Lukisan Berbahan Baku Limbah Kertas Menembus Pasaran di Indonesia


Kerajinan berbahan baku limbah kertas.
BENGKULU - Siapa sangka limbah kertas bekas bisa disulap menjadi lukisan tiga dimensi yang memiliki nilai jual tinggi.

Seperti halnya, penggiat kerajinan Limbah Kertas Sekundang Kencana Rafflesia, milik Amir Hendi, warga Desa Imigrasi Permu Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu.

Usaha kerajinan tangan berbentuk lukisan tiga dimensi dan miniatur itu sudah digeluti, bapak empat orang anak ini sejak tahun 1986. Mulanya dirinya terinspirasi dari membuat kerajinan tangan berbentuk peta ditempat dirinya mengajar.

Terinspirasinya pembuatan kerajinan dari limbah kertas ini, juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, banyak tumpukan sampah kertas yang berserakan. Dari sana, kerajinan limbah tersebut mulai berangsur digelutinya. 

Namun, setelah beberapa lama kemudian, dirinya berkeyakinan, jika kerajinan ramah lingkungan ini dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah. Sebab, kerajinan yang dihasilakn tersebut memiliki nilai seni yang tinggi. 

Meskipun sejak tahun 1986 sudah mulai menggeluti usaha kerajinan limbah kertas, dirinya baru menseriusi usaha kerajinan tersebut tahun 2002 lalu.

Hal itu lantaran dirinya telah pensiun dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kepahiang.

''Awalnya hanya coba-coba membuat peta dari limbah kertas. Dalam pikiran saya jika usaha ini digeluti, tentu akan menghasilkan uang. Pertama saya buat peta Indonesia, patung yang semuanya berbahan baku limbah kertas,'' kata pensiunan guru salah satu SMP di Kabupaten Kepahiang ini, beberapa waktu lalu.

Suami dari Zubaidah ini mengaku, buah karya kerajinan berbahan baku limbah kertas, mulai dari kertas buku, kertas pack rokok, karpet telur dan koran itu, sudah menembus pasaran luar Provinsi Bengkulu. Seperti, pulau Kalimantan, Bangka Belitung, Pekan Baru, Sukabumi, Jawa Timur, Sumatera Barat.

''Saya membuat kerajinan tangan berbentuk lukisan ini dengan berbagai jenis lukisan tiga dimensi dan miniatur. Mulai dari, Icon Bunga Rafflesia, Bunga Bangkai, Buah naga, burung hantu, harimau, lukisan sapi yang berada di tengah sawah, topeng, serta lukisan dan miniatur lainnya,'' jelas pria kelahiran 12 April 1947 silam.

Pembuatan kerajinan ramah lingkungan itu, lanjut pria yang dinobatkan sebagai keluarga Sakinah di Kabupaten Kepahiang ini, secara tidak langsung telah menciptakan lingkungan yang bersih dan asri.

Selain itu, motivasi dalam menggeluti usaha itu juga salah satu upaya  mengurangi tingkat pengangguran di Kabupaten Kepahiang.

''Saya juga sudah menyalurkan ilmu kerajinan ini kepada remaja dan kaum Ibu Rumah Tanggga di desa-desa di Kepahiang. Setidaknya keahlian dalam membuat kerajinan dari limbah kertas ini dapat menambah penghasilan pendapatan,'' terang Amir.

Disinggung masalah proses pembuatan lukisan tiga dimensi dan miniatur, terang Amir, satu lukisan dapat diselesaikan satu hingga satu minggu, tergantung dengan ukuran lukisan yang akan dibuat. 

''Harga setiap lukisan saya ini mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp500 ribu perbuah. Kalau sebulan saya mampu meraup penghasilan sekira Rp2 juta hingga Rp3 juta,'' ungkap Amir.

Dari hasil usaha lukisan berbahan baku limbah itu, kata dia, bisa menguliahkan keempat anaknya hingga lulus strata satu atau sarjana. Sebab, dari gaji pensiunan yang ia miliki tidak mampu membiaya uang kuliah anaknya semasa itu.

''Alhamdulillah, uang hasil dari penjualan lukisan saya ini bisa membantu pembayaran uang kuliah anak saya dulu,'' aku Amir lagi.

Kerajinan yang mulai digeluti sejak 29 tahun silam ini nantinya akan berkembang pesat di lingkungan Kabupaten Kepahiang khususnya dan di seluruh kabupaten di Provinsi Bengkulu pada umumnya.

''Saya sudah memberikan pelatihan-pelatihan kepada anak-anak remaja. Tujuannya, agar kaula muda dapat memanfaatkan limbah kertas yang ada di lingkungan sekitar menjadi usaha yang bisa menghasilkan uang,'' pungkas Amir.

Lukisan Berbahan Baku Limbah Kertas Menembus Pasaran di Indonesia Lukisan Berbahan Baku Limbah Kertas Menembus Pasaran di Indonesia  Reviewed by demonfajri okezone on December 24, 2017 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.