Misteri 'Gunung Tidur' Lawu di Tanah Jawa

Foto Braman
JAWA TENGAH - Gunung Lawu salah satu gunung di pulau Jawa. Gunung satu ini begitu kental kisah mistik. Banyak cerita mistik keluar dari siapa saja yang pernah mendaki gunung dengan ketinggian 3.265 Mdpl yang berada di perbatasan dua provinsi, Jawa Tengah dan Jawa Timur ini.

Kisah misteri terselubung di gunung yang dahulunya bernama Wukirmahendra ini, membuat gunung satu ini dijuluki Gunung seribu satu kisah. Tak heran bila Gunung Lawu pun dijuluki pakunya pulau Jawa. Salah satunya, di bagian depan atau pintu masuk ke gunung Lawu.

Kepala Desa Girimulyo Ngargoyoso Karanganyar Jawa Tengah Suparno, mengatakan selama ini banyak yang salah kaprah menyangkut bagian depan atau pintu masuk ke Gunung Lawu.

Jalur pendakian Cemoro Kandang yang terletak di daerah Blumbang, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah dan Cemoro Sewu di daerah Magetan, Jawa Timur selama ini kerap di anggap bagian depan atau pintu masuk utama menuju ke puncak Gunung Lawu.

Namun anggapan itu, sampai Suparno, tidak benar. Pintu masuk utama ke puncak Gunung Lawu bukanlah Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu. Justru kedua tempat yang selama ini dijadikan jalur masuk pendakian ke puncak gunung Lawu itu sebenarnya merupakan bagian belakang dari Gunung Lawu.

''Bila Gunung Lawu itu diibaratkan sebuah rumah, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu itu bukan pintu masuk ke dalam rumah. Tapi, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu itu bagian belakang atau
bagian dapur dari sebuah rumah itu. Justru Pintu masuk utama ke Gunung Lawu itu diatas Candi Cetho, Ngargoyoso,'' kata Suparno, beberapa waktu lalu.

Bagi masyarakat Karanganyar maupun yang sering melakukan spiritual di Gunung Lawu, mereka mempercayai bila Gunung Lawu itu merupakan sebuah kerajaan besar yang pernah ada. Tak heran bila para pendaki naik ke Gunung Lawu melalui jalur Ngargoyoso akan menemukan hal-hal gaib.

Hanya saja, jalur Candi Cetho ini merupakan jalur yang paling ditakuti. Pasalnya, meski jalur ini merupakan jalur paling cepat dibandingkan bila melalui dua jalur saat ini yaitu jalur Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang.

Namun jalur perlintasan Candi Cetho ini merupakan jalur paling berbahaya. Sebab, begitu pendaki mulai melakukan pendakian ke puncak Gunung Lawu, mereka sudah dihadapkan dengan tanjakan terjal serta jurang yang cukup curam.

''Jalur ini tanjakannya cukup terjal. Begitu memutuskan mendaki melalui jalur ini, sudah dihadapkan dengan medan yang sangat terjal. Bila lengah sedikit saja, bisa terjatuh kedalam jurang,'' beber Suparno.

Tak hanya medan yang sulit, jalur pendakian melalui Candi Cetho ini paling sering terkena kabut. Pasalnya jalur Candi cetho ini lebih didominasi cekungan-cekungan. Bila baru pertama kali mendaki melalui jalur ini, sudah dipastikan pendaki tersebut akan tersesat.

Selain memiliki medan yang sangat sulit, jalur pendakian Gunung Lawu melalui candi Cetho ini, banyak di percaya sebagai jalur perlintasan ke alam gaib. Tak heran bila melalui jalur ini, para pendaki sudah dihadapkan dengan hal-hal aneh.

Termasuk para pendaki akan melalui sebuah lokasi dilereng Gunung Lawu yang diyakini merupakan keberadaan dari pasar setan. Bagi yang sering mendaki ke puncak Gunung Lawu, tentu sudah tak asing mendengar nama pasar setan.

Di mana konon di tempat itu sering terdengar suara bising layaknya sebuah pasar. Terkadang, para pendaki itu sendiri akan mendengar suara yang seakan menawari untuk berbelanja. Konon bila mendengar suara tersebut, para pendaki harus membuang apa saja dilokasi tersebut layaknya transaksi jual beli di pasar.

''Sebenarnya yang di sebut para pendaki itu sebagai pasar setan. Sebenarnya itu sebuah lahan di lereng Gunung Lawu yang penuh dengan ilalang dan angin yang berhembus di sana cukup kencang. Jadi akibat tiupan angin, menimbulkan suara-suara seperti orang bertransaksi,'' terang Suparno.

Senada, salah satu tokoh yang paham dengan Gunung Lawu Pak Po, mengatakan Gunung Lawu termasuk dalam kategori 'gunung tidur'. Selain itu, Lawu termasuk dalam peringkat lima jajaran tujuh puncak tertinggi di Pulau Jawa yang terkenal dengan julukan Seven Summits of Java (Tujuh Puncak Pulau Jawa).

