Pada 29 Dzulhijjah dari Keluarga pewaris tabut, menggelar doa kepada sang maha kuasa secara bersama, untuk memohon keselamatan dalam menyambut tahun baru Islam di makam Karbela Imam Senggolo alias Syech Burhanuddin. Prosesi ini, digelar ba'da salat Ashar yang diikuti 17 kelompok tabut sakral.

''Setiap tahun tradisi ini dihelat. Keluarga pewaris tabut sakral karena tabut yang memiliki tata kerama dalam pembuatannya dan tidak bisa sembarangan dibuat,'' kata Syiafril.

Pada 29 Dzulhijjah malam tepatnya 1 Muharram, Keluarga Pewaris Tabut sekira pukul 00.01 WIB, prosesi 'mengambil tanah'.

Prosesi pengambilan tanah ini diikuti 9 kelompok tabut Imam Senggolo mengambil tanah di keramat. Kelurahan Anggut Bawah Kelurahan Ratu Samban Kota Bengkulu, tepatnya. Sementara 8 kelompok tabut Bansal mengambil tanah di keramat Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.    

''Dalam prosesi pengambilan tanah keluarga pewaris tabut mengambil dua kumpalan tanah dari dua lokasi. Maknanya, manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah,'' sampai Syiafril.

Pada hari 2 muharram dan 3 muharram, dari keluarga pewaris tabut tidak ada menggelar kegiatan apa pun. Namun, prosesi tabut dilanjutkan pada 4 muharram. Dengan menggelar prosesi 'duduk penja', membawa 'penja'. Ini merupakan simbol lima jari tangan.

Prosesi ini, dari keluarga pewaris tabut 17 kelompok, membawa 'penja' dari salah satu rumah keluarga pewaris tabut menuju gerga atau bangunan pusat kegiatan tabut, di dua lokasi. Lokasi pertama berada di Kelurahan Berkas, Kecamatan Teluk Segara. Lokasi kedua di Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu.

Dari Keluarga Pewaris Tabut Imam Senggolo membawa 13 pasang 'penja'. Sementara dari keluarga pewaris tabut Bansal hanya membawa 'penja' 1 pasang.

''Keluarga Pewaris Tabut Imam Senggolo 'duduk penja' di Kelurahan Berkas. Keluarga pewaris tabut Bansal duduk penja di Kelurahan Malabero. 'Penja' yang dibawa keluarga pewaris tabut dicuci dan dibersihkan menggunakan air jeruk, air bunga, dan terakhir dibilas air biasa,'' beber Syiafril.

Pada 5 muharram malam, keluarga pewaris tabut mengelar prosesi 'menjara'. Ini merupakan imbol perjalanan panjang dari Madinah ke Padang Karbala. Prosesi ini, keluarga pewaris tabut Imam Senggolo dan Bansal bersilaturahmi dengan cara saling mengunjungi.

Dalam silaturahmi itu, keluarga pewaris tabut membawa alat musik tradisional dhol, tassa, panji-panji atau bendera yang memiliki tulisan arab dan gambar jari-jari simbol tiga serangkai. Silaturahmi itu bermakna negara, pemerintah dan masyarakat harus sejalan dalam menjalani kehidupan.

''Lima Muharram malam prosesi 'menjara' dari keluarga pewaris tabut Bansal bersilaturahmi dengan mengunjungi keluarga pewaris tabut Imam Senggolo. Keluarga pewaris tabut Imam Senggolo bersilaturahmi ke keluarga pewaris tabut bansal pada 6 muharram malam,'' ungkap Syiafril.

Tidak sampai disitu, pada malam 7 muharram, keluarga pewaris tabut menggelar prosesi 'Arak Jejari'. Prosesi 'penja' yang sebelumnya telah dibersihkan pada 4 muharram diarak dari rumah keluarga pewaris tabut Imam Senggolo dan keluarga pewaris tabut Bansal menuju lokasi arena upacara tabut di lapangan merdeka.

