Batik Tulis Kain Basurek Bengkulu Riwayat Mu Kini

Nji Soemaryatin pengrajin batik canting tulis asal Kota Bengkulu.
BENGKULU - Kemajuan teknologi membuat pengrajin batik basurek di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu berangsur mulai beralih menggunakan sistem handprint dan printing atau batik sablon dalam membatik. Akibatnya, pengrajin batik canting tulis dan canting cap, mulai ditinggalkan. Sehingga riwayat mu kini.  

Namun, itu tidak berlaku dengan sosok, Nji Soemaryatin. Nji adalah satu dari beberapa pengrajin batik canting tulis yang masih setia melakoni pekerjaannya, sebagai pengrajin batik basusek ciri khas Bengkulu. 

''Sudah jarang sekali sekarang menemukan pengrajin batik canting tulis di Kota Bengkulu. Saya memperkirakan sekira 3 pengrajin yang masih memiliki dapur membatik canting tulis,'' kenang Nji, beberapa waktu lalu.

''Sekarang banyak menggunakan sistem handprint dan printing atau batik sablon yang dipesan di pulau Jawa,'' sambung Nji. 

Ia menyebut, kurangnya minat dari kalangan remaja saat ini serta belum begitu mendapatkan perhatian dari pemerintah membuat kerajinan batik canting tulis, ditinggalkan. Sebab, kata dia, pada tahun 1990-an hingga saat ini hanya pelajar SMK di Kota Bengkulu yang memasukkan praktek membatik. 

Begitu juga dengan pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK), kata dia, saat ini sudah mulai berkurang untuk menekuni membatik cantik tulis tersebut. Sebab, kalangan remaja saat ini lebih memilih mencari pekerjaan lainnya yang lebih simple dan tidak menyita waktu seperti membatik.

''Dulu ada kelompok batik di Kota Bengkulu. Tapi, kelompok itu sekarang sudah mati suri. Lagian, praktek membatik hanya ada di SMK,'' sampai Nji.

Ia pun mulai berkisah. Dirinya mulai menggeluti pekerjaan ini sejak tahun 1988 silam, yang mana dirinya belajar membatik secara otodidak sewaktu dipercaya bertugas di Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Provinsi Bengkulu. 

Secara berangsur, perempuan berhijab ini mulai menekuni profesi membatik dan memperkenalkan batik basurek buah karya tangan kreatifnya ke masyarakat Bengkulu, dengan berbagai motif asli Bengkulu. Seperti, kaligrafi, selendang basurek, rembulan, aksara kaganga, bunga rafflesia, serta motif lainnya. 

Sekira tahun 1993, perempuan yang telah membatik sejak 28 tahun silam ini, kembali bercerita, jika usaha mikro kecil menengah (UMKM) sempat memperkerjakan masyarakat setempat sebanyak 25 orang, guna mengembangkan dan memenuhi order pesanan berbagai kalangan, baik dalam Kota Bengkulu maupun luar Provinsi Bengkulu serta manca negara. 

Sebab, masa itu dari tangan kreatifnya, batik tulis atau dalam bahasa Bengkulu batik basurek sudah menembus seluruh pulau di Indonesia serta mengikuti bebagai pameran. Mulai dari di Bali, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Jawa Timur, Medan Sumatera Utara, Palembang Sumatera Selatan serta provinsi lainnya di Indonesia. 

Tidak hanya itu, buah karyanya itu juga dijadikan oleh-oleh untuk dibawa ke berbagai negara. Mulai dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Iran, China, Inggris, Amerika, negara di Eropa, serta negara lainnya. Lebih mengagumkan lagi, dirinya sempat mendapatkan order pembuatan baju batik se Indonesia, dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, sekira tahun 1993-an.

''Batik Basurek Bengkulu ini dijadikan oleh-oleh ketika pergi keluar negeri atau ke provinsi yang ada di Indonesia,'' sampai Nji. 

''Penghasilan kita saat itu bisa mencapai Rp30 juta per bulan,'' sambung Nji, sembari mengenang.  

Sayangnya, pada tahun 1997-an semua pekerja yang sempat membantu dirinya terpaksa diistirahatkan. Sebab, kala itu Indonesia terkena dampak krisis moneter dan perekonomian yang sulit. Tidak sampai disitu mulai berkurangnya pesanan dan orderan masih berlanjut hingga tahun 2000-an. 