Menurut Pak Po, keangkeran gunung Lawu ini masih banyak yang belum pernah terungkap.

''Kalau terangker mungkin iya, karena sampai sekarang Lawu itu belum terungkap misteri atau jati diri Lawu. Contoh yang paling nyata sampai sekarang tidak pernah ditemukan kuburan eyang Lawu dan Sunan Lawu,'' jelas Pak Po.


Kyai Jalak, Jelmaan dari Abdi Dalem Setia Prabu Brawijaya V
Selain kental dengan aura mistik, gunung Lawu tetap menjadi primadona bagi para pendaki. Bahkan gunung Lawu terkenal dengan penunggu sekaligus penunjuk jalan seekor burung misterius, bernama Kyai Jalak Lawu.

Konon, Kyai Jalak adalah salah satu jelmaan dari abdi dalem setia Prabu Brawijaya V yang bertugas untuk menjaga Gunung Lawu. Biasanya burung jalak Lawu berwarna hitam. Namun khusus burung misterius yang terkenal dengan nama Kyai Jalak ini berwarna gading.

Tidak semua pendaki bisa bertemu Kyai Jalak. Kyai Jalak yang sering menjadi pemandu bagi para pendaki yang tersesat. Karena itu pantangan bagi para pendaki untuk menganggu Kyai Jalak.

''Namun jika berniat baik, kyai Jalak akan mengantar pendaki sampai ke Puncak Gunung Lawu. Kyai Jalak bertemu  para pendaki, bukan untuk mencelakai, namun sebagian dari tugasnya  menjaga dan menjadi penunjuk jalan bagi para pendaki,'' jelas Pak Po.

Selain Kyai Jalak sebagai penunjuk jalan, kadang kala juga muncul kupu-kupu berwarna hitam, namun di tengah kedua sayapnya terdapat bulatan besar berwarna biru mengkilap.

''Katanya jika melakukan pendakian, melihat kupu-kupu dengan ciri seperti itu adalah pertanda bahwa kehadiran pendaki disambut baik (diijinkan) oleh penjaga Gunung Lawu. Jangan pernah menganggu, mengusir dan membunuhnya,'' ungkap Pak Po.

Ia mengatakan, yang terpenting adalah pantangan mengenakan baju berwarna hijau daun dan di larang mendaki puncak lawu dengan rombongan yang berjumlah ganjil.

''Jangan naik puncak jika jumlah pendakinya ganjil, takutnya nanti akan tertimpa kesialan. Satu hal lagi yang harus diingat, jika tiba-tiba ada  ampak-ampak (kabut dingin) yang di barengi suara gemuruh, jangan nekat naik. Turun saja atau berbaring tertelungkup di tanah,'' pesannya.

Gunung Lawu juga menyimpan misteri pada tiga puncaknya dan menjadi tempat yang dianggap sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan (menghilangnya) Prabu Brawijaya.

Harga Dumiling diceritakan sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon yang merupakan abdi setia dari Prabu Brawijaya, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang meditasi pagi penganut kejawen.

Sebab itulah gunung yang juga merupakan salah satu poros di pulau Jawa ini dipercaya persinggahan Brawijaya V yang merupakan Raja Majapahit terakhir yang akhirnya menghilang bersama raganya alias muksa.

Bagi para pendaki, keangkeran Gunung Lawu sudah makanan setiap hari. Para relawan ini sangat akrab dengan keangkeran. Seperti yang diakui oleh Rifan salah satu relawan dari Karanganyar Emergency.

Menurut Rifan, tak sedikit para pendaki Gunung Lawu yang tiba-tiba kesurupan. Bahkan, para relawan pun sering diganggu saat melakukan operasi penyelamatan.

''Gangguan saat evakuasi pendaki sakit. Pada saat kita memikul survivor pakai tandu serasa ada yg bonceng jadi terasa sangat berat. Dan tim kami sering melihat sosok makhluk halus perempuan,'' papar Rifan.

Menurut Rifan, kondisi itu itu tak bisa dihindari lagi. Namun, bila semuannya menaati peraturan tertulis maupun tak tertulis saat mendaki Gunung Lawu, maka rintangan itu bisa dihindari.

''yang terpenting saat mendaki Gunung Lawu survivor tak boleh pikirannya kosong. Kalau kosong, sudah pasti akan kesurupan,'' tandas Rifan.

Penulis : Braman



Terima kasih telah membaca artikel Misteri 'Gunung Tidur' Lawu di Tanah Jawa .
Misteri 'Gunung Tidur' Lawu di Tanah Jawa Misteri 'Gunung Tidur' Lawu di Tanah Jawa Reviewed by demonfajri okezone on May 23, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.