Usai prosesi arak jejari, delapan muharram keluarga pewaris tabut Imam Senggolo dan Bansal, menggelar prosesi 'Arak Seroban' atau arak sorban. Prosesi tersebut menandakan simbol kebesaran cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Pada arak seroban, dari keluarga pewaris tabut Imam Senggolo dan Bansal. Sebelumnya, telah membuat Sorban berukuran kecil di arak dari rumah salah satu keluarga pewaris tabut Imam Senggolo dan Bansal menuju arena upacara tabut.

''Malam 8 muharram keluarga pewaris tabut membawa sorban ukuran kecil yang sebelum sudah di buat. Pada malam itu seluruh keluarga pewaris tabut mengenakan sorban di bagian kepala,'' tambah Syiafril.

Prosesi selanjutnya, 9 muharram pagi keluaraga pewaris tabut menggelar prosesi gham. Ini simbol hari bersedih. Prosesi ini keluarga pewaris tabut Imam Senggolo dan bansal tidak diperkenankan membunyikan atau menabuh alat musik tradisional dhol, tassa dengan kata lain tidak ada aktivitas.

Pada sore hari 9 muharram. Tepatnya ba'da salat ashar keluarga pewaris tabut melaksanakan prosesi tabut naik puncak. Sebelumnya melaksanakan prosesi ini keluarga pewaris tabut menggelar doa bersama, setawar sedingin serta menyajikan nasi kuning.

Usai menggelar doa bersama, setawar sedingin dari keluarga pewaris tabut Imam Senggolo menuju salah satu lokasi untuk menggelar prosesi  tabut naik puncak.

Prosesi ini dari keluarga pewaris tabut membawa alat musik tradisional dhol, tassa serta alat musik lainnya. Saat prosesi ini alat musik tradisional di tabuh atau di bunyi sepanjang jalana menuju lokasi tabut naik puncak.

''Lokasi tabut naik puncak dari keluarga pewaris tabut Imam Senggolo di gelar dipertigaan Kelurahan Pasar Melintang. Prosesi tabut naik puncak nasi kuning dilemparkan ke bagian atas bangunan tabut serta memercikkan setepung setawar, dilanjutkan dengan menaikkan bangunan tabut di bagian atas puncak bangunan tabut,'' jelasnya.

Selanjutnya prosesi pada 9 muharram malam, keluarga pewaris tabut menggelar prosesi arak gedang atau mengarak bangunan tabut, yang telah dibuat keluarga pewaris tabut menuju arena upacara tabut.

Saat menggiring bangunan tabut dari salah satu rumah keluarga pewaris tabut, seluruh anggota keluarga pewaris tabut mengenakan sorban berwana kuning serta menggunakan pakaian berjuba.

Saat tiba di lokasi arena ucapara tabut, seluruh bangunan tabut 17 kelompok. Baik keluarga pewaris tabut Imam Senggolo maupun keluarga pewaris tabut Bansal. serta Imam Senggolo maupun Bansal di susun rapi di sanding. Dengan kata lain bangunan tabut di nilai yang paling menarik.

''Arak gedang menyimbolkan mengenang masa kejayaan Islam,'' ungkap Syiafril.

Bangunan tabut yang telah besanding, pada 10 muharram pagi dari keluarga pewaris tabut menggelar prosesi tabut tebuang atau tabut di buang. Prosesi ini, seluruh bangunan tabut 17 kelompok keluarga pewaris tabut di buang di makam Karbala.

Saat penggiringan bangunan tabut, keluarga pewaris tabut Bansal berada di posisi depan, sementara keluarga pewaris tabut Imam Senggolo berada dibelakang.

Setiba di simpang lima patung kuda Kota Bengkulu, formasi penggiringan tabut berganti. Bangunan tabut dari keluarga pewaris tabut Bansal berada di belakang dan bangunan tabut milik keluarga pewaris tabut Imam Senggolo di posisi depan. Posisi formasi tersebut hingga simpang Karbala, Kelurahan Tanah Patah, Kota Bengkulu.