Tahun itu tepatnya bulan Juni 2000, ''Bumi Rafflesia'', dilanda gempa besar dengan kekuatan 7,3 SR mengguncang Bengkulu. Sehingga minat dan pesanan batik pun berangsur berkurang. 

Meskipun demikian, kata Nji, dirinya tidak patah semangat untuk terus mengembangkan dan memperkenalkan batik basurek asli Bengkulu. Sebab, bersama anak-anaknya dirinya terus melakoni pekerjaan membatik canting tulis tersebut hingga saat ini. Hal tersebut, pesanan dan orderan dari berbagai kalangan masih ada meskipun tidak begitu banyak dikala tahun 1993-an. 

Terlebih, kerajinan batik tulis perempuan yang bermukim di Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu itu, juga sempat dikenakan Prediden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono beserta istri Ani Yudhoyono, saat membuka MTQ Nasional ke XXIII, tahun 2010 di Kota Bengkulu. 

Bahkan, aku dia, anak Presiden RI kedua Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau sering dikenal mbak Tutut juga mengenakan pakaian batik basurek asal Bengkulu. 

Tidak hanya itu, pada tahun 2016 ini, batik basurek buah karyanya pun dijadikan oleh-oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu untuk diberikan kepada Menteri yang mengunjungi ''Bumi Rafflesia''.  

''Seingat saya batik basurek yang dikenakan Presiden keenam RI SBY dan istri warna merah marun. Itu dipesan oleh Danrem 041/Gamas Bengkulu kala itu,'' ulas Nji. 

Disinggung proses berapa lama pembuatan batik basurek, Nji menyampaikan, tidak dapat dipastikan secara jelas. Sebab, kata dia, pembuatan batik basurek dengan cara canting tulis tersebut cukup menyita waktu lama, kisaran 5 hari bahkan 3 bulan untuk diatas bahan 2 meter x 2,5 meter. 

Pembuatan batik basurek, sampai dia, menggunakan berbagai bahan. Mulai dari bahan katun Jepang, rayon, sutra, kantun dobi, prima halus, serta bahan lainnya. Namun, lanjut dia, harga jual dari batik basurek tersebut, bervariasi. Dari Rp200 ribu, Rp1,5 hingga Rp3 juta, untuk satu pakaian sudah jadi atau telah dijahit baik lengan pendek maupun lengan panjang. 

Saat ini, aku dia, orderan batik di tempatnya mulai berkurang, ditambah sudah adanya berbagai toko batik di Kota Bengkulu, yang menjual berbagai jenis motif batik Bengkulu. Meski begitu, terang dia, penghasilannya saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. 

''Masih ada juga yang pesan tapi tidak banyak. Sebulan dapat-lah sekira Rp5 juta,'' aku Nji. 

Lantas apa yang membedakan batik basurek khas Bengkulu, dengan batik dari provinsi lainnya, ia menyebut, semua batik sama. Namun, setiap daerah maupun provinsi memiliki ciri khas tersendiri.  

''yang membedakan batik Bengkulu dengan batik provinsi lainnya hanya terdapat pada motifnya saja. Sementara, bahan dan jenis bahan tetap sama. ya, kalau di Bengkulu motifnya kaligrafi, selendang basurek, rembulan, aksara kaganga, bunga rafflesia,'' jelas Nji.  

Dirinya berharap, batik canting tulis dapat terus dilestarikan masyarakat Bengkulu, terutama kepada kaula muda di Bengkulu. 

Misalnya, kata dia, pemda Kota atau pemda kabupaten bisa memasukkan mata pelajaran muatan lokal, membatik. Sehingga, terang Nji, batik basurek tidak luntur oleh perkembangan zaman.  

‘’Harus ada upaya pelestarian kerajinan batik basurek. Dan dukungan moril dan materil dari pemerintah, agar UMKM batik di Kota Bengkulu khususnya dapat bangkit lagi,’’ harap Nji. 

Terima kasih telah membaca artikel Batik Tulis Kain Basurek Bengkulu Riwayat Mu Kini.
Batik Tulis Kain Basurek Bengkulu Riwayat Mu Kini Batik Tulis Kain Basurek Bengkulu Riwayat Mu Kini Reviewed by demonfajri okezone on October 15, 2017 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.