Menyambangi Kampung 'Orang Mini' di 'Bumi Raffesia'

Orang Mini di Kabupaten Bengkulu Selatan 
BENGKULU - ''Tubuh kami seperti ini (Cebol, kerdil, mini) merupakan keturunan secara turun menurun sejak nenek moyang kami dahulu,'' itulan sepenggal ucapan salah satu warga Desa Nanti Agung, Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, Yusnadi Irianto, yang memiliki tubuh 'mini', beberapa waktu lalu.   

''orang mini'' bukan hanya ditemukan di Bone, Sulawesi Selatan, Kerinci Sebelat, Jambi dan Sumatera Barat. Namun, di tanah 'Bumi Rafflesia', terdapat satu kampung setara dengan satu kecamatan yang dihuni oleh 'orang mini'. Jumlahnya, mencapai puluhan bahkan mencapai ratusan orang.

Puluhan orang mini itu berada di Kecamatan Kedurang, atau berjarak sekira 170 kilometer (KM) dari Kota Bengkulu. Untuk menuju kampung itu dapat ditempuh melalui jalur darat. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat. 

Kecamatan yang memiliki 19 desa dengan jumlah penduduk mencapai ribuan jiwa ini, setiap desa dihuni oleh 'orang mini' dari 2 orang hingga 3 orang. Namun, desa yang terbanyak dihuni oleh 'orang mini' terdapat di Desa Palang Siring dengan orang mini mencapai sekira 15 orang. Meskipun demikian, keberadaan orang mini di wilayah itu tetap berbaur dengan masyarakat lainnya.  
    
''Setiap desa di kecamatan kedurang ada 2 sampai 3 orang yang memiliki tubuh 'mini'. Secara keseluruhan 'orang mini' di sini kisaran puluhan bahkan bisa mencapai ratusan orang,'' kata ketua kelompok perkumpulan orang cebol 'Kedurang Permai', Yusnadi Irianto, beberapa waktu lalu. 

Tidak ada catatan sejarah yang pasti tentang asal muasal puluhan orang mini di satu kecamatan ini. Namun, dari informasi di lapangan orang mini ini berasal dari keturunan suku pasma, Provinsi Sumatera Selatan, yang secara turun menurun berkembang biak. Dimana zaman itu nenek moyang mereka merantau ke Kecamatan Kedurang.

Yusnadi mengingat, dari cerita orangtua, nenek serta nenek moyang terdahulu, tubuh mini yang dialami dirinya bersama puluhan orang lainnya merupakan faktor keturunan gen dari garis tangan ibu kandung. 


Orang Mini Tidak Ada yang Perempuan!
Pria yang memiliki tinggi sekira 140 cm ini menambahkan, orang mini di daerah ini tidak ada yang berjenis kelamin perempuan. Namun, kata dia, secara keseluruhan orang bertubuh mini berjenis kelamin pria. Disinggung masalah, keturunan ke berapa orang mini di kecamatan itu, Yusnadi, tidak mengetahui secara persis. Sebab, di orang ini kecamatan itu sudah ada sejak dahulu.

''Orang bertubuh mini semuanya pria. Tidak ada yang perempuan. Kami ini keturunan dari gen ibu,'' jelas pria jebolan mahasiswa IAIN tahun 2003 silam itu.

Orang mini daerah ini, sampai Yusnadi, ada di Desa Tanjung Alam, Nanti Agung, Karang Agung, Bumi Agung, Keban Agung 3, Kebang Agung 2, Palang Siring. Dimana orang mini disetiap desa tersebut telah lanjut usia dan telah menjalani batera rumah tangga atau berkeluarga.  

Tinggi badan orang mini, lanjut dia, tertinggi sekira 143 cm dan terpendek kisaran 110 cm. Meskipun mengalami kekurangan dengan fisik yang tidak memadai, terang pria Sarjana Hukum Islam ini, setiap orang mini memiliki kepandaian masing-masing, yang tidak ingin tergantung dengan orangtua atau warga sekitar. 

Sebab, sambung dia, orang mini masih mampu berusaha dan berkreatifitas. Mulai dari menjahit, main musik organ tunggal. Bahkan, mereka juga bisa mengolah lahan pertanian.  Seperti, menggarap lahan persawahan, palawija serta mengolah lahan perkebunan, kopi serta lainnya. 

''Kita punya kreativitas masing-masing. Jadi, kita tidak ada tergantung dengan orang lain,'' sampai pria pemain alat musik organ tunggal ini. 


Pendidikan Orang Mini Itu Hingga Perguruan Tinggi 
Dari berbagai desa yang dihuni oleh orang mini, beber Yusnadi, rata-rata telah mengenyam jenjang pendidikan hingga Strata Satu (S1) dari berbagai perguruan tinggi (PT) di Bengkulu. Bahkan, tambah dia, salah satu pria bertubuh mini, dipercaya memimpin desa dengan menjabat sebagai kepala desa (Kades). Yakni, Kades Karang Agung, bernama Urip Nugroho, dengan memiliki tinggi sekira 120 cm. 

Prestasi lainnya, sampai Yusnadi, orang mini juga dipercaya oleh masyarakat setempat menjadi Sekretaris Desa (Sekdes) di Desa Keban Agung 3, atas nama Dodi Karno. Lebih menariknya lagi, sosok Dodi Karno, telah diangkat menjadi abdi negara atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). 

''Dengan berbagai kekurangan, ada juga yang dipercaya menjadi kades, sekdes di desa masing-masing,'' ungkap Yusnadi. 

Disinggung masalah buah hati hasil pernikahan dengan sang istri, suami Sri Azizah ini menjelaskan, pria bertubuh mini yang sudah menjalani batera rumah tangga anak dari pernikahan sama sekali tidak mengikuti gen sang ayah. 

Melainkan, kata dia, buah hati mereka tumbuh sempurna. Namun, cerita dia, gen keturunan mini nantinya akan turun kepada anak dari adik atau kakak kandung mereka yang perempuan dan tidak akan turun kepada mereka kembali. 

''Anak saya yang pertama dan anak kedua yang kembar semuanya berjenis kelamin perempuan. Mereka normal dan tidak mengikuti jejak saya,'' imbuh pria yang juga berprofesi sebagai petani sawah ini.(**) 
Terima kasih telah membaca artikel Menyambangi Kampung 'Orang Mini' di 'Bumi Raffesia' .
Menyambangi Kampung 'Orang Mini' di 'Bumi Raffesia' Menyambangi Kampung 'Orang Mini' di 'Bumi Raffesia'  Reviewed by demonfajri okezone on April 30, 2017 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.