Setiba di simpang Karbala Keluarga pewaris tabut berhenti sejak. Lalu, salah satu perwakilan keluarga pewaris tabut memberikan kata sambutan, serta berdialog dengan keluarga pewaris tabut lainnya.

Tujuannya, untuk meluruskan yang salah saat prosesi tabut. Sehingga kedepannya tidak ada kesalahan kembali.

''Prosesi penyambutan tabut di simpang Karbala akan disambung dengan tarian pencak silat. Diiringi dengan sambutan dan dialog dengan keluarga pewaris tabut,'' jelas Syiafril.

Setelah prosesi penyambutan tabut di simpang Karbala, seluruh tabut dari keluarga pewaris tabut kembali di giring menuju makam Karbala. Setiba di lokasi, anggota keluarga pewaris tabut menggelar doa secara bersama serta prosesi ritual lainnya.

Dulunya, di lokasi makam terdapt aliran air kecil yang dinamai sungai Euphrat, yang mana dialiran tersebut dulunya dijadikan untuk menghanyutkan pernak pernik bangunan tabut saat dibuang. Sayangnya, di lokasi itu sudah di bangun drainase. Sehingga prosesi penghanyutan bangunan tabut tidak bisa dilakukan.

''Usai berdoa dan prosesi lainnya di makam. Bangunan tabut di lepas secara bersama dan sebagian bahan bangunan tabut yang masih bisa digunakan kembali dibawa untuk digunakan pada bulan Muharram tahun mendatang. Setelah itu keluarga pewaris tabut kembali ke rumah masing-masing,'' ujar Syiafril.

Beselang 3 hari kemudian tepatnya 13 Muhaaram, keluarga pewaris tabut Imam Senggolo dan bansal, kembali menggelar prosesi mencucui penja yang telah digunakan sepanjang prosesi tabut berlangsung. Prosesi ini, sama halnya saat prosesi tabut 4 muharram.

Keluarga pewaris tabut 17 kelompok, membawa penja dari salah satu rumah keluarga pewaris tabut menuju gerga atau bangunan pusat kegiatan tabut, didua lokasi. Lokasi pertama di Kelurahan Berkas Kecamatan Teluk Segara. Lokasi kedua di Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara.

Prosesi duduk penja didua lokasi tersebut, dari Keluarga pewaris tabut Imam Senggolo membawa 13 pasang penja. Sementara dari keluarga pewaris tabut Bansal hanya membawa penja 1 pasang.

''Prosesi ini dihelat ba'da salat Ashar. Penja dibersihkan dengan cara di cuci dengan air jeruk, air bunga, dan terakhir dibilas air biasa. Saat prosesi ini berlangsung dari keluarga pewaris tabut menggelar doa penutup pelaksanaan tabut. Sementara penja kembali di simpan di tempat aman,'' lanjut Syiafril.

Keluarga pewaris tabut Imam Senggolo masih menggelar prosesi doa bersama setelah 40 hari setelah tabut tebuang atau menggelar doa di bulan safar. Doa tersebut, untuk meminta kepada sang pencipta agar tabut tahun depan dapat terlaksana serta masyarakat Bengkulu selamat dari segala maca, bencana. Selain itu, doa juga dikirimkan kepada cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib.

''Tradisi tabut berakhir setelah doa bersama saat bulan safar, yang dilaksanakan keluarga pewaris tabut,'' pungkas Syiafril.

Author :

Terima kasih telah membaca artikel Tabut, Tradisi di Bulan Muharram Masyarakat Bengkulu.
Tabut, Tradisi di Bulan Muharram Masyarakat Bengkulu Tabut, Tradisi di Bulan Muharram Masyarakat Bengkulu Reviewed by Demon Fajrie on May 10, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.