Menyambangi Rumah Singgah Anak-anak Penderita Kanker

Foto Ilustrasi. Foto Istimewa
SUMATERA UTARA - Matahari tak begitu menyengat siang itu, cahayanya terlihat berpendar di balik celah-celah dedaunan. Menyebar dan menembus ke dinding-dinding sirkulasi udara rumah.
Di rumah sederhana di tengah padatnya permukiman penduduk. Komplek Perumahan SB jalan Petunia II Lingkungan 3 Medan Tuntungan, tepatnya.

Tempat tersebut sangat hangat karena dijadikan rumah singgah bagi anak-anak penderita kanker. Tiap hari akan ada suara gelak tawa anak-anak yang terdengar begitu berisik. Namun terasa menyenangkan di tempat persinggahan sementara itu.

Rumah dengan ruangan memanjang tersebut memiliki tiga kamar, dengan tiap ruangan sudah terdapat tempat tidur sederhana, kemudian juga dilengkapi dapur.

Rumah tersebut merupakan rumah singgah yang dikelola Yayasan Ongkologi Anak Medan (YOAM), lembaga non profit yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan untuk anak-anak penderita kanker.

Setiap hari akan ada lebih dari 10 anak bersama dengan ibunya yang akan berada di rumah singgah tersebut untuk menjalani perobatan rutin di RS Pusat H Adam Malik karena lokasinya tidak begitu jauh.

Ketua Yayasan Ongkologi Anak Medan (YOAM) Rizanul Arifin, mengungkapkan kapasitas rumah singgah tersebut hanya bisa menampung untuk 10 anak dan pendamping, namun karena jumlah anak yang berkunjung terkadang lebih banyak, sehingga satu rumah bisa sampai 12 anak bersama pendamping.

YOAM, sampai Rizanul, berawal dari rasa empati kepada anak-anak penderita kanker dan keluarganya, sebagai tempat penguatan untuk tetap semangat. Sebab rata-rata yang sudah terdiagnosa positif dengan penyakit tersebut, tingkat immortalnya atau sel kankernya akan terus hidup meski seharusnya mati antara 30 hingga 40 persen.

Atas hal itulah, tempat penguatan sangat dibutuhkan, mengingat kebanyakan anak-anak dengan kanker, baru terdeteksi saat sudah dalam kondisi stadium lanjut, karena keterlambatan diagnosa.

''Padahal bila ditangani secara dini (tidak terlambat) akan mudah untuk disembuhkan, dengan tingkat keberhasilan obat bisa sampai 80 persen,'' kata Rizanul.

Rizanul menyebutkan, rata-rata penderita kanker yang dirawat di RS Adam Malik pertahunnya mencapai 3.500 orang atau 10 kasus perhari. sedangkan yang mampu didampingi YOAM hanya 100 anak pertahun. Keterbatasan dana dan kapasitas rumah singgah yang minim menjadi kendala utamanya.

Rumah singgah yang disediakan YOAM termasuk upaya untuk mengurangi gagal berobat. Sebab, jelas Rizanul, kebanyakan pasien yang akan menjalani perawatan di RS Adam Malik berasal dari luar kota. Namun dengan kondisi keuangan yang minim.

Sebab anak-anak dengan kanker di tubuhnya pada tahun pertama masih harus mondar mandir ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif dan akan menjadi berbahaya bila dibiarkan tetap berada di rumah.

Sedangkan orangtua dengan anak menderita kanker, kebanyakan kondisi keuangannya akan menjadi terganggu. Sebab harus menunggu dan menjaga selama proses perawatan, kemudian meninggalkan pekerjaan. YOAM kemudian menganjurkan bahwa saat ibu menjaga, maka ayah dapat tetap bekerja.

''Agar jumlah penderita tidak meningkat drastis, kami berharap pemerintah bersama dengan instansi terkait untuk lebih aktif lagi dalam memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang kanker dan hal-hal yang harus dilakukan atau dihindari,'' sampai Rizanul.

''Kemudian agar deteksi diagnosa tidak terlambat, tenaga medis di tingkat dasar (Puskesmas) juga harapannya dapat di tempatkan orang-orang yang memiiki kompetensi dan pengetahuan tinggi,'' sambung Rizanul.

Dokter onkologi dan spesialis anak di RS Adam Malik Medan, Prof Bidasari mengemukakan, berdasarkan data statistik di rumah sakit angka penderita kanker menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.

