Mulyono Sulap Kayu Limbah menjadi 'Gunung Emas'


Foto Istimewa. Foto Ilustrasi
SUMATERA UTARA - Menempati lahan sekira 5x7 meter, ruangan petak berdinding triplek itu terlihat begitu sesak, dengan kayu melintang di sudut-sudut dan hingga ke tengah. Semuanya tampak tidak rapi, dengan debu yang berterbangan dan begitu terasa ke hidung. Sedangkan di luaran, terdengar suara mesin pemotong kayu yang begitu kontras dengan suara kendaraan jalanan berlalulalang dan bersuara berisik.

Di lahan kavlingan itulah, di pinggir jalan Gatot Subroto Binjai, tepat di samping lampu rambu lalulintas (trafficlight), bengkel kerja yang lebih mirip gudang barang rongsokan itu bak gunung emas.

Betapa tidak, lokasi yang jauh dari ekspektasi itu justru pembawa manfaat. Tidak hanya sebagai sumber pundi rezeki, juga menyelamatkan lingkungan karena bahan baku yang digunakan memanfaatkan kayu limbah.

Mulyono pemilik usaha perkayuan ini mengaku, bahagia dengan bisnis yang telah digelutinya beberapa tahun terakhir ini. Modalnya tidak memberatkan kantong, namun keuntungannya berlipat-lipat. Hasilnya selain mampu menghidupi kebutuhan dapurnya agar tetap mengepul, juga menjadi perantara rezeki orang lain karena membuka lapangan pekerjaan.

Berada di tempat usahanya, pria berkulit kuning langsat inipun bercerita, bisnis kayu limbah yang tekun digelutinya tersebut berawal dari keputus-asaannya dengan usaha sebelumnya yang telah bangkrut.

''Awalnya bingung harus memulai dengan apa. Kemudian ide muncul saat mengumpulkan kayu-kayu sisa pabrik dan saya bawa pulang ke rumah,'' kata Mulyono.

Sebelumnya ia memiliki bisnis sepatu dan telah memiliki 8 outlet. Kemudian bangkrut karena terhempas oleh kondisi perekonomian global yang memburuk. Bermodal Rp250 ribu, Mulyono bangkit memulai karirnya di bidang kayu limbah. Kini, produknya tidak hanya laku di pasaran Kota Medan, namun sudah menyebar ke Kabupaten Langkat, Medan, Deli Serdang dan lainnya.

Untuk bahan baku sendiri, nasabah Bank Sumatera Utara yang pernah memperoleh penghargaan sebagai pelaku kategori kreatif ini mengaku memperolehnya dari Tembung, Deli Tua dan Lubuk Pakam.

Bahan tersebut mudah didapatkannya, karena tersedia banyak. Bahkan karena sanking berlimpahnya, Mulyono sampa-sampai turut mensuplai bahan baku ke pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lainnya.

Kayu-kayu limbah tersebutpun kemudian lewat tangan kreatifnya ia sulap menjadi beragam produk berdaya guna. Mulai dari bingkai, meja, rak buku, kursi, papan tulis dan lain sebagainya.

''Kayu limbah yang diselamatkan tiap bulan bisa menjadi barang berdaya guna,'' terang Mulyono.

Pratisi UMKM di Sumut, Alwen Ong menjelaskan, hal yang paling dibutuhkan pelaku usaha lebih kepada edukasi dan bantuan promosi untuk pengembangan usaha, selain permodalan. Adapun yang menjadi masalah utama pelaku UKM yakni tidak mampu melakukan pembukuan antara modal usaha dan modal kebutuhan pribadi.

Persoalan lainnya terkait banyaknya pengusaha mikro kecil dan menengah yang memiliki produk, namun tidak mampu memasarkannya. Kepada pemerintah dan instansi lainnya yang memiliki UMKM binaan diharapkan untuk tidak setengah hati dalam melakukan pembinaan.

''Permodalan bukan menjadi persoalan utama dihadapai UMKM, melainkan edukasi berwirausaha yang benar, serta wadah promosi, baik secara offline dan online. Serta akses perizinan di pemerintahan yang harapannya dapat dipermudah,'' jelas Alwen.

Terpisah, Direktur PT Bank Sumut, Edie Rizlianto mengatakan, untuk meningkatkan pelayanan kepada nasabah, Bank Sumut sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD) siap meningkatkan kompetensi internal, dalam hal sistem teknologi karena kedepandiprediksi menjadi tulang punggung bisnis. Industri keuangan sebagai jantungnya perekonomian, maka Bank sumut sebagai salah satu dari 26 BPD di Indonesia bersama-sama dengan bank lainnya terus melakukan penataan.

Edie mengakui, bahwa pemerintah sendiri sudah menyampaikan akan memperkuat BPD di Indonesia dengan beberapa transformasi. Dimana diantaranya sistem teller, pelayanan dan tingkat kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), standar penerapannya akan sama di seluruh bank.

''Ini untuk menyiapkan diri menjadi bank yang kuat, komptetitif dan kontributif terhadap masyarakat dan kelompok usaha di daerah,'' sampai Edie.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri telah memberikan referensi tentang standar pelayanan BPD dengan mencontohkan di Jerman. Negara tersebut sukses karena pembangunan dimulai dari daerah-daerah dan support oleh bank BPD disana. Pemerintah sendiri, sesuai roadmap memasang target pada 2024 nanti, BPD dapat menjadi market leader atau menempati posisi bank terbesar kedua di Indonesia setelah bank umum.

Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi sektor usaha yang dianggap penting sebagai penggerak ekonomi karena terdapat di berbagai bidang usaha dan menyentuh kepentingan masyarakat.

Dinas Koperasi dan UMKM Sumut mencatat, total pelaku UMKM di Sumut hingga 2015 sebanyak 2,5 juta, yakni 40 persen merupakan pelaku usaha mikro, 30 persen usaha menengah dan 30 persen usaha kecil.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia Kantor Regional Sumatera Utara, angka penyaluran kredit perbankan ke UMKM hingga triwulan II 2016 sebesar Rp49,824 miliar, atau sekitar 27,7 persen dari total kredit perbankan di Sumut.

Adapun kredit ke sektor UMKM tersebut tumbuh 5,1 persen secara year on year (yoy), atau sedikit mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,6 persen secara yoy. Perlambatan terjadi untuk kredit usaha mikro dan usaha kecil, sementara kredit usaha menengah masih membaik meski pertumbuhannya masih terkontraksi.

Penulis :@rerereririri

Terima kasih telah membaca artikel Mulyono Sulap Kayu Limbah menjadi 'Gunung Emas' .
Mulyono Sulap Kayu Limbah menjadi 'Gunung Emas' Mulyono Sulap Kayu Limbah menjadi 'Gunung Emas' Reviewed by demonfajri okezone on March 11, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.