Peningkatan itu terjadi, bisa dipicu oleh tingkat pemahaman masyarakat semakin tinggi, kemudian memeriksakan diri, atau memang kondisi kesehatan yang kian menurun. Perkembangan kasus kanker pada anak sendiri menurut Bidasari kian bervariatif, dan hal inilah yang menjadi salah satu kendala bagi para tenaga medis untuk menegakkan diagnosa.

Sebab bervariatifnya kasus kanker pada anak, justru masih belum sejalan dengan kondisi alat medis yang memadai. Hal inilah menjadi masukan kepada pemerintah dan stakeholder terkait untuk dapat melakukan pembaharuan.

Diakui Bidasari, kebanyakan kasus kanker pada anak yang ditemui hampir 50 persen terdiagnosa dalam keadaan terlambat (stadium lanjut). Padahal kanker pada anak dibandingkan dewasa, tingkat prediksi untuk sembuhnya lebih besar, dengan syarat masih stadium awal.
''Sebagai contoh untuk penyakit kanker darah (Leukeukimia) berdasarkan kasus yang ada, tingkat kesembuhannya bisa lebih dari 30 persen,'' ujar Bidasari.

Retinoblastoma atau kanker mata kebanyakan kasus terlabat karena gejala awal. Seperi mata kucing biasa dianjurkan untuk operasi dan orang tua menolak akhirnya memakai pengobatan tradisinal dan datang dalam kodisi t=stadium lanjut.

Lalu kanker tulang yang banyak pada dewasa namun kini anak-anak dan ila diketahui pada stadium awal harus amputasi sedangkan orang tua biasanya tidak mau dan tidak sanggup, sesudah itu mereka datang dan terlambat. Yakni sudah mestastase ke paru-paru. Dan sering jadi masalah.

Bidasari pun memeta-kan, kasus kanker kebanyakan terjadi selain oleh faktor dari dalam yakni keturunan atau kelainan genetic, juga faktor dari luar. Yakni kondisi perekonomian, lingkungan dan tenaga medis turut memiliki peran yang besar.

Selain itu fasilitas kesehatan juga harapannya dapat lebih banyak, sebab selama ini pasien dengan penyakit kanker hanya dapat dirujuk ke RS Adam Malik untuk di wilayah Sumatera Utara.

Peranan pemerintah juga harapannya dapat lebih diperkuat dalam hal penyediaan alat medis yang lebih canggih, kemudian sebaran tenaga medis yang memiliki pengetahun tentang deteksi kanker di tingkat daerah sudah ada, agar saat ada pasien dengan gejala kanker bisa terdiagnosa lebih dini.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) memprediksi pada tahun 2030 akan terjadi lonjakan penderita kanker di Indonesia sampai tujuh kali lipat, dengan angka penderita kanker yang meninggal juga kian memprihatinkan.

Adapun berdasarkan riset yang dilakukan, penderita kanker serviks masih menempati kasus tertinggi, sebagai penyakit pembunuh wanita nomor satu di Indonesia. Setiap tahun tidak kurang dari 15.000 kasus kanker serviks, dan ada 40 wanita yang terdiagnosa menderita kanker serviks, 20 wanita diantaranya meninggal karena kanker serviks.

Sementara kanker payudara, merupakan penyakit dengan kasus terbanyak kedua setelah kanker serviks. Disusul kanker hati, dengan jumlah penderita nomor lima terbanyak di dunia dan menjadi penyebab kematian nomor tiga.

Sementara pada anak, leukemia merupakan jenis kanker yang paling banyak menyerang. Leukemia atau kanker darah menduduki peringkat tertinggi kasus kanker pada anak karena masih lemahnya penanganan kanker pada anak. Umumnya penderita kanker darah ditemukan pada anak berusia di bawah 15 tahun.

''Untuk memperkecil resiko kanker, sebaiknya melakuan pemeriksaan rutin bagi yang memiliki resiko karena keturunan. Kemudian terapkan pola hidup sehat seperti hindari makanan yang dibakar atau diasap, menjauhi alkohol, hindari kebiasaan merokok, konsumsi makanan kaya serat dan antioksidan, rutin olah raga dan lain sebagainya,'' pungkas Bidasari.

Penulis :@rerereririri

Terima kasih telah membaca artikel Menyambangi Rumah Singgah Anak-anak Penderita Kanker .
Menyambangi Rumah Singgah Anak-anak Penderita Kanker Menyambangi Rumah Singgah Anak-anak Penderita Kanker Reviewed by demonfajri okezone on March 18